Senin, 2 November 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Edukasi

Apa Itu HVO (Hydrotreated Vegetable Oil)? Arti, Cara Dibuat, dan Pemakaiannya

HVO atau renewable diesel adalah solar terbarukan dari minyak nabati, jelantah, atau lemak hewan yang diolah dengan hidrogen. Ini arti, proses, bahan baku, produsen, dan jejaknya di Indonesia.

Kartu sampul Media Biodiesel: Apa itu HVO (hydrotreated vegetable oil), arti, cara dibuat, dan pemakaiannya
Grafis: Media Biodiesel.
Daftar isi (9 bagian)

HVO (hydrotreated vegetable oil) adalah bahan bakar diesel terbarukan yang dibuat dengan mereaksikan minyak nabati, minyak jelantah, atau lemak hewan dengan hidrogen. Proses ini membuang oksigen dan menyisakan hidrokarbon parafin yang secara kimia hampir sama dengan solar fosil. Karena itu HVO bisa dicampur dengan solar pada perbandingan berapa pun atau dipakai murni (HVO100) pada mesin yang disetujui pabrikannya. HVO juga disebut renewable diesel atau green diesel, dan bukan bahan bakar yang sama dengan biodiesel (FAME).

Apa arti HVO? Kepanjangan dan nama lainnya

HVO adalah singkatan dari Hydrotreated Vegetable Oil; sebagian sumber menyebut Hydrogenated Vegetable Oil. Menurut Neste, kedua istilah itu berasal dari masa sebelum 2010, ketika bahan bakunya hanya minyak nabati. Kini banyak HVO dibuat dari limbah dan residu, tetapi namanya tetap dipakai. Nama lain untuk jenis bahan bakar yang sama antara lain:

  • Renewable diesel, istilah yang lazim di Amerika Serikat;
  • Green diesel, nama produk teknologi Ecofining milik Honeywell UOP dan Eni;
  • HDRD (hydrogenation-derived renewable diesel), dan dalam standar EN 15940 disebut "solar parafinik hasil hidrotreatment";
  • HVO100, artinya HVO 100% tanpa campuran solar fosil. Di Belanda dijual dengan nama Blauwe Diesel; klub otomotif Belanda ANWB menjelaskan "HVO staat voor Hydrotreated Vegetable Oil" (HVO adalah singkatan dari Hydrotreated Vegetable Oil).

Versi bahan bakar pesawat yang dibuat dengan jalur sama disebut HEFA (hydroprocessed esters and fatty acids). Perbandingan lengkap dengan biodiesel FAME ada di HVO vs biodiesel: apa bedanya dan mana lebih baik.

Bagaimana HVO dibuat?

HVO diproduksi di unit hidroproses, baik di kilang hayati khusus maupun kilang minyak yang dikonversi. Tahap utamanya:

  1. Pra-perlakuan. Menurut insinyur produsen katalis Topsoe, minyak limbah dan residu sering mengandung kontaminan seperti fosfor, silikon, natrium, dan kalsium. Zat-zat ini dibuang lebih dulu karena dapat merusak katalis hydrotreating.
  2. Hydrotreating (hidrodeoksigenasi). Minyak direaksikan dengan hidrogen bertekanan tinggi di atas katalis pada suhu sekitar 300–400 °C, menurut IEA Bioenergy. Oksigen dibuang terutama sebagai air (sebagian sebagai CO2 lewat dekarboksilasi), dan trigliserida terpecah menjadi rantai parafin lurus. Kerangka gliserolnya berubah menjadi propana.
  3. Isomerisasi. Parafin rantai lurus mudah membeku dalam cuaca dingin, sehingga sebagian diubah menjadi molekul bercabang. Neste menyebut tahap ini dapat menurunkan titik leleh parafin C18 dari +28 °C hingga −40 °C. Dengan cara inilah kelas untuk iklim kutub dibuat.
  4. Fraksinasi. Produk dipisahkan menjadi renewable diesel dan sebagian kecil nafta terbarukan (komponen bensin) serta gas seperti propana. Sebagian pabrik juga mengambil fraksi avtur untuk SAF.

Beberapa teknologi berlisensi memakai jalur ini: NEXBTL milik Neste, Ecofining dari Honeywell UOP dan Eni, HydroFlex dari Topsoe, dan Vegan dari Axens. Kilang juga bisa mencampur sebagian kecil minyak nabati ke unit yang sudah ada bersama bahan baku fosil, yang disebut co-processing. Hasilnya bahan bakar yang hanya sebagian kandungannya terbarukan.

