Harga CPO Menguat Jelang Anggaran 2027 Malaysia, KPBN Naik ke Rp14.850 per Kg
Harga CPO domestik dan Bursa Malaysia kompak menguat pada Kamis (8/10), didorong ekspektasi Malaysia mengusulkan pembebasan sementara bea ekspor dalam Anggaran 2027.
Jakarta — Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat di pasar domestik dan Malaysia pada Kamis (8/10/2026), menjelang pembacaan Anggaran 2027 Malaysia pada Jumat (9/10). Harga CPO acuan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom ditetapkan Rp14.850 per kilogram, naik Rp225 atau 1,54 persen dari Rp14.625 per kilogram pada Rabu (7/10).
Kenaikan di pasar domestik sejalan dengan penguatan kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives. Menurut Bernama, kontrak Oktober dan November 2026 masing-masing naik RM138 menjadi RM4.448 dan RM4.551 per ton. Kontrak Desember 2026 menguat RM137 ke RM4.661 per ton, Januari 2027 naik RM131 ke RM4.767 per ton, Februari 2027 bertambah RM115 ke RM4.854 per ton, dan Maret 2027 naik RM91 menjadi RM4.925 per ton — posisi tertinggi di sepanjang kurva berjangka. Aktivitas perdagangan ikut melonjak: volume transaksi mencapai 160.977 lot, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 70.612 lot pada Rabu, sementara posisi kontrak terbuka (open interest) naik menjadi 333.864 kontrak.
Ekspektasi Bea Ekspor dan Permintaan India
Pendorong utama penguatan harga adalah ekspektasi bahwa Malaysia akan mengusulkan pembebasan sementara bea ekspor CPO dalam Anggaran 2027. Menurut Business Recorder, pasar ditopang spekulasi bahwa Malaysia mungkin mengusulkan penghapusan bea ekspor CPO dalam sidang anggaran, yang akan membuat ekspornya lebih kompetitif dibanding Indonesia.
Permintaan dari India turut menopang sentimen. India — pembeli minyak sawit terbesar dunia — menyerap pasokan dalam jumlah besar dalam beberapa hari terakhir, sementara gangguan logistik minyak bunga matahari dari kawasan Laut Hitam akibat konflik Rusia–Ukraina membuat India beralih ke minyak sawit. Harga minyak mentah yang menguat juga memperbaiki ekonomi biodiesel, yang selama ini menjadi salah satu penopang permintaan CPO.
Di pasar fisik, harga CPO untuk pengiriman Oktober wilayah Malaysia Selatan naik RM110 menjadi RM4.460 per ton. Sementara itu, tender KPBN mencatat CPO Franco Dumai Rp14.850 per kilogram, FOB Talang Duku Rp14.600 per kilogram, dan Franco Teluk Bayur Rp14.650 per kilogram, belum termasuk PPN.
Relevansinya bagi Indonesia
Pergerakan CPO berdampak langsung bagi Indonesia. Minyak sawit adalah bahan baku utama biodiesel, dan harga CPO menjadi komponen utama Harga Indeks Pasar (HIP) biodiesel yang menjadi dasar insentif program mandatori B50. Untuk Oktober 2026, HIP biodiesel ditetapkan Rp15.072 per liter.
Bagi industri sawit nasional, wacana pembebasan bea ekspor CPO Malaysia layak dicermati. Jika terwujud, CPO Malaysia akan lebih murah bagi pembeli global dan memperketat persaingan dengan CPO Indonesia, yang masih dikenai pungutan ekspor. Para pelaku pasar akan memantau pengumuman Anggaran 2027 Malaysia serta data pasokan-permintaan bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) sebagai penentu arah harga selanjutnya.
Sumber & Referensi
- InfoSAWIT, "Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Kamis (8/10), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Menguat" (9 Oktober 2026) — URL
- Palm Oil Magazine, "Malaysia CPO Futures Rise to RM4,925/ton on Thursday (Oct. 8), KPBN Inacom Price Climbs to IDR 14,850/kg" (9 Oktober 2026) — URL
- Business Recorder, "Palm climbs over 3% on Indian demand, duty waiver expectations" — URL
- Kementerian Keuangan Malaysia, "Pre-Budget Statement 2027" — URL