Senin, 12 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

Pertamina Uji Biogasoline Sawit dan Perluas Bioetanol Sorgum

Pertamina menyiapkan uji biogasoline sawit di dua kilang dan memperluas pengembangan bioetanol berbasis sorgum serta bahan baku lokal.

Ilustrasi fasilitas riset biofuel dengan tanaman sorgum, buah sawit, dan sampel bahan bakar nabati
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Pertamina mengembangkan biogasoline berbasis kelapa sawit untuk diuji di dua kilang, sekaligus memperluas riset bioetanol dari molase ke sorgum dan bahan baku lokal lain. Langkah yang diumumkan pada 10 Oktober 2026 itu menunjukkan strategi biofuel perusahaan mulai bergerak melampaui biodiesel B50 menuju portofolio bahan bakar rendah emisi untuk kendaraan darat dan penerbangan.

Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan mengatakan diversifikasi tersebut ditujukan untuk memperbanyak sumber energi domestik. Selain biogasoline sawit, perusahaan mengembangkan bioetanol berbahan molase atau tetes tebu dan mengkaji bahan baku alternatif yang dapat memenuhi spesifikasi pencampuran dengan bensin.

Biogasoline sawit akan masuk tahap uji kilang

Menurut laporan Kompas.com, biogasoline berbasis sawit akan diuji coba di dua kilang Pertamina. Perusahaan belum memerinci lokasi kilang, kapasitas uji, jadwal produksi komersial, maupun persentase campuran yang ditargetkan. Karena itu, pengembangan ini masih perlu dibaca sebagai tahap teknologi dan validasi, bukan sebagai pengumuman produk baru yang siap dijual.

Pertamina pada saat yang sama memanfaatkan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) sebagai bahan baku bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF). Rangkaian proyek tersebut memperlihatkan pendekatan yang berbeda untuk tiap moda: minyak sawit dan bahan nabati lain untuk bensin rendah karbon, molase serta sorgum untuk bioetanol, dan minyak jelantah untuk bahan bakar penerbangan.

Ary menilai perluasan biofuel tetap memerlukan dukungan kebijakan pemerintah, termasuk mandat pemanfaatan bahan bakar nabati. Regulasi menjadi penting karena proyek biofuel tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan teknis, tetapi juga kepastian permintaan, harga bahan baku, investasi kilang, dan standar mutu bahan bakar.

Sorgum diuji dari kebun hingga proses produksi

Untuk bioetanol, Pertamina sebelumnya mengembangkan proyek percontohan fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur. Pada September 2026, Pertamina New & Renewable Energy juga meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, dengan kapasitas hingga 60 kiloliter per tahun.

Fasilitas Lampung berfungsi sebagai tempat uji berbagai bahan baku dan teknologi sebelum proyek dinaikkan ke skala demonstrasi atau komersial. Proses yang diuji mencakup pra-perlakuan, hidrolisis, fermentasi, distilasi, dan dehidrasi. Modelnya memakai pendekatan multi-feedstock serta teknologi bioetanol generasi pertama dan kedua.

Sorgum menjadi salah satu bahan baku yang dipertimbangkan karena dapat dipanen hingga tiga kali setahun. Nira sorgum dapat digunakan untuk bioetanol generasi pertama, sedangkan sisa batang atau biomassanya dapat diuji sebagai bahan baku generasi kedua. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan tanaman secara menyeluruh, meski kelayakan ekonomi dan pasokan bahan baku skala besar masih harus dibuktikan.

Diversifikasi mengurangi ketergantungan pada satu bahan baku

Pengembangan biogasoline, bioetanol, SAF, dan biodiesel secara bersamaan dapat mengurangi ketergantungan strategi biofuel pada satu jenis bahan baku atau satu pasar. Namun, masing-masing jalur memiliki tantangan berbeda. Biogasoline membutuhkan kompatibilitas dengan spesifikasi bensin dan proses kilang, bioetanol memerlukan rantai pasok tanaman bergula atau berpati, sedangkan SAF menghadapi standar penerbangan dan kebutuhan sertifikasi yang ketat.

Bagi Indonesia, nilai berita utama dari langkah Pertamina bukan hanya penambahan daftar bahan bakar nabati. Yang lebih penting adalah pergeseran menuju pengujian bahan baku lokal secara sistematis sebelum keputusan investasi komersial. Hasil uji teknis, biaya produksi, keberlanjutan bahan baku, serta besarnya mandat pemerintah akan menentukan apakah biogasoline sawit dan bioetanol sorgum dapat berkembang dari proyek percontohan menjadi pasokan energi berskala nasional.

Sumber & Referensi

Baca Selanjutnya