HVO dibuat dari apa? Bahan baku dan aturan keberlanjutan

Hampir semua minyak atau lemak bisa diolah menjadi HVO. Neste mencantumkan minyak jelantah, limbah lemak hewan, palm fatty acid distillate (PFAD, residu pemurnian minyak sawit pangan), minyak dari limbah cair pabrik sawit (POME), minyak jagung teknis, crude tall oil, lemak ikan, serta minyak nabati seperti rapeseed, kedelai, bunga matahari, dan camelina. Perusahaan itu melaporkan limbah dan residu mencakup 95% bahan bakunya pada 2025. Di AS, Diamond Green Diesel memakai lemak hewan daur ulang, minyak jelantah, dan minyak jagung nonpangan.

Pasokan minyak limbah terbatas. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak residu seperti jelantah, tallow, dan POME naik 70% menjadi 30 juta ton per tahun pada 2030, hampir 80% dari estimasi potensi pasokannya.

Di Uni Eropa, jenis bahan baku menentukan seberapa besar HVO dihitung untuk target energi terbarukan dalam Renewable Energy Directive (RED III):

  • Minyak jelantah serta lemak hewan kategori 1 dan 2 tercantum di Annex IX Bagian B Renewable Energy Directive. Kontribusinya dibatasi 1,7%, meski negara anggota boleh menaikkan batas itu bila ada alasan kuat.
  • POME dan tandan kosong sawit masuk Annex IX Bagian A sebagai bahan baku maju (advanced).
  • Bahan baku berisiko tinggi perubahan penggunaan lahan tidak langsung (ILUC) dibatasi pada tingkat konsumsi 2019 di tiap negara anggota dan harus turun bertahap menjadi 0% paling lambat 31 Desember 2030. Menurut Regulasi Delegasi (UE) 2019/807, suatu tanaman berisiko tinggi bila lebih dari 10% perluasannya terjadi di lahan berstok karbon tinggi. Data regulasi itu menempatkan 45% perluasan sawit sejak 2008 di lahan hutan dan 23% di lahan basah termasuk gambut. Sawit adalah satu-satunya tanaman di atas ambang tersebut.
  • PFAD tidak disebut dalam direktif. Lembar fakta pemerintah Belanda (2021) menilai statusnya dalam aturan UE belum jelas, dan Belanda memperlakukannya sebagai produk sampingan (co-product) yang tidak berhak dihitung ganda.

Aturan UE ini memengaruhi cara HVO berbahan sawit dihitung untuk target UE, bukan melarang Indonesia memproduksi bahan bakar nabati, seperti dijelaskan dalam cek fakta ini.

Sifat dan standar HVO

HVO diuji dengan EN 15940, standar Eropa untuk solar parafinik. Kelas A standar ini mensyaratkan densitas 765–800 kg/m³. Di AS, HVO memenuhi spesifikasi solar ASTM D975. Nilai tipikal menurut Neste dan Alternative Fuels Data Center (AFDC) milik Departemen Energi AS:

  • Angka setana di atas 70 (AFDC: 70–85), dibanding 40–55 untuk solar fosil;
  • Densitas sekitar 780 kg/m³, di bawah batas minimum 820 kg/m³ standar solar EN 590;
  • Kandungan energi 44,1 MJ/kg atau 34,4 MJ per liter, 4,4% lebih rendah per liter dibanding solar fosil;
  • Praktis tanpa sulfur, aromatik, dan oksigen, dengan stabilitas simpan setara solar fosil.

Karena densitasnya rendah, HVO di Eropa dijual murni sesuai EN 15940 atau dicampur ke solar EN 590 sejauh campurannya masih memenuhi densitas minimum.

Di mana HVO dipakai?

Sebagian besar HVO dipakai untuk transportasi darat, dengan California sebagai pasar tunggal terbesar. Badan Informasi Energi AS (EIA), mengutip data negara bagian, melaporkan bahwa renewable diesel mencakup hampir 65% bahan bakar distilat untuk transportasi di California pada kuartal III 2024. Menurut AFDC, hampir semua renewable diesel yang diproduksi atau diimpor AS dipakai di California karena manfaat ekonominya di sana. Di Eropa, HVO murni dijual di SPBU di negara seperti Finlandia, Swedia, dan Belanda. Permintaan juga sangat bergantung pada kebijakan: IEA mencatat permintaan renewable diesel Swedia turun hampir 90% setelah negara itu memangkas target penurunan emisi transportasinya pada 2023.

Siapa produsen HVO?

