Senin, 2 November 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

Indonesia Luncurkan Rencana Aksi SAF di Bali, Penerapan Masih Disiapkan

Pemerintah meluncurkan rencana aksi pengembangan SAF pada Bali International Airshow 2024. Peta jalan penerapan dan kajian bahan baku masih membutuhkan langkah lanjutan.

Ilustrasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan dalam pengembangan penerbangan Indonesia
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Badung — Pemerintah Indonesia meluncurkan rencana aksi pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) dalam Bali International Airshow 2024 pada Rabu, 18 September 2024. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaitkan langkah itu dengan komitmen pengurangan emisi. Peluncuran rencana aksi ini belum berarti aturan kewajiban pemakaian SAF telah ditetapkan ataupun produksi komersialnya sudah terbukti berjalan.

Menurut laporan ANTARA dari Badung, Luhut mengatakan pemerintah akan segera mengadakan rapat untuk menyusun peta jalan penerapan SAF dan menelaah sumber daya potensial. Sementara itu, siaran Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut pengungkapan peta jalan nasional sebagai bagian dari agenda airshow. Dua keterangan tersebut perlu dibaca sesuai tahapnya: rencana dan arah strategis diperkenalkan di Bali, sedangkan rincian pelaksanaan serta kajian bahan bakunya masih memerlukan pekerjaan lanjutan sebagaimana dijelaskan Luhut kepada ANTARA.

Rencana aksi diluncurkan, penerapan masih disiapkan

Dalam liputan ANTARA, Luhut menyebut peluncuran rencana aksi sebagai bagian dari komitmen Indonesia menuju emisi nol bersih. Namun, ketika ditanya tentang langkah berikutnya, ia mengatakan akan menggelar rapat untuk merumuskan peta jalan penerapan. Pernyataan ini menunjukkan perbedaan antara mengumumkan arah kebijakan dan menetapkan mekanisme yang siap dijalankan di seluruh industri penerbangan.

Siaran resmi Kemenko Marves, juga bertanggal 18 September, menggunakan istilah pengungkapan peta jalan nasional untuk memajukan industri SAF. Kementerian itu menempatkannya dalam ambisi menuju penerbangan net-zero pada 2050. Target tersebut adalah sasaran yang disampaikan pemerintah, bukan laporan bahwa emisi penerbangan telah mencapai nol atau bahwa seluruh kebutuhan bahan bakar sudah dapat dipenuhi dengan SAF.

Kedua sumber tidak merinci dalam bahan yang dikutip di sini suatu mandat pencampuran, tanggal mulai kewajiban pemakaian, volume produksi yang telah terealisasi, atau angka kapasitas fasilitas SAF. Karena itu, peluncuran pada airshow lebih tepat dipahami sebagai langkah perencanaan dan penggalangan pembahasan ketimbang bukti penerapan komersial pada skala tertentu.

Bahan baku potensial dan studi lanjutan

ANTARA melaporkan Luhut menyebut minyak kelapa, rumput laut, dan ampas beras sebagai sumber daya yang dinilai berpotensi menjadi bahan untuk SAF. Daftar itu merupakan bahan yang hendak dieksplorasi, bukan pernyataan bahwa ketiganya sudah lolos seluruh uji teknis atau dipakai dalam produksi komersial. Menurut laporan yang sama, Luhut juga akan meminta Pertamina bekerja sama dengan sejumlah maskapai untuk studi lanjutan mengenai penggunaan sumber daya tersebut.

Tahap studi penting dibedakan dari hasil operasional. Keterangan mengenai rencana kerja sama tidak sama dengan pengumuman kontrak pasokan, penerbangan rutin berbahan SAF, ataupun bukti kemampuan produksi dengan bahan baku yang disebutkan. ANTARA tidak menyajikan hasil studi itu dalam berita peluncuran, sehingga penilaian mengenai kelayakan setiap sumber daya masih menunggu temuan berikutnya.

Pembahasan SAF di forum penerbangan Bali

Dalam siaran Kemenko Marves, Forum Transportasi Udara Asia Pasifik 2024 di rangkaian Bali International Airshow mengangkat perluasan produksi dan penggunaan SAF serta solusi ruang udara yang lebih terintegrasi. Pemerintah menempatkan agenda tersebut dalam pembicaraan mengenai masa depan penerbangan berkelanjutan. ANTARA juga melaporkan bahwa peralihan dari avtur fosil ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan menjadi salah satu dialog utama di pameran kedirgantaraan itu.

ANTARA mengaitkan diskusi tersebut dengan agenda Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) tentang peran SAF dan bahan bakar penerbangan rendah karbon dalam pengurangan emisi CO2. Konteks internasional itu menjelaskan mengapa Indonesia membahas bahan bakar penerbangan alternatif di Bali, tetapi tidak dengan sendirinya menetapkan persyaratan domestik baru bagi maskapai. Yang diumumkan pada 18 September adalah rencana aksi; bagaimana bahan baku dipilih, bagaimana studi dengan pelaku industri berjalan, dan bagaimana peta jalan diterapkan menjadi tahapan yang masih perlu diperjelas.

Sumber & Referensi

Baca Selanjutnya