Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Edukasi

Apa Itu Co-Processing? Cara Kilang Cilacap Hasilkan Bioavtur J2.4 dan SAF Jelantah 2–3%

Co-processing mengolah minyak nabati bersama bahan baku fosil di unit kilang yang sudah ada. Begini cara kerjanya, contohnya di Kilang Cilacap, dan bedanya dengan kilang hijau mandiri.

Unit pengolahan kilang minyak dengan jeriken minyak jelantah di latar depan
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Co-processing adalah cara mengolah bahan baku nabati, seperti minyak inti sawit atau minyak jelantah, bersama bahan baku fosil di unit kilang minyak yang sudah ada, dengan bantuan katalis. Hasilnya adalah bahan bakar yang sebagian kecil kandungannya berasal dari sumber terbarukan. Di Indonesia, contoh paling dikenal adalah bioavtur J2.4 dari Kilang Cilacap yang mengandung 2,4% komponen nabati, serta Pertamina SAF berbahan minyak jelantah yang dikirim perdana pada 12 Agustus 2025 dengan porsi jelantah 2–3% pada tahap awal.

Bagaimana co-processing bekerja

Dalam co-processing, minyak nabati tidak diolah di pabrik tersendiri, melainkan dicampurkan ke aliran bahan baku fosil yang masuk ke unit pengolahan kilang. Kementerian ESDM menjelaskan, pada uji skala industri di Kilang Pertamina RU IV Cilacap, minyak inti sawit olahan (RBDPKO) dicampur dengan kerosin lalu diproses menggunakan Katalis Merah Putih hasil riset Pertamina dan ITB. Proses itu berlangsung di unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT), unit yang ketika itu disebut berkapasitas 8.000 barel per hari.

Produk akhirnya tetap berupa bahan bakar yang secara kimia menyerupai avtur atau diesel fosil, bukan biodiesel jenis FAME yang dicampur ke solar dalam program mandatori. Perbedaan jenis-jenis bahan bakar ini bisa dibaca di kamus istilah.

Contoh di Indonesia: dari J2.4 hingga SAF jelantah

  • Bioavtur J2.4 (2021): hasil co-processing RBDPKO dan kerosin di RU IV Cilacap. Uji terbang pesawat CN235 milik PT Dirgantara Indonesia pada 8 September–6 Oktober 2021, termasuk uji menyalakan ulang mesin di udara, menunjukkan performa yang sangat mirip dengan avtur fosil. Direktur Utama Pertamina saat itu, Nicke Widyawati, menyebut selisih performanya hanya 0,2–0,6%.
  • Uji pesawat komersial (2023): menurut detikFinance, pada Oktober 2023 pesawat Boeing 737-800 Garuda terbang rute Jakarta–Solo–Jakarta dengan bioavtur. InfoSAWIT juga mencatat uji darat dan terbang pada mesin CFM56-7B di Bandara Soekarno-Hatta pada 27 Oktober 2023.
  • Pertamina SAF berbahan jelantah (2025): PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengolah minyak jelantah bersama bahan baku fosil di unit TDHT Cilacap, juga dengan Katalis Merah Putih. Sekitar 32 kiloliter disiapkan untuk penerbangan perdana Pelita Air rute Jakarta–Denpasar, dan direncanakan pengiriman 1,7 juta liter ke Bandara Soekarno-Hatta. Produk ini dinyatakan memenuhi standar ASTM D1655 dan DefStan 91-091 serta bersertifikat keberlanjutan ISCC CORSIA.

Klaim pengurangan emisi SAF jelantah berbeda antarsumber: Pertamina menyebut hingga 84% dibanding avtur fosil, sementara detikFinance mengutip Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dengan angka 81%.

Kelebihan dan batasannya

Kelebihan co-processing terlihat dari contoh di atas: kilang bisa mulai menghasilkan bahan bakar berkomponen nabati dengan memanfaatkan unit yang sudah beroperasi, seperti TDHT di Cilacap, sambil menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi bahan bakar pesawat internasional.

Batasannya ada pada porsi bahan nabati yang kecil. Nicke Widyawati pada 2021 menyebut kandungan nabati 2,4% pada J2.4 sebagai capaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada saat itu. Pada SAF jelantah 2025, porsi jelantah tahap awal juga hanya 2–3%. Artinya, sebagian besar isi bahan bakar tersebut tetap berasal dari minyak bumi.

Co-processing versus kilang hijau mandiri

Untuk menaikkan porsi nabati hingga 100%, dibutuhkan unit yang mengolah bahan baku nabati sepenuhnya. Contohnya sudah ada: pada Juli 2020, Kilang RU II Dumai mengolah 100% minyak sawit olahan (RBDPO) menjadi diesel biohidrokarbon D100. InfoSAWIT mencatat Green Refinery Cilacap fase 1, yang dikembangkan sejak Februari 2022, memproduksi diesel hijau dari 100% bahan terbarukan, dan fase 2 dirancang menaikkan kapasitas HVO dari 3.000 menjadi 6.000 barel per hari dengan bahan baku CPO, RBDPO, dan jelantah, serta ditargetkan beroperasi pada 2026 sekaligus menghasilkan bioavtur 100% nabati.

AspekCo-processingKilang hijau mandiri
Bahan bakuCampuran nabati dan fosil100% nabati (CPO, RBDPO, jelantah)
Porsi nabati (contoh Indonesia)2,4% (J2.4); 2–3% jelantah (SAF 2025)100% (D100 Dumai 2020)
FasilitasUnit kilang yang sudah ada (TDHT Cilacap)Unit khusus, misalnya Green Refinery Cilacap fase 2

Rencana serupa juga disiapkan di Kilang Plaju. Menurut Indonesia Business Post pada 2023, KPI merencanakan kapasitas 20.000 barel per hari untuk diesel terbarukan, bioavtur, dan bionafta dengan target 2027 dan perkiraan biaya US$200 juta. Semua angka dan jadwal tersebut masih berupa rencana perusahaan.

Sumber & Referensi