Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 penuh
Internasional

Pakar ITS: Diplomasi Energi Bahlil ke AS dan Rusia Krusial, tapi Harus Dibarengi Lifting dan B50

Pakar energi ITS Ary Bachtiar menilai diplomasi energi Menteri ESDM dengan AS dan Rusia penting untuk pasokan jangka pendek, namun perlu ditopang peningkatan lifting, modernisasi kilang, serta B50 dan E50.

Kilang minyak saat senja dengan tangki penyimpanan dan menara proses
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Jakarta — Upaya diplomasi energi yang dijalankan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, dinilai pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai langkah penting untuk menjaga pasokan minyak nasional. Namun, menurutnya, diplomasi saja tidak cukup tanpa penguatan produksi dalam negeri dan bahan bakar nabati.

Penilaian pakar ITS

Pakar energi ITS Ary Bachtiar menyebut diplomasi tersebut sebagai "langkah taktis jangka pendek yang sangat krusial", seperti dikutip RMOL. Fokusnya adalah memastikan ketersediaan fisik minyak sekaligus menjaga kestabilan harga di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Ia menilai pemerintah perlu bergerak cepat mencari minyak mentah dengan nilai keekonomian terbaik dari berbagai negara. Tujuannya agar kilang dalam negeri, seperti Cilacap, Balongan, dan Balikpapan, tetap memperoleh pasokan bahan baku yang memadai.

Diplomasi harus berjalan bersama produksi dan biofuel

Menurut Ary, langkah jangka pendek itu perlu dibarengi upaya meningkatkan produksi minyak domestik melalui lifting, serta pengembangan bahan bakar nabati lewat program B50 dan E50. Kombinasi tersebut dipandang dapat menjawab kebutuhan pasokan hari ini sekaligus membangun kemandirian energi jangka panjang.

  • Percepatan modernisasi kilang agar kapasitas pengolahan lebih optimal.
  • Perbaikan tata kelola hulu minyak dan gas untuk menekan ketergantungan impor secara bertahap.
  • Pemanfaatan sumber daya dalam negeri, mulai dari kelapa sawit, tebu, hingga singkong, sebagai bahan baku biodiesel dan bioetanol.

Ary mengingatkan bahwa pelaksanaan program biofuel harus memperhatikan kesiapan industri, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan.

Hilirisasi dan satu komando

Ary juga menyoroti keterpaduan urusan ESDM dengan agenda hilirisasi di bawah satu koordinasi. Menurutnya, pendekatan itu dapat membangun rantai nilai dari penambangan hingga produk bernilai tambah di dalam negeri. Pengolahan gas bumi dan batu bara di dalam negeri pun dinilai bisa mengurangi impor produk jadi.

Latar pernyataan Bahlil

Penilaian itu muncul setelah Bahlil berbicara dalam Investor Daily Summit 2026 pada Rabu (7/10/2026). Ia menyatakan ketidakpastian geopolitik dirasakan hampir seluruh dunia, bukan hanya negara yang terlibat langsung dalam konflik, dan dampaknya merambat ke Indonesia lewat rantai pasok industri serta harga BBM. Menurut Bahlil, ia terus berkomunikasi dengan kementerian energi di banyak negara, tetapi belum ada yang bisa memastikan kapan konflik berakhir, sebagaimana dilaporkan RMOL dan Metro TV.

Dalam konteks biodiesel, program B50 yang kini berjalan ditujukan antara lain untuk menghentikan impor solar sekitar 3–4 juta kiloliter per tahun. Perkembangannya dapat dibaca di Penyaluran Biodiesel Capai 10,69 Juta KL Menjelang B50 Penuh.

Sumber & Referensi

  • RMOL, "Pakar Energi ITS Nilai Diplomasi Bahlil ke AS dan Rusia Strategis untuk Jaga Pasokan Minyak" (9/10/2026) — rmol.id
  • Metro TV News, "Diplomasi Jaga Ketahanan Energi Nasional" (9/10/2026) — metrotvnews.com