GAPKI Usul Kebijakan Biofuel Fleksibel, Serapan Sawit untuk Biodiesel Naik 13,59%
GAPKI mengusulkan alokasi sawit untuk biodiesel mengikuti harga sawit dan minyak bumi. Data Juli 2026: konsumsi biodiesel 1,285 juta ton, ekspor turun 2,67%.
Daftar isi (3 bagian)
Jakarta — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan agar pemerintah menerapkan kebijakan biofuel yang lebih fleksibel: alokasi minyak sawit untuk biodiesel disesuaikan dengan pergerakan harga sawit dan minyak bumi. Usulan ini muncul ketika data terbaru menunjukkan serapan sawit untuk biodiesel terus menanjak.
Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menyampaikan usulan tersebut dalam forum BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Senin (5/10/2026), seperti dilaporkan JournalArta. Menurut dia, ketika harga minyak bumi tinggi, pemerintah dapat mendorong pemakaian sawit untuk biodiesel melalui insentif. Sebaliknya, ketika harga sawit lebih tinggi, sebagian pasokan dapat dialihkan ke ekspor. "Menerapkan kebijakan biofuel itu lebih fleksibel," ujarnya.
Kekhawatiran: ruang ekspor menyempit
GAPKI mencatat produksi CPO nasional dalam lima tahun terakhir berkisar 51–56 juta ton. Sementara itu, kebutuhan CPO untuk biodiesel terus naik: sekitar 12,4 juta ton pada 2025, lebih dari 14 juta ton pada 2026, dan diproyeksikan bisa mencapai 17 juta ton pada 2027. Akibatnya, volume yang tersedia untuk ekspor diperkirakan dapat berkurang 3–4 juta ton pada 2027.
Isu ini tidak hanya menyangkut neraca dagang. Insentif biodiesel untuk sektor PSO tidak dibiayai APBN, melainkan dari pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Artinya, bila ekspor turun, sumber dana untuk menopang program biodiesel ikut tertekan—sebuah dilema yang juga disorot dalam ulasan kami tentang manfaat dan tantangan program biodiesel.
Data Juli: biodiesel jadi penopang konsumsi
Data GAPKI untuk Juli 2026, sebagaimana dilaporkan InfoSAWIT, menunjukkan peran biodiesel yang makin dominan di pasar domestik:
| Indikator (Juli 2026) | Volume | Perubahan vs Juni |
|---|---|---|
| Konsumsi domestik total | 2,275 juta ton | +3,35% |
| — Biodiesel | 1,285 juta ton | +13,59% |
| — Pangan | 805 ribu ton | −8,31% |
| — Oleokimia | 185 ribu ton | −3,65% |
| Produksi CPO + PKO | 5,370 juta ton | +1,87% |
| Ekspor produk sawit | 3,188 juta ton | −2,67% |
| Stok akhir Juli | 2,758 juta ton | — |
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, konsumsi domestik mencapai 15,219 juta ton, naik 6,38% dibanding periode yang sama tahun lalu. Konsumsi untuk biodiesel tercatat 7,857 juta ton, naik dari 7,232 juta ton. Mukti menyebut kenaikan konsumsi pada Juli terutama ditopang kebutuhan biodiesel—sejalan dengan dimulainya mandatori B50 pada 1 Juli 2026.
Catatan redaksi
Usulan GAPKI menyentuh pertanyaan mendasar program biodiesel: apakah mandatori harus kaku demi kepastian ketahanan energi, atau fleksibel mengikuti harga demi menjaga devisa ekspor dan pendanaan? Dengan B50 kini berlaku penuh dan B60 mulai dikaji, perdebatan ini akan makin relevan. Media Biodiesel akan mengikuti respons pemerintah atas usulan tersebut.
Sumber & Referensi
- JournalArta, "Kebijakan biofuel fleksibel: usul GAPKI soal sawit" (7/10/2026) — journalarta.com
- InfoSAWIT Sumatera, "Konsumsi Biodiesel Naik 13,59%, Serapan Minyak Sawit Indonesia Capai 2,275 Juta Ton" (7/10/2026) — infosawit.com
- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) — gapki.id