Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 penuh
Kebijakan

Wamentan Buka Ruang Masukan Dunia Usaha untuk Perkuat Pertanian, dari Pangan hingga Energi

Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa siap menampung masukan dunia usaha; biodiesel, bioetanol, dan hilirisasi pangan ikut dibahas.

Sawah dan ladang jagung dengan perkebunan sawit dan fasilitas bioenergi di kejauhan

Jakarta — Kementerian Pertanian membuka pintu lebar bagi masukan dunia usaha untuk memperkuat peran sektor pertanian, tidak hanya sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai pemasok bahan baku energi dan industri hilir. Sikap ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa.

Menurut laporan Bataviapos, pernyataan tersebut disampaikan saat Saleh menghadiri Investor Daily Summit 2026 bertema "Indonesia's Economic Model" di Jakarta, Rabu (7/10/2026). ANTARA kemudian memberitakan pernyataan yang sama pada Kamis (8/10/2026) dengan dateline Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Saleh menegaskan kementeriannya siap menampung saran dari para pelaku usaha sebagai bahan penguatan pembangunan pertanian. "Intinya kami siap menerima saran dan masukan dari pelaku-pelaku usaha," ujarnya, seperti dikutip kedua media.

Biodiesel dan bioetanol ikut dibahas

Dalam forum tersebut, menurut Saleh, isu biodiesel, bioetanol, dan hilirisasi pangan turut mengemuka. Ia menggambarkan bahwa sebagian potensi komoditas pertanian kini diarahkan tidak lagi semata untuk pangan, melainkan juga sebagai bahan baku energi dan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Arah kebijakan ini, lanjutnya, ditujukan agar komoditas pertanian tidak berhenti di tahap bahan mentah, tetapi masuk ke rantai pengolahan yang menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang investasi di dalam negeri. Kementan menyatakan akan terus membangun sinergi dengan dunia usaha di tiga jalur: produksi pangan, hilirisasi, dan pengembangan energi berbasis komoditas.

Konteks: pertanian sebagai lumbung energi

Pernyataan Wamentan sejalan dengan dorongan Kementan sepanjang 2026. Pada akhir Maret lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan percepatan hilirisasi pertanian untuk biofuel merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto di tengah memanasnya situasi geopolitik, sebagaimana dilaporkan Kompas.com (30/3/2026).

Saat itu Amran menyebut target penghentian impor solar melalui biodiesel sawit B50 membutuhkan sekitar 5,3 juta ton minyak sawit. Untuk sisi bensin, pemerintah menyiapkan campuran etanol E20 dengan bahan baku jagung, ubi kayu, dan tebu, termasuk memanfaatkan sekitar 1 juta ton molase yang selama ini diekspor.

Program B50 sendiri telah berlaku wajib sejak 1 Juli 2026 dan ditargetkan tersedia di seluruh SPBU per 1 Oktober 2026. Dengan porsi biodiesel yang kini setara solar fosil, peran sektor pertanian—khususnya perkebunan sawit—dalam ketahanan energi nasional semakin sentral.

Baca juga: Mengenal B20 hingga B50 · Manfaat dan tantangan program biodiesel

Sumber & Referensi

  • ANTARA News Ambon, "Wamentan siap perkuat pertanian untuk sektor pangan hingga energi" (8/10/2026) — ambon.antaranews.com
  • Bataviapos, "Wamentan Buka Luas Ruang Masukan Dunia Usaha: Perkuat Pertanian, Pangan, Energi dan Hilirisasi" (7/10/2026) — bataviapos.id
  • Kompas.com, "Ada Perang, Kementan Kebut Hilirisasi untuk Biodiesel dan Etanol" (30/3/2026) — money.kompas.com