Kamis, 15 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

Pertamina dan PAL Jaya Kaji Limbah FOG untuk Biofuel dan SAF

Pertamina dan PAL Jaya akan mengkaji FOG dari pengelolaan air limbah sebagai bahan baku biofuel, termasuk SAF.

Ilustrasi pemulihan lemak dan minyak dari fasilitas pengolahan air limbah untuk bahan baku biofuel
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Pertamina dan Perumda PAL Jaya menandatangani nota kesepahaman untuk mengkaji pemanfaatan fat, oil, and grease (FOG) dari pengelolaan air limbah sebagai bahan baku biofuel, termasuk bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF). Kesepakatan ditandatangani Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama PAL Jaya Untung Suryadi di Balai Kota DKI Jakarta pada 12 Oktober 2026.

Kerja sama tersebut masih berada pada tahap penjajakan. Kedua perusahaan belum mengumumkan volume FOG yang tersedia, spesifikasi bahan baku, teknologi pengolahan, lokasi fasilitas, nilai investasi, maupun target dimulainya produksi bahan bakar. Karena itu, nota kesepahaman ini belum berarti FOG dari air limbah Jakarta telah dipakai secara komersial untuk memproduksi SAF.

Menghubungkan pengelolaan air limbah dan energi

FOG merupakan campuran lemak dan minyak yang dihasilkan atau dikelola dalam sistem air limbah. Dalam rencana ini, Pertamina dan PAL Jaya akan mengkaji apakah material tersebut dapat dialihkan dari beban pengelolaan limbah menjadi sumber bahan baku alternatif untuk biofuel.

Menurut pemberitaan IDN Times dan Suara.com yang mengutip keterangan Pertamina, penjajakan ini diarahkan untuk membangun hubungan antara sektor energi dan pengelolaan air limbah melalui pendekatan ekonomi sirkular. Hasil kajian akan menjadi dasar bagi kedua pihak untuk mengidentifikasi bentuk kerja sama lanjutan.

Oki Muraza menyebut penandatanganan nota kesepahaman sebagai bagian dari inisiatif Pertamina menuju transisi energi bersih dan pengembangan bisnis rendah karbon. Namun, keterangan yang tersedia belum merinci jalur konversi yang akan dipilih atau standar keberlanjutan yang harus dipenuhi apabila bahan baku tersebut nantinya diarahkan ke pasar penerbangan.

Berbeda dari program pengumpulan minyak jelantah

FOG dari pengelolaan air limbah perlu dibedakan dari minyak jelantah rumah tangga yang dikumpulkan dalam wadah terpisah. Sumber, tingkat kontaminasi, konsistensi mutu, dan tahapan pemurniannya dapat berbeda. Kajian awal diperlukan untuk mengetahui berapa bagian material yang layak dipulihkan dan bagaimana bahan itu harus diproses sebelum masuk ke rantai produksi biofuel.

Pembedaan tersebut penting karena istilah SAF merujuk pada bahan bakar penerbangan yang harus memenuhi persyaratan teknis dan keberlanjutan tertentu. Pengumuman Pertamina dan PAL Jaya baru menyebut SAF sebagai salah satu kemungkinan produk, bukan hasil produksi yang sudah tersedia.

Menambah opsi bahan baku rendah karbon

Bagi Indonesia, eksplorasi FOG dapat memperluas pembahasan bahan baku biofuel di luar minyak sawit. Indonesia telah mengembangkan biodiesel berbasis FAME untuk transportasi darat, sedangkan bioavtur memiliki rantai teknologi dan kebutuhan mutu yang berbeda. Penjelasan dasar mengenai perbedaan biodiesel, HVO, dan bioavtur dapat dibaca di panduan Media Biodiesel.

Secara analitis, nilai berita kerja sama ini terletak pada upaya menghubungkan pengelolaan limbah perkotaan dengan pengembangan energi. Keberhasilannya tetap akan ditentukan oleh hasil kajian bahan baku, biaya pengumpulan dan pemurnian, kepastian pasokan, teknologi konversi, serta kemampuan produk akhirnya memenuhi standar penerbangan. Pertamina dan PAL Jaya belum memberikan jadwal untuk keputusan investasi setelah kajian selesai.

Sumber & Referensi

Baca Selanjutnya