Senin, 2 November 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Kebijakan

Penyaluran Biodiesel Kuartal I 2020 Capai 2,17 Juta kL saat Pandemi

ESDM mencatat penyaluran biodiesel Januari–Maret 2020 sebesar 2,17 juta kL, atau 90,4% dari pesanan, ketika permintaan B30 melemah.

Ilustrasi terminal penyimpanan dan truk tangki biodiesel saat cuaca mendung
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Penyaluran biodiesel Indonesia pada kuartal I 2020 mencapai 2,17 juta kiloliter (kL), atau 90,4% dari permintaan pembelian sekitar 2,4 juta kL. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan angka itu pada 23 April 2020, ketika pandemi Covid-19 mulai menekan permintaan bahan bakar campuran B30. Data tersebut adalah volume biodiesel yang disalurkan, bukan total volume solar B30 yang dijual kepada konsumen.

Realisasi tiga bulan pertama di bawah pesanan

Menurut siaran pers Kementerian ESDM, Direktur Konservasi Energi Hariyanto menyampaikan perkembangan tersebut dalam diskusi virtual mengenai dampak pandemi pada subsektor ketenagalistrikan dan energi terbarukan yang digelar Institute for Essential Services Reform (IESR) pada 21 April. Ia mengaitkan selisih antara realisasi dan permintaan pembelian atau purchase order (PO) dengan turunnya permintaan B30. Dalam berita yang terbit pada hari pengumuman itu, Katadata juga mencatat penjelasan Hariyanto bahwa penurunan permintaan campuran tersebut langsung mengurangi pemakaian biodiesel.

B30 merupakan campuran biodiesel 30% dengan bahan bakar minyak jenis solar. Karena itu, angka 2,17 juta kL merujuk pada komponen biodiesel yang dilaporkan tersalur sepanjang Januari–Maret, bukan ukuran keseluruhan pasar solar. Begitu pula PO sekitar 2,4 juta kL adalah pembanding untuk penyaluran biodiesel dalam laporan ESDM; angka itu tidak boleh dibaca sebagai volume B30 di pompa.

Keterangan pemerintah ini menunjukkan keterkaitan antara kebijakan campuran wajib dan permintaan bahan bakar yang mendasarinya. Mandatori B30 tetap menjadi kerangka program, tetapi volume biodiesel yang benar-benar tersalur dapat berbeda dari pesanan ketika permintaan B30 melemah. Angka 90,4% menyatakan tingkat realisasi terhadap PO, bukan persentase biodiesel dalam tiap liter B30; kadar campuran B30 adalah 30%.

Februari naik, Maret berbalik turun

ESDM merinci penyaluran Januari sebesar 699,5 ribu kL dibandingkan PO 789,64 ribu kL. Pada Februari, realisasinya naik menjadi 756,96 ribu kL dengan PO 799,3 ribu kL. Namun, pada Maret volume yang tersalur turun menjadi 713,86 ribu kL, sementara PO bulan tersebut mencapai 809,95 ribu kL. Polanya bukan penurunan terus-menerus sejak awal tahun: Februari sempat lebih tinggi daripada Januari sebelum realisasi kembali melemah pada Maret.

Baik siaran pers ESDM maupun laporan Katadata memuat rincian bulanan tersebut. Perbandingan pentingnya adalah volume aktual terhadap PO pada periode yang sama, bukan menyamakan perubahan antarbulan dengan perubahan target tahunan. Dalam angka yang diumumkan pada 23 April, PO Maret masih lebih tinggi daripada Februari, sedangkan realisasi Maret justru lebih rendah. Kondisi itu membantu menjelaskan mengapa tingkat penyaluran kuartal pertama berada di bawah pesanan.

Hariyanto menghubungkan pelemahan permintaan B30 dengan pandemi. Akan tetapi, data tiga bulan ini sendiri tidak memisahkan berapa besar pengaruh masing-masing pembatasan aktivitas, konsumsi solar menurut sektor, atau kendala distribusi. Karena sumber yang tersedia tidak menyajikan pemecahan tersebut, penurunan Maret tidak dapat diatribusikan secara kuantitatif pada satu faktor tertentu. Yang tercatat adalah hubungan antara menurunnya permintaan B30 dan realisasi penyaluran biodiesel menurut penjelasan pejabat ESDM.

Berbeda dari tren sebelum pandemi

Sebagai latar, ESDM menyebut konsumsi biodiesel pada 2017 sebesar 2,37 juta kL dan pada 2018 sebesar 3,55 juta kL. Perluasan insentif B20 ke sektor non-PSO disebut ikut mendorong kenaikan tersebut. Pada 2019, konsumsi mencapai 6,37 juta kL; angka itu belum memasukkan tambahan kebutuhan uji coba B30 pada penghujung tahun. Katadata juga mengutip rangkaian angka historis yang sama dalam laporannya pada 23 April.

Perbandingan ini memberi konteks bagi awal penerapan B30, tetapi angka kuartal I 2020 tidak sepadan langsung dengan angka konsumsi setahun penuh pada 2019. Mengalikan realisasi tiga bulan untuk menyimpulkan hasil akhir tahun akan mengabaikan perubahan permintaan di bulan-bulan berikutnya, yang belum diketahui pada tanggal artikel ini. Laporan 23 April hanya memberi gambaran sampai akhir Maret: biodiesel tetap tersalur dalam jumlah besar, namun belum memenuhi seluruh PO kuartal tersebut.

Bagi pembaca yang menelusuri sejarah mandatori, titik pentingnya adalah perbedaan antara kebijakan kadar campuran dan volume penyaluran nyata. B30 menetapkan komposisi dalam solar campuran; realisasi 2,17 juta kL mengukur biodiesel yang disalurkan dalam tiga bulan pertama. Pada awal pandemi, kedua ukuran itu perlu dibaca terpisah agar ketercapaian program tidak disalahartikan sebagai perubahan kadar B30 atau sebagai penghentian mandatori.

Sumber & Referensi