Biodiesel, HVO, dan Bioavtur: Apa Bedanya?
FAME, green diesel (HVO), dan SAF sama-sama bisa berasal dari sawit, tetapi proses dan karakternya berbeda. Ini perbandingannya.
Daftar isi (5 bagian)
Istilah bahan bakar nabati kini makin beragam: biodiesel, green diesel, HVO, renewable diesel, bioavtur, SAF. Semuanya bisa berasal dari sawit, tetapi proses dan karakternya berbeda. Memahami perbedaannya membantu membaca arah dekarbonisasi transportasi Indonesia.
Biodiesel (FAME): andalan saat ini
Biodiesel yang dicampurkan menjadi B40 dan B50 adalah FAME, hasil transesterifikasi minyak nabati dengan metanol. Prosesnya relatif sederhana dan teknologinya matang, sehingga dapat diproduksi massal oleh puluhan badan usaha di Indonesia. Karena molekulnya masih mengandung oksigen (ester), FAME punya karakter berbeda dari solar fosil—itulah sebabnya kadar campuran dinaikkan bertahap dan disertai standar mutu yang ketat.
HVO / green diesel: "solar" dari minyak nabati
HVO (Hydrotreated Vegetable Oil), disebut juga renewable diesel atau green diesel, dibuat dengan cara berbeda: minyak nabati direaksikan dengan hidrogen bertekanan tinggi menggunakan katalis (hidrogenasi dan hydrocracking). Oksigen dihilangkan sehingga yang tersisa adalah rantai hidrokarbon yang secara kimia sangat mirip solar fosil.
- Keunggulan: bersifat drop-in—dapat dipakai hingga 100% tanpa modifikasi mesin—stabil disimpan, dan memiliki angka setana tinggi.
- Tantangan: butuh kilang khusus, hidrogen, dan investasi yang jauh lebih besar dibanding pabrik FAME.
Di Indonesia, Pertamina mengembangkan HVO melalui kilang hijau (green refinery) di Cilacap dan Dumai, dengan produk yang dipasarkan sebagai Pertamina Renewable Diesel berbahan baku minyak sawit olahan (RBDPO).
Bioavtur / SAF: menghijaukan penerbangan
SAF (Sustainable Aviation Fuel) atau bioavtur adalah bahan bakar jet dari sumber terbarukan. Pertamina mengembangkan Bioavtur J2.4 di Kilang Cilacap—berisi 2,4% komponen nabati dari minyak inti sawit olahan (RBDPKO). Bioavtur ini telah melalui uji darat dan uji terbang, termasuk pengujian pada mesin CFM56-7B di Bandara Soekarno-Hatta pada 27 Oktober 2023. Pertamina juga menyiapkan pemanfaatan minyak jelantah (UCO) sebagai bahan baku SAF dan HVO pada pengembangan kilang berikutnya.
Perbandingan singkat
| Aspek | Biodiesel (FAME) | HVO / Green diesel | Bioavtur / SAF |
|---|---|---|---|
| Proses | Transesterifikasi dengan metanol | Hidroproses dengan hidrogen | Hidroproses + fraksinasi ke spesifikasi avtur |
| Kimia | Metil ester (mengandung oksigen) | Hidrokarbon (parafin) | Hidrokarbon setara avtur |
| Pemakaian | Dicampur dengan solar (B40, B50) | Dicampur atau 100% | Dicampur dengan avtur fosil |
| Skala di Indonesia | Massal, mandatori nasional | Tahap awal, kilang Pertamina | Uji coba & pengembangan |
Saling melengkapi, bukan saling menggantikan
FAME tetap menjadi tulang punggung karena skala dan biayanya, sementara HVO dan SAF membuka jalan bagi sektor yang membutuhkan bahan bakar drop-in berkualitas tinggi seperti penerbangan dan pasar ekspor. Di sisi bensin, pemerintah juga mendorong bioetanol dari tebu, jagung, dan ubi kayu. Ketiganya membentuk portofolio bahan bakar nabati menuju target net zero emission.
Sumber & Referensi
- Bioenergy International, "Pertamina trials Bioavtur J2.4 – Indonesia's first home-grown SAF"
- Indonesia Business Post, "Kilang Pertamina Internasional spearheads green refinery expansion for enhanced biofuel production" (2023)
- Biofuels Digest, "Indonesia to boost SAF and HVO production from UCO"
- Kompas.com, "Ada Perang, Kementan Kebut Hilirisasi untuk Biodiesel dan Etanol" (30/3/2026)