BRIN Ingatkan Risiko Air dan Sludge pada B50, Pengguna Diminta Perketat Perawatan
Biodiesel yang mudah menyerap air berisiko memicu korosi dan sludge. BRIN menyarankan uji mutu pemasok, sementara ESDM menyebut uji jalan aman dan keluhan pengguna masih dicatat.
Daftar isi (3 bagian)
Jakarta — Seiring berlakunya B50 di seluruh SPBU sejak 1 Oktober 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa campuran biodiesel 50% membawa risiko teknis yang berbeda dari solar murni. Pengguna, terutama yang menyimpan bahan bakar dalam jumlah besar, diminta memperketat penerimaan, penyimpanan, dan perawatan.
Sifat higroskopis jadi sumber masalah
Koordinator Kelompok Riset dan Pengembangan Biofuel BRIN, Maharani Dewi Solikhah, menjelaskan hal itu dalam diskusi tentang dampak dan solusi pemakaian biosolar B50. Menurutnya, komponen FAME mudah menyerap air. Kelembapan yang terserap dapat memicu pertumbuhan mikroba, korosi, dan endapan lumpur (sludge) yang berpotensi menyumbat filter bahan bakar.
Paparan udara dan air yang berlangsung terus-menerus juga mempercepat oksidasi. Hasilnya berupa senyawa asam, deposit polimer, dan sludge. Karena berbentuk ester, FAME lebih rentan terdegradasi, dan nilai kalor B50 lebih rendah dibanding solar. Di sisi lain, BRIN mencatat biodiesel Indonesia yang telah dimurnikan sesuai ketentuan Kementerian ESDM memiliki stabilitas oksidasi di atas 13 jam, serta sebagai bahan bakar beroksigen dapat menghasilkan emisi yang lebih baik.
BRIN juga menyoroti rantai distribusi yang panjang di negara kepulauan, mulai dari truk, kapal, pipa, hingga kereta. Penanganan yang kurang cermat di salah satu mata rantai dapat menurunkan mutu sebelum bahan bakar sampai ke pengguna. Selain itu, sifat pelarut biodiesel dapat melepaskan endapan lama di jalur bahan bakar, yang kemudian terkumpul di filter.
Saran bagi pengguna
- Perketat prosedur penerimaan bahan bakar dan minta Laporan Hasil Uji (LHU) dari pemasok.
- Lakukan perawatan preventif pada sistem penyimpanan.
- Pastikan material tangki kompatibel dengan biodiesel agar tidak terjadi reaksi korosif.
- Periksa kesesuaian kandungan FAME dengan spesifikasi.
Spesifikasi B50 sendiri disebut lebih ketat daripada B40: angka setana lebih tinggi, kadar air maksimum lebih rendah, serta kriteria kebersihan dan partikulat lebih ketat. Panduan teknis penanganan dan penyimpanan disusun BRIN bersama Kementerian ESDM; versi B40 sudah dapat diunduh, sedangkan versi B50 masih menunggu persetujuan. Pembahasan standar mutu bisa dibaca di Standar Mutu Biodiesel.
Klaim pemerintah dan keluhan pengguna
Pemerintah menyampaikan hasil yang lebih menenangkan. Dalam rapat dengan Komisi XII DPR pada 8 September 2026, Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut uji jalan hingga 50.000 km. Menurut laporan detikOto, filter yang lazimnya diganti sekitar 10.000 km tidak perlu diganti hingga 37.000 km. Pengujian tambang selama sekitar enam bulan di tiga perusahaan, menurut laporan Koran Jakarta yang bersumber dari Antara, mencatat filter mesin yang biasanya diganti pada 250 jam bertahan hingga 500 jam. Gaikindo dan sejumlah asosiasi melanjutkan uji hingga 100.000 km.
Namun anggota Komisi XII, seperti dilaporkan Koran Jakarta, juga mengangkat laporan pengguna soal filter yang lebih cepat diganti dan kebutuhan aditif. Laporan itu tidak merinci jumlah, lokasi, atau jenis kendaraan. Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyatakan belum ada keluhan signifikan dari pengguna ritel di pusat layanan pelanggan perusahaan.
Perbedaan gambaran ini menunjukkan data lapangan jangka panjang masih ditunggu. Hasil uji 100.000 km belum dipublikasikan.
Sumber & Referensi
- B50 Punya Risiko Berbeda dari Solar, BRIN Minta Pengguna Perketat Perawatan (2/10/2026) — kabarbursa.com
- ESDM Sebut B50 Nggak Bikin Sering Ganti Filter, Ini Alasannya (9/9/2026) — oto.detik.com
- ESDM Klaim B50 Aman Setelah Uji 1.000 Jam, Keluhan Pengguna Masih Jadi Sorotan (9/9/2026) — koran-jakarta.com