ProdusenKapasitas (sesuai laporan)Catatan
Neste (Finlandia)Sekitar 5,5 juta ton per tahun produk terbarukanPorvoo, Rotterdam, Singapura, dan operasi bersama di Martinez, California. Perluasan Rotterdam yang dijadwalkan rampung 2027 akan menaikkan kapasitas menjadi 6,8 juta ton. Pada 2025 Neste memproduksi 3,31 juta ton renewable diesel dan 0,84 juta ton SAF.
Diamond Green Diesel (AS)Sekitar 1,2 miliar galon per tahunUsaha patungan Darling Ingredients dan Valero; pabrik di St. Charles (Louisiana) dan Port Arthur (Texas). Angka dari laporan tahunan Darling 2024.
Eni / Enilive (Italia)1,65 juta ton per tahun kapasitas biorefining (September 2025)Venesia dan Gela; target di atas 3 juta ton pada 2028 dan di atas 5 juta ton pada 2030.
PETRONAS, Enilive, dan Euglena (Malaysia)Sekitar 650.000 ton bahan baku per tahunPengerang, Johor; keputusan investasi final Juli 2024; SAF, HVO, dan bionafta; ditargetkan beroperasi semester II 2028.
Pertamina (Indonesia)Sekitar 3.000 barel per hari (Cilacap fase 1)Fase 2 (6.000 barel per hari, HVO atau SAF) ditargetkan beroperasi penuh pada 2029.

Berapa harga HVO dibanding solar?

Belum ada harga eceran acuan HVO yang dipublikasikan di Indonesia. Di AS, laporan harga bahan bakar alternatif AFDC edisi Juli 2026 mencatat rata-rata harga eceran renewable diesel di California US$6,42 per galon, US$0,03 di atas solar di negara bagian itu (US$6,38). Harga yang hampir setara itu mencerminkan insentif di California. Dari sisi produksi, kajian IEA Bioenergy (2020) menyebut bahan baku mencakup 65–80% biaya produksi HVO. Karena itu harga minyak limbah sangat menentukan bisnis ini.

HVO di Indonesia

Bahan bakar nabati wajib di SPBU Indonesia adalah biodiesel FAME, kini B50 sejak 1 Juli 2026. Kepmen ESDM 113/2026 tentang penahapan bahan bakar nabati juga mencakup diesel biohidrokarbon, tetapi pemberitaan yang kami temukan tidak merinci tahapan persentasenya. Jejak HVO Pertamina sejauh ini:

  • 2020, Dumai: pada 2–9 Juli 2020 Kilang Dumai mengolah 100% minyak sawit olahan (RBDPO) menjadi diesel biohidrokarbon D100 sekitar 1.000 barel per hari, memakai Katalis Merah Putih yang dikembangkan bersama ITB.
  • Kilang Hijau Cilacap fase 1: memproduksi HVO dari RBDPO yang dipasarkan sebagai Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD). CNBC Indonesia pada Oktober 2022 melaporkan produksinya 2.500–3.000 barel per hari, dan produk bersertifikat ISCC ini diterima di pasar Eropa, terutama Jerman dan Prancis. General Manager Kilang Cilacap menyebut sertifikasi tersebut mencatat penurunan emisi karbon 65–70% dibanding bahan bakar konvensional.
  • Biorefinery Cilacap fase 2: berkapasitas total 6.000 barel per hari dengan bahan baku jelantah, CPO, dan POME untuk menghasilkan SAF atau HVO, memakai teknologi HydroFlex dari Topsoe. Pertamina Patra Niaga pada September 2026 menyebut investasinya sekitar US$1,1 miliar, groundbreaking pada Februari 2026, dan target beroperasi penuh pada 2029. Target sebelumnya adalah 2026.
  • Plaju: kilang hijau 20.000 barel per hari direncanakan pada 2023 dengan target 2027 dan biaya sekitar US$200 juta. Kami belum menemukan pembaruan terbaru.

Tanya jawab

Apakah HVO sama dengan biodiesel?

Tidak. Biodiesel (FAME) adalah ester yang dibuat dengan metanol dan mengandung oksigen, sedangkan HVO adalah hidrokarbon yang dibuat dengan hidrogen. Lihat perbandingan HVO vs biodiesel.

Apa arti HVO100?

HVO murni tanpa campuran solar fosil, untuk mesin yang pabrikannya menyetujui bahan bakar sesuai EN 15940.

Apakah HVO lebih baik bagi iklim?

Tergantung bahan bakunya. AFDC, mengutip data California, menyebut renewable diesel rata-rata menurunkan intensitas karbon 65% dibanding solar minyak bumi. HVO berbahan limbah umumnya lebih unggul daripada HVO dari tanaman yang terkait perubahan penggunaan lahan.

Bisakah HVO dibuat dari sawit?

Bisa. Produksi Pertamina di Cilacap dan Dumai memakai minyak sawit olahan, sedangkan Neste memakai residu sawit seperti PFAD dan minyak POME. Namun di Uni Eropa, minyak sawit tergolong bahan baku berisiko ILUC tinggi dan kontribusinya terhadap target dihapus bertahap hingga 2030.

Sumber & Referensi