Kamis, 15 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

Garuda Terbang Komersial Perdana dengan Bioavtur J2.4 Jakarta–Solo

Garuda Indonesia menerbangkan Boeing 737-800NG dengan campuran bioavtur J2.4 produksi Pertamina pada 27 Oktober 2023.

Ilustrasi pesawat komersial putih sedang diisi bahan bakar di bandara Indonesia
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Garuda Indonesia pada 27 Oktober 2023 menerbangkan pesawat komersial dengan campuran bioavtur J2.4 pada rute Jakarta–Solo. Penerbangan GA 164 menggunakan Boeing 737-800NG dan menjadi penerbangan komersial perdana maskapai nasional yang memakai bahan bakar penerbangan dengan komponen berbasis sawit yang diproduksi Pertamina.

Sekretariat Kabinet melaporkan pesawat berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Adi Soemarmo. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyebut penerbangan itu sebagai tonggak pengembangan energi terbarukan untuk sektor penerbangan Indonesia.

Dari uji teknis ke penerbangan berpenumpang

Penerbangan komersial tersebut berlangsung setelah rangkaian pengujian bahan bakar dan penerbangan uji. Reuters melaporkan Pertamina memproduksi bahan bakar J2.4 di Kilang Cilacap dengan teknologi yang mengolah minyak inti sawit menjadi komponen bahan bakar jet, lalu mencampurkannya ke avtur konvensional.

Penamaan J2.4 merujuk pada komponen nabati dalam campuran bahan bakar. Pada penerbangan ini, bahan bakar dipakai oleh pesawat komersial yang membawa penumpang, bukan semata-mata pesawat uji. Peralihan dari pengujian ke operasi berjadwal menjadi bukti bahwa rantai produksi, penyimpanan, pengisian, dan penggunaan di pesawat dapat dijalankan dalam satu penerbangan komersial.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan penggunaan bahan bakar itu merupakan bagian dari komitmen maskapai untuk mengurangi emisi. Namun, Reuters mencatat bahwa pembahasan mengenai penggunaan komersial yang lebih luas masih harus berlanjut, termasuk perhitungan keekonomian dan ketersediaan pasokan.

Peluang dan pekerjaan rumah bioavtur sawit

Indonesia memiliki basis bahan baku sawit dan infrastruktur pengolahan minyak yang besar. Penerbangan Jakarta–Solo menunjukkan salah satu jalur pemanfaatannya di luar biodiesel untuk kendaraan darat. Kilang Cilacap menjadi titik penting karena Pertamina mengembangkan proses untuk menghasilkan komponen bahan bakar penerbangan dari minyak nabati.

Meski demikian, satu penerbangan belum berarti bioavtur J2.4 tersedia secara luas untuk seluruh armada. Produksi berkelanjutan memerlukan kepastian bahan baku, kapasitas kilang, sertifikasi mutu penerbangan, logistik ke bandara, dan harga yang dapat diterima maskapai. Klaim pengurangan emisi juga perlu dinilai berdasarkan keseluruhan siklus hidup bahan bakar, bukan hanya emisi saat pesawat terbang.

Tonggak untuk industri penerbangan Indonesia

Penerbangan 27 Oktober memberi Indonesia pengalaman operasional penting dalam penggunaan bahan bakar nabati di pesawat komersial. Pemerintah dan perusahaan terlibat dapat memakai pengalaman tersebut untuk menilai mutu produk, penanganan di darat, performa pesawat, serta kebutuhan pengembangan produksi.

Bagi Pertamina, keberhasilan penerbangan menjadi pembuktian produk yang telah melalui tahap riset dan uji. Bagi Garuda, penerbangan tersebut membuka jalan untuk menguji bagaimana bahan bakar berkomponen terbarukan dapat masuk ke operasi maskapai tanpa mengubah tipe pesawat yang digunakan.

Per 27 Oktober 2023, J2.4 masih merupakan langkah awal, bukan penerapan massal. Nilai strategisnya terletak pada keberhasilan membawa bahan bakar produksi dalam negeri ke penerbangan komersial dan menghubungkan industri sawit, kilang, distribusi avtur, serta maskapai dalam satu rantai penggunaan nyata.

Sumber & Referensi

Baca Selanjutnya