Pertamina Kantongi Kontrak SAF 7.000 KL dari Cathay Pacific, Siapkan Kilang Hayati US$1,1 Miliar
Pertamina menyatakan menjual sekitar 7.000 KL SAF berbahan campuran minyak jelantah ke Cathay Pacific pada 2026, sembari menyiapkan biorefinery SAF khusus di Cilacap.
Daftar isi (3 bagian)
Jakarta — PT Pertamina (Persero) menyatakan telah mengantongi kontrak penjualan sustainable aviation fuel (SAF) sekitar 7.000 kiloliter kepada maskapai Cathay Pacific untuk 2026. SAF tersebut diproduksi dengan campuran bahan baku minyak jelantah (used cooking oil/UCO).
Informasi ini disampaikan SVP Business Sustainability Pertamina Wenny Ipmawan dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026), sebagaimana dilaporkan Kontan dan Warta Ekonomi. Menurut Wenny, kontrak tersebut menjadi salah satu tanda mulai terbentuknya pasar SAF produksi dalam negeri, sementara mandatori SAF di Indonesia sendiri diharapkan berlaku mulai 2027 (Wenny menyatakan berharap 2027 sudah diberlakukan; rencana bioavtur 1% dibahas di artikel ini).
Dari ko-pemrosesan ke kilang hayati khusus
Saat ini Pertamina memproduksi SAF melalui ko-pemrosesan (co-processing) di kilang yang sudah ada, yaitu mencampurkan bahan baku nabati ke dalam proses pengolahan avtur di Kilang Cilacap. Produksi komersial SAF berbasis UCO di Cilacap dilaporkan sudah berjalan sejak awal 2026, dan Pertamina menyatakan produknya memenuhi standar CORSIA Eligible Fuel—syarat agar SAF diakui dalam skema pengurangan emisi penerbangan internasional ICAO.
Ke depan, Pertamina menyiapkan kilang hayati (biorefinery) khusus SAF di kawasan Kilang Cilacap dengan nilai investasi sekitar US$1,1 miliar. Fasilitas ini diproyeksikan beroperasi pada September 2029 dengan kapasitas hingga sekitar 860 kiloliter per hari, atau sekitar 288 ribu kiloliter per tahun. Pertamina juga memperluas sertifikasi keberlanjutan ISCC untuk rantai pasok SAF di sejumlah lokasi, termasuk terminal avtur di Surabaya.
Minyak jelantah jadi komoditas
Pemilihan UCO sebagai bahan baku utama SAF bukan kebetulan. Pasar SAF global—terutama Eropa—menilai bahan baku limbah memiliki risiko keberlanjutan lebih rendah dibanding minyak nabati segar. Laporan EASA menunjukkan sekitar 80% SAF yang dipasok di bandara Uni Eropa pada 2025 berbahan baku minyak jelantah. Bagi Indonesia, ini membuka peluang mengubah limbah rumah tangga dan industri pangan menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi—sekaligus menuntut sistem pengumpulan dan ketertelusuran yang andal.
Catatan
Informasi kontrak ini berasal dari pihak Pertamina; hingga berita ini ditulis, Media Biodiesel belum menemukan konfirmasi terpisah dari Cathay Pacific mengenai volume tersebut. Pertamina dan Cathay Pacific sebelumnya telah menjajaki kerja sama pengembangan SAF sejak November 2025 (Quantum Commodity Intelligence). Baca juga: Biodiesel, HVO, dan Bioavtur: Apa Bedanya?
Sumber & Referensi
- Kontan, "Pertamina Kantongi Kontrak SAF 7.000 KL dari Cathay Pacific" (30/9/2026) — kontan.co.id
- Warta Ekonomi, "Cathay Pacific Hong Kong Serap SAF Pertamina, Kontrak 7.000 KL Dikunci 2026" (2026) — wartaekonomi.co.id
- Warta Ekonomi, "Siapkan Investasi US$1,1 Miliar, Pertamina Bangun Biorefinery Cilacap Khusus SAF Minyak Jelantah" (2026) — wartaekonomi.co.id
- CNBC Indonesia, "Pertamina Perluas Layanan Avtur Ramah Lingkungan SAF Untuk Penerbangan" (2/9/2026) — cnbcindonesia.com
- CNBC Indonesia, "Pertamina Mulai Jual Bioavtur dari Minyak Jelantah Untuk Pesawat" (16/4/2026) — cnbcindonesia.com
- EASA, "EU sustainable aviation fuel supply exceeds 2025 ReFuelEU Aviation target" (17/9/2026) — easa.europa.eu