Senin, 2 November 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

Empat Koperasi Banyumas Uji Kumpulkan Jelantah untuk SAF Cilacap

Kemenkop dan Pertamina memulai percontohan empat koperasi pengumpul jelantah di Banyumas. Rentang harga masih rencana; pasokan SAF dari pilot belum terukur.

Ilustrasi AI pekerja mengumpulkan minyak jelantah melalui saringan ke drum di ruang pengumpulan koperasi
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Banyumas — Kementerian Koperasi dan Pertamina meluncurkan percontohan pengumpulan minyak jelantah melalui empat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026). Bahan baku dari warga direncanakan disalurkan ke Pertamina Patra Niaga dan diproses di Kilang Cilacap untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyebut koperasi direncanakan membeli jelantah Rp5.000–Rp6.000 per liter dan menjualnya ke Pertamina Patra Niaga Rp6.500–Rp7.000 per liter. Angka itu adalah skema yang disampaikan menteri, bukan bukti harga seragam yang telah berlaku di semua lokasi.

Empat koperasi jadi lokasi uji coba

Peluncuran berlangsung di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, disertai penandatanganan kerja sama Kementerian Koperasi dengan Pertamina oleh Ferry dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri. ANTARA melaporkan empat koperasi terlibat; Jawa Pos menyebut lokasinya Dawuhan, Kober, Karanglewas, dan Karangwangkal. Langkah ini membangun titik pengumpulan sebelum bahan baku dikirim ke kilang, bukan pengumuman bahwa seluruh koperasi desa di Indonesia sudah menyetor jelantah untuk produksi SAF.

Ferry berharap model Banyumas dapat diperluas ke koperasi lain yang siap beroperasi. Ia meminta pengumpulan dari rumah tangga, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Dukungan permodalan melalui LPDB Koperasi atau tanggung jawab sosial Pertamina masih berupa kemungkinan yang disampaikan menteri, bukan fasilitas yang dipastikan tersedia bagi setiap koperasi.

Harga beli warga dan pendapatan koperasi masih perlu diuji

Menurut Ferry dalam laporan ANTARA, harga beli dari warga direncanakan pada rentang Rp5.000–Rp6.000 per liter, sedangkan harga jual ke Pertamina Patra Niaga Rp6.500–Rp7.000. Jawa Pos mengutip Deputi Pengembangan Usaha Koperasi Panel Barus yang menyebut kisaran harga penukaran bagi warga hingga Rp6.500 per liter. Perbedaan batas atas ini menunjukkan rincian operasional dan harga aktual per titik perlu diperiksa, bukan dijumlahkan menjadi margin pasti.

Panel juga menjelaskan bahwa, bergantung pada keputusan rapat anggota, hasil penjualan jelantah dapat diubah menjadi simpanan koperasi. Itu adalah pilihan tata kelola, bukan pembayaran otomatis untuk semua penyetor. Media Indonesia mewawancarai warga Dawuhan yang sebelumnya membuang jelantah dan kini ingin mengumpulkannya; kesaksian tersebut menunjukkan minat awal, tetapi belum mengukur volume pasokan atau pendapatan koperasi secara keseluruhan.

Dari pengumpulan ke bahan bakar pesawat

Menurut Pertamina sebagaimana dilaporkan ANTARA pada 27 Oktober, fasilitas Green Refinery Cilacap memanfaatkan unit thermal distillate hydro treating (TDHT) untuk ko-pemrosesan jelantah bersama bahan baku lain. Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengatakan sekitar 11 juta liter co-processed SAF diproduksi pada Oktober, dengan rasio jelantah maksimal 5 persen dari kapasitas produksi unit TDHT. Angka produksi itu berasal dari operasi kilang yang telah berjalan; tidak boleh ditafsirkan sebagai hasil dari empat koperasi yang baru meluncurkan percontohan.

Pertamina sebelumnya menggunakan tiga bank sampah binaan di sekitar Cilacap dan menyediakan kotak pengumpulan di Pasar Amarta Kutawaru. Jaringan koperasi Banyumas menambah jalur yang sedang diuji, sementara kecukupan volume, mutu jelantah, biaya pengumpulan, dan kesinambungan pasokan dari jaringan baru belum dijelaskan secara kuantitatif dalam pengumuman. Klaim kemungkinan ekspor SAF yang disampaikan Ferry juga masih berupa peluang, bukan kontrak ekspor dari percontohan ini.

Perluasan jaringan bahan baku dapat membantu menghubungkan limbah rumah tangga dengan industri penerbangan, tetapi keberhasilan program tetap perlu dinilai dari volume jelantah yang benar-benar terkumpul, harga yang diterima warga, dan hasil pengolahan di kilang. Sampai data tersebut tersedia, kabar utamanya adalah peluncuran percontohan empat koperasi dan kesepakatan pengumpulan, bukan tambahan produksi SAF yang sudah terukur dari Banyumas.

Sumber & Referensi