Ekspor Sawit Januari–Agustus 2026 Tembus US$27,55 Miliar, Stok Turun saat Biodiesel Naik
Nilai ekspor sawit Januari–Agustus 2026 mencapai US$27,55 miliar. Pada Agustus, konsumsi biodiesel naik 5,03% dan stok sawit menyusut menjadi 2,214 juta ton.
Daftar isi (3 bagian)
Jakarta — Nilai ekspor produk sawit Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$27,55 miliar, naik 11,14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada saat ekspor menguat, kebutuhan bahan baku biodiesel ikut meningkat dan stok akhir sawit pada Agustus menyusut menjadi 2,214 juta ton.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan volume ekspor kumulatif mencapai 23,370 juta ton, naik 2,97% dari 22,696 juta ton pada Januari–Agustus 2025. Kenaikan nilai yang lebih cepat daripada volume ditopang harga ekspor rata-rata CPO yang membaik dari US$1.075 menjadi US$1.140 per ton.
Ekspor Agustus naik dua digit
Pada Agustus 2026, volume ekspor produk sawit mencapai 3,588 juta ton atau naik 12,56% dibandingkan Juli. Nilainya meningkat 12,62% menjadi US$4,29 miliar.
- Produk olahan minyak sawit: 2,643 juta ton, naik 15,12%.
- CPO: 329 ribu ton, naik 31,83%.
- Olahan minyak inti sawit: 113 ribu ton, naik 14,58%.
Penguatan ekspor tersebut terjadi ketika harga ekspor rata-rata CPO Agustus turun tipis dari US$1.168 menjadi US$1.164 per ton.
Biodiesel mendorong konsumsi domestik
Konsumsi sawit di dalam negeri pada Agustus mencapai 2,304 juta ton, naik 1,28% dari Juli. Peningkatan terutama berasal dari sektor biodiesel, yang menyerap 1,350 juta ton atau naik 5,03% dari 1,285 juta ton.
Sebaliknya, konsumsi untuk pangan turun 3,79% menjadi 775 ribu ton. Perubahan ini memperlihatkan besarnya peran program biodiesel terhadap keseimbangan pasokan sawit domestik.
Stok turun hampir 20%
Total produksi CPO dan PKO pada Agustus tercatat 5,343 juta ton, turun sekitar 0,50% secara bulanan. Ketika ekspor dan konsumsi domestik meningkat, stok akhir turun dari 2,758 juta ton pada Juli menjadi 2,214 juta ton pada Agustus, atau menyusut sekitar 19,72%.
Kondisi tersebut membuat penguatan produktivitas menjadi penting. Peningkatan permintaan untuk ekspor dan energi perlu diimbangi pertumbuhan produksi agar pasokan untuk biodiesel, pangan, dan pasar ekspor tetap terjaga.
Data ini melanjutkan perkembangan setelah ekspor sawit Juni 2026 melonjak 64%. Pada paruh kedua tahun ini, pergerakan stok menjadi indikator penting karena pelaksanaan B50 meningkatkan penyerapan domestik.
Sumber & Referensi
- Elaeis, “Ekspor Sawit Tembus US$27,55 Miliar, Stok Menipis di Tengah Kenaikan Biodiesel” (9 Oktober 2026) — elaeis.co
- ANTARA, “GAPKI catat peningkatan konsumsi dan ekspor minyak sawit pada Agustus” (9 Oktober 2026) — antaranews.com