Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

India Siap Penuhi Target Bioavtur 1% pada 2027 lewat Coprocessing, Target 5% 2030 Butuh Investasi

Laporan S&P Global dan SAF Association menilai empat kilang coprocessing India berkapasitas 106.500 ton/tahun cukup untuk target SAF 2027–2028, tetapi target 5% pada 2030 butuh pabrik baru.

Kilang minyak di India saat senja dengan pesawat jet melintas di kejauhan
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

New Delhi — India dinilai sudah memiliki kapasitas coprocessing kilang yang cukup untuk memenuhi target campuran bahan bakar aviasi berkelanjutan (SAF/bioavtur) 1% pada 2027 dan 2% pada 2028, tetapi target 5% pada 2030 menuntut investasi mendesak. Kesimpulan itu tertuang dalam laporan bersama S&P Global Energy dan SAF Association berjudul "India's Strategy for SAF Leadership: From Policy to Implementation" yang dirilis Senin, 28 September 2026, seperti dilaporkan Platts dan dimuat ulang Hellenic Shipping News.

Laporan tersebut memproyeksikan kebutuhan SAF India naik dari sekitar 46.000 ton pada 2027 menjadi sekitar 250.000 ton pada 2030. Target campuran 1%, 2%, dan 5% itu berlaku untuk penerbangan internasional dan bersifat indikatif.

Latar target: dari pengumuman hingga peta jalan

Target SAF India sudah mengemuka sejak 2025. SAF Investor pada Agustus 2025 melaporkan Menteri Negara Penerbangan Sipil Murlidhar Mohol menyampaikan target indikatif 1% pada 2027, 2% pada 2028, dan 5% pada 2030, tanpa merinci bandara mana yang akan ditetapkan. Biofuels Digest pada Desember 2025, mengutip laporan NDTV, menyebut target itu berlaku untuk penerbangan luar negeri, dengan kemungkinan penerbangan domestik dicakup di masa depan, dan perusahaan pemasaran minyak disebut sedang bersiap memenuhinya. Pada level negara bagian, Uttar Pradesh meluncurkan kebijakan promosi manufaktur SAF 2025 yang disebut pertama di India.

Empat kilang siap, pasokan bahan baku jadi kendala

Menurut laporan S&P Global dan SAF Association, India memiliki empat fasilitas coprocessing bersertifikat ISCC-CORSIA dengan total kapasitas 106.500 ton per tahun:

KilangLokasiKapasitas (ton/tahun)
Bharat PetroleumMumbai61.000
Indian OilPanipat30.000
Hindustan PetroleumVisakh10.000
Mangalore Refinery and PetrochemicalsKatipalla5.500

Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk kebutuhan 2027 dan 2028. Untuk 2030, India bergantung pada pabrik HEFA dan alcohol-to-jet (ATJ) baru yang harus beroperasi antara 2028 dan 2030. Konsumsi avtur India diperkirakan naik sekitar 45%, dari 192.000 barel per hari pada 2024 menjadi 277.000 barel per hari pada 2031. Campuran 1% pada 2027 diperkirakan memangkas emisi gas rumah kaca sekitar 119.000 ton, naik menjadi sekitar 665.000 ton pada 2030.

Soal bahan baku, laporan menyebut konsumsi minyak makan India sebesar 29–30 juta ton secara teori dapat menghasilkan 1,8–2,6 juta ton minyak jelantah (UCO) per tahun, tetapi hanya sebagian kecil yang terkumpul melalui rantai pasok formal dan dapat ditelusuri. Etanol tebu dan molase sebesar 1,5 miliar liter yang menopang program E20 memberi keunggulan bagi jalur ATJ, namun bahan baku berbasis pangan seperti etanol tebu tidak diakui dalam regulasi ReFuelEU Aviation Uni Eropa.

Sekretaris Jenderal SAF Association Rohit Kumar menyatakan pertanyaannya kini bukan lagi apakah India memiliki peluang SAF. Wakil Presiden SAF Association Alok Sharma, mantan Direktur Litbang Indian Oil, menegaskan proyek harus bergerak dari sekadar pengumuman menuju investasi yang layak dibiayai bank dan produksi komersial.

Harga dan relevansi bagi Indonesia

Data Platts yang dikutip laporan itu mencatat harga SAF (HEFA-SPK) FOB Straits sebesar US$2.440 per ton pada 25 September 2026, sementara UCO standar FOB China Utara tercatat US$1.140 per ton pada 2 April 2026.

Laporan tersebut tidak menyebut minyak sawit sebagai bahan baku. Namun, bagi Indonesia yang juga mengembangkan bioavtur, langkah India penting dicermati karena dua hal: strategi bertahapnya dimulai dari coprocessing di kilang yang sudah ada sebelum membangun pabrik khusus, dan keterbatasan pengumpulan UCO domestik India menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku yang dapat ditelusuri bisa lebih menentukan daripada kapasitas kilang. Perbedaan biodiesel, HVO, dan bioavtur dijelaskan di kamus istilah.

Sumber & Referensi