Harga CPO Melemah Jelang Data MPOB, Analis Tetap Proyeksikan di Atas RM4.000
Kontrak CPO Bursa Malaysia turun ke RM4.310/ton menjelang data MPOB 12 Oktober. Minyak mentah melemah, ekspor lesu, dan stok menumpuk—namun B50 Indonesia jadi penopang.
Daftar isi (4 bagian)
Kuala Lumpur — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives bergerak melemah pada awal Oktober 2026. Pelaku pasar menahan diri menjelang rilis data pasokan dan permintaan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada Senin, 12 Oktober 2026, yang diperkirakan menunjukkan stok sawit Malaysia mendekati puncak musiman.
Pergerakan harga
Pada penutupan Selasa (6/10/2026), menurut Bernama, kontrak Oktober 2026 turun RM50 ke RM4.340 per ton, kontrak November turun RM23 ke RM4.457 per ton, dan kontrak Desember turun RM18 ke RM4.560 per ton. Harga fisik CPO pengiriman Oktober wilayah selatan ikut melemah RM40 menjadi RM4.380 per ton. Pelemahan berlanjut keesokan harinya: kontrak Oktober kembali turun RM30 ke RM4.310 per ton pada Rabu (7/10/2026), sebagaimana dilaporkan sejumlah media pasar.
Di dalam negeri, harga CPO di KPBN Inacom tercatat Rp14.625 per kilogram pada Rabu (7/10/2026), turun Rp41 per kilogram dari hari sebelumnya, menurut InfoSAWIT. Sepanjang September, kontrak acuan di Bursa Malaysia telah terkoreksi sekitar 5,76%.
Tiga faktor penekan
- Minyak mentah melemah. Analis Iceberg X David Ng menyebut harga minyak mentah yang lebih lemah—Brent sempat turun ke kisaran US$97 per barel—serta kekhawatiran stok domestik yang tinggi membebani sentimen. Ia memperkirakan harga tertopang di sekitar RM4.500 per ton dengan resistansi di RM4.650 per ton.
- Ekspor lesu. Sejumlah laporan surveyor kargo menunjukkan ekspor produk sawit Malaysia pada September turun antara 17,1% dan 28,8% dibanding Agustus.
- Minyak kedelai dan stok. Melemahnya harga minyak kedelai di Chicago ikut menekan sawit sebagai minyak nabati substitusi. Sementara itu, produksi Malaysia berada di puncak musiman, sehingga pasar memperkirakan penumpukan stok.
Proyeksi: masih di atas RM4.000
Meski melemah dalam jangka pendek, sejumlah analis memperkirakan harga CPO bertahan di atas RM4.000 per ton hingga akhir 2026, sebagaimana dikutip Palm Oil Magazine dari The Edge (Agustus 2026):
| Lembaga | Proyeksi rata-rata 2026 | Catatan |
|---|---|---|
| CIMB Securities | RM4.450/ton | 2027: RM4.550/ton; El Niño berpotensi menekan produksi mulai Oktober |
| Public Investment Bank | ±RM4.400/ton | Untuk 2026–2027 |
| Maybank IB | RM4.400/ton | El Niño dan B50 Indonesia sebagai faktor kunci |
| TA Securities | RM4.300/ton | Stok tinggi membatasi kenaikan harga jangka pendek |
Faktor penopang utama yang disebut analis adalah program B50 Indonesia, yang mengalihkan sebagian besar pasokan sawit dari pasar ekspor ke kebutuhan bahan bakar domestik, serta risiko cuaca El Niño yang dapat menekan produksi pada 2027. USDA juga memangkas estimasi produksi sawit Indonesia 2026/27 menjadi 47,2 juta ton.
Dampak ke Indonesia
Pergerakan harga CPO global berdampak langsung pada tiga hal di dalam negeri: harga TBS di tingkat petani, penerimaan pungutan ekspor yang menjadi sumber dana insentif biodiesel, serta harga indeks pasar (HIP) biodiesel periode berikutnya. Data MPOB pada 12 Oktober akan menjadi penentu arah harga jangka pendek. Ulasan ini bukan rekomendasi investasi.
Sumber & Referensi
- Bernama, laporan pasar CPO berjangka (6/10/2026) — bernama.com
- InfoSAWIT, "Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Rabu (7/10), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Masih Melemah" (8/10/2026) — infosawit.com
- ChemAnalyst, "Malaysian Palm Oil Extends Slide as Rising Stocks Weigh on Demand" (Oktober 2026) — chemanalyst.com
- Palm Oil Magazine, "CPO Prices Expected to Rise in H2 2026 as El Niño Raises Supply Risks" (26/8/2026) — palmoilmagazine.com
- Investor Daily, "Harga CPO Tertekan, Ekspor dan Minyak Kedelai Jadi Biang Kerok" (Oktober 2026) — investor.id