Menghitung Emisi Biodiesel Sawit: Membaca Klaim 38,88 Juta Ton CO₂e dan Faktor Alih Guna Lahan
Pemerintah mengklaim B40 memangkas 38,88 juta ton CO₂e pada 2025. Besarnya manfaat iklim biodiesel sawit bergantung pada penangkapan metana POME dan asal lahan kebun.
Daftar isi (4 bagian)
Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan biodiesel B40 sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter dan mengklaim program itu menurunkan emisi sebesar 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen. Angka sebesar itu bergantung pada cara menghitungnya. Penurunan emisi biodiesel sawit dihitung dengan membandingkan emisi sepanjang daur hidup bahan bakar nabati dengan solar fosil yang digantikannya. Hasilnya bisa berubah drastis tergantung pada dua hal: apakah metana dari limbah pabrik sawit ditangkap, dan apakah emisi dari pembukaan lahan ikut dihitung.
Dari mana angka 38,88 juta ton?
Klaim tersebut disampaikan dalam paparan kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di Jakarta pada 8 Januari 2026, seperti dilaporkan InvestorTrust. Selain penurunan emisi, pemerintah mencatat penghematan devisa Rp130,21 triliun dan nilai tambah pengolahan CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun. Realisasi 14,2 juta kiloliter itu setara 105,2% dari target kinerja 13,5 juta kiloliter.
Jika dibagi secara sederhana, klaim tersebut setara sekitar 2,7 ton CO₂e per kiloliter biodiesel (perhitungan redaksi). Laporan media tentang paparan itu tidak merinci metodologi yang dipakai, misalnya faktor emisi solar pembanding dan batas sistem perhitungan. Karena itu, angka ini sebaiknya dibaca sebagai klaim resmi pemerintah, bukan hasil audit independen.
Tiga sumber emisi di hulu biodiesel
Analisis daur hidup (life cycle assessment, LCA) menelusuri emisi dari kebun hingga tangki. Nilai standar Uni Eropa untuk biodiesel sawit, misalnya, menjumlahkan emisi dari tiga tahap berikut:
- Budidaya: seluruh kegiatan di kebun sawit hingga tandan buah segar dipanen.
- Pengolahan di pabrik kelapa sawit: terutama metana dari limbah cair atau palm oil mill effluent (POME). Menurut Kementerian ESDM, setiap ton tandan buah segar menghasilkan 600–700 liter POME. Penguraian anaerobik limbah ini menghasilkan biogas kaya metana. Dengan kolam tertutup (covered lagoon) atau reaktor CSTR, biogas itu bisa ditangkap dan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.
- Transportasi dan distribusi: pengangkutan bahan baku dan biodiesel hingga ke titik pencampuran.
Dampak penangkapan metana terlihat dari aturan Uni Eropa. Dokumen RSPO-RED (2012) menjelaskan bahwa di bawah Renewable Energy Directive pertama, hanya nilai standar biodiesel sawit dengan penangkapan metana di pabrik yang memenuhi syarat minimal penghematan emisi 35%. Nilai standar agregatnya 37 g CO₂e per megajoule, setara penghematan 56%. Pengguna nilai itu wajib menunjukkan bukti bahwa biogas POME benar-benar ditangkap.
Faktor penentu: alih guna lahan
Perhitungan berubah jika kebun sawit berasal dari pembukaan hutan atau gambut. Dialogue Earth, dalam laporan yang dimuat ulang Project Multatuli (November 2024), mengutip studi Cerulogy 2017. Menurut studi itu, tanpa memperhitungkan karbon lahan, manfaat bersih biodiesel sawit sekitar 5–7 ton CO₂ per hektare per tahun. Namun, jika kebun berasal dari konversi gambut berhutan, emisi bersihnya justru bertambah sekitar 120 ton CO₂ per hektare per tahun.
Manajer riset IESR, Raditya Yudha Wiranegara, dalam laporan yang sama menekankan bahwa emisi harus dihitung secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Konteks nasionalnya penting: menurut NDC Indonesia 2022 yang dikutip laporan tersebut, sektor lahan menyumbang 50,13% emisi Indonesia pada 2019, lebih besar dari sektor energi (34,49%).
Uni Eropa memasukkan risiko ini ke regulasinya melalui konsep alih guna lahan tidak langsung (ILUC). Catatan informasi Irlandia untuk Dewan Energi UE (Oktober 2024) menjelaskan bahwa konsumsi biofuel dari bahan baku berisiko ILUC tinggi, seperti sawit, dibatasi pada level 2019. Porsinya harus turun hingga nol pada 31 Desember 2030, kecuali bersertifikat berisiko rendah. Sebaliknya, POME masuk Lampiran IX bagian A sebagai bahan baku biofuel maju yang dihitung ganda.
Ringkasan: apa yang membuat angka emisi berbeda
| Faktor | Pengaruh terhadap hasil |
|---|---|
| Penangkapan metana POME | Menentukan apakah biodiesel sawit lolos ambang penghematan emisi di skema UE |
| Asal lahan (hutan, gambut, lahan lama) | Dapat membalik manfaat bersih menjadi tambahan emisi |
| Batas sistem dan faktor emisi solar | Menentukan besar angka klaim nasional seperti 38,88 juta ton CO₂e |
Artinya, klaim pemerintah dan kritik pegiat lingkungan bisa sