Jumat, 16 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Internasional

EPA Tetapkan RFS 2023–2025, Biodiesel Naik hingga 3,35 Miliar Galon

EPA menetapkan kewajiban bahan bakar terbarukan AS hingga 2025, dengan volume biomass-based diesel naik bertahap menjadi 3,35 miliar galon.

Ilustrasi fasilitas biodiesel Amerika Serikat, ladang kedelai, truk tangki, dan gedung pemerintahan
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Washington — Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) pada 21 Juni 2023 menetapkan kewajiban Renewable Fuel Standard (RFS) untuk 2023–2025. Total bahan bakar terbarukan ditetapkan 20,94 miliar renewable identification numbers (RIN) pada 2023, 21,54 miliar pada 2024, dan 22,33 miliar pada 2025, dengan porsi biomass-based diesel naik hingga 3,35 miliar galon pada tahun terakhir.

Aturan final tersebut menjadi penetapan volume multi-tahun pertama EPA setelah target yang ditulis langsung oleh Kongres berakhir pada 2022. Program RFS mewajibkan volume tertentu bahan bakar terbarukan masuk ke pasokan bahan bakar transportasi Amerika Serikat, dengan kepatuhan dibuktikan melalui RIN.

Volume biodiesel naik bertahap

EPA menetapkan volume biomass-based diesel sebesar 2,82 miliar galon untuk 2023, 3,04 miliar galon untuk 2024, dan 3,35 miliar galon untuk 2025. Kategori advanced biofuel yang mencakup biomass-based diesel ditetapkan masing-masing 5,94 miliar, 6,54 miliar, dan 7,33 miliar RIN.

Untuk seluruh kategori renewable fuel, angka 2024 naik 1,09 miliar galon dibandingkan kewajiban 2022. EPA menyatakan peningkatan tersebut didukung pertumbuhan pasokan diesel terbarukan dan bahan bakar terbarukan lain yang memenuhi ketentuan program.

Lembaga itu memperkirakan aturan tiga tahun tersebut akan mengurangi impor minyak Amerika Serikat sekitar 130.000–140.000 barel per hari dan menekan emisi karbon dioksida sekitar 130 juta ton metrik sepanjang periode. Angka itu merupakan proyeksi EPA berdasarkan analisis dampak aturan, bukan realisasi yang sudah terjadi.

Industri menilai target masih terlalu rendah

Clean Fuels Alliance America menyambut kenaikan volume, tetapi mengkritik besarannya. Organisasi industri tersebut mengatakan standar biomass-based diesel 2023 hanya naik menjadi 2,82 miliar galon dari 2,76 miliar galon pada 2022, sedangkan tambahan kumulatif hingga 2025 dinilai terlalu kecil dibandingkan kapasitas produksi biodiesel dan renewable diesel Amerika Utara.

Menurut Clean Fuels, kapasitas industri telah mencapai sekitar 5,8 miliar galon per tahun. Organisasi itu memperingatkan target EPA dapat menahan investasi baru dan tidak sepenuhnya mencerminkan pasokan yang tersedia. Pernyataan ini merupakan posisi pelaku industri yang menginginkan mandat lebih tinggi.

Reuters melaporkan pasar juga kecewa karena target akhir berada di bawah ekspektasi sebagian pelaku biofuel. EPA pada saat yang sama tidak meneruskan usulan awal untuk memasukkan kredit bagi kendaraan listrik dalam aturan final ini, dan menyatakan akan mempertimbangkan jalur tersebut secara terpisah.

Implikasi bagi Indonesia

Analisis Media Biodiesel: kenaikan kewajiban biomass-based diesel menunjukkan permintaan kebijakan Amerika Serikat terhadap bahan bakar diesel terbarukan tetap tumbuh. Namun, angka RFS tidak otomatis menjadi kuota impor biodiesel sawit Indonesia. Bahan bakar dan bahan bakunya tetap harus memenuhi definisi renewable biomass, jalur produksi yang disetujui, pengurangan emisi siklus hidup, serta ketentuan administrasi RIN.

Perbedaan antara target EPA dan tuntutan industri juga penting bagi pasar minyak nabati global. Mandat yang lebih tinggi dapat memperbesar kebutuhan bahan baku untuk biodiesel dan renewable diesel, sedangkan target yang lebih rendah dari harapan dapat menahan proyeksi permintaan. Pada 21 Juni 2023, keputusan final memberi kepastian volume selama tiga tahun, tetapi tetap menyisakan perdebatan tentang seberapa cepat kapasitas produksi Amerika Serikat akan diserap.

Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan sebagai indikator persaingan bahan baku dan kebijakan biofuel internasional, bukan sebagai jaminan pasar untuk CPO atau FAME. Pelaku Indonesia perlu membaca volume RFS bersama aturan kelayakan bahan baku dan intensitas emisi Amerika Serikat sebelum menilai peluang perdagangan.

Sumber & Referensi