Krisis Solar Eropa, Macron Desak Uni Eropa Naikkan Campuran Biodiesel dari B7 ke B10
Macron meminta Komisi Eropa melonggarkan standar bahan bakar, termasuk menaikkan batas biodiesel ke B10. Industri biodiesel Eropa menyambut, Komisi masih menimbang.
Daftar isi (3 bagian)
Brussel — Krisis pasokan solar di Eropa membuka kembali perdebatan soal batas campuran biodiesel. Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta Komisi Eropa melonggarkan sementara standar mutu bahan bakar, termasuk menaikkan batas campuran biodiesel dari B7 menjadi B10, demi menambah pasokan dan meredam harga di SPBU.
Permintaan itu disampaikan Macron melalui surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada 18 September 2026, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, Rigzone, dan sejumlah media pada 21–22 September. Selain campuran biodiesel, Macron meminta pelonggaran sementara spesifikasi bahan bakar seperti densitas, batas penguapan, dan persyaratan desulfurisasi—yang menurut estimasi dapat meningkatkan output kilang sekitar 5–20%, tergantung kilangnya. Ia juga meminta penundaan satu tahun atas kewajiban pengukuran dan pengendalian metana bagi importir yang dijadwalkan berlaku 1 Januari 2027.
Apa arti B7 ke B10 di Eropa
Standar solar Eropa saat ini umumnya membatasi kandungan biodiesel (FAME) hingga 7% atau B7, sementara standar B10 memungkinkan hingga 10%. Dengan B10, distributor dapat memakai solar berkandungan 10% biodiesel sehingga lebih leluasa mengamankan pasokan. Menurut European Biodiesel Board (EBB), kenaikan ke B10 berarti penggunaan solar fosil langsung berkurang sekitar 3%.
Juru bicara Komisi Eropa mengonfirmasi surat itu telah diterima dan akan dibalas "pada waktunya" (aa.com.tr); belum ada keputusan resmi mengenai B10. Menurut laporan media, Komisi juga merespons bahwa potensi kekurangan pasokan di negara-negara anggota "sangat menjadi prioritas," dan isu ini akan dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi bersama industri dan negara anggota. Komisi juga mencatat B10 memiliki kandungan energi sedikit lebih rendah sehingga konsumsi bahan bakar bisa naik sangat kecil. Persetujuan produsen kendaraan tetap menjadi prasyarat; Komisi perlu bekerja sama dengan industri otomotif untuk menentukan standar mana yang aman dilonggarkan.
Industri biodiesel Eropa menyambut
"EBB secara konsisten mendorong B10 dan campuran FAME serta HVO yang lebih tinggi," kata Sekretaris Jenderal EBB Xavier Noyon. "Pembatasan yang lebih sedikit berarti dekarbonisasi yang lebih cepat, dan sektor biofuel Eropa siap memenuhinya." Ia menambahkan, "Kami membutuhkan sinyal yang jelas dari Komisi Eropa." EBB merujuk studi dan daftar persetujuan AGQM yang menunjukkan banyak kendaraan komersial dan kapal perairan darat sudah siap memakai campuran biodiesel tinggi.
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa pelonggaran batas sulfur dapat menambah fleksibilitas kilang, tetapi juga berpotensi meningkatkan polusi.
Perspektif Indonesia
Perdebatan B7 versus B10 di Eropa memperlihatkan betapa jauhnya posisi Indonesia: Indonesia telah melewati B10 pada 2013 dan kini menerapkan B50 secara penuh. Bagi industri sawit, sikap Eropa tetap penting. Uni Eropa membatasi biofuel berbasis bahan baku berisiko tinggi terhadap perubahan penggunaan lahan, termasuk sawit, dalam kerangka energi terbarukannya. Artinya, kenaikan campuran di Eropa tidak otomatis membuka pasar bagi biodiesel sawit—permintaan tambahan lebih mungkin diisi biodiesel dari rapeseed, minyak jelantah, dan HVO.
Sumber & Referensi
- European Biodiesel Board, "French President Emmanuel Macron wants EU to act on fuel availability and prices at the pump by easing biofuel blending limits" (22/9/2026) — ebb-eu.org
- Bloomberg, "Macron Urges EU to Relax Diesel Rules to Ease Supply Crisis" (22/9/2026) — bloomberg.com
- Rigzone, "Macron Urges EU to Relax Diesel Rules" (22/9/2026) — rigzone.com
- Anadolu/aNews, "Macron urges EU to ease fuel quality standards amid high energy costs" (22/9/2026) — anews.com.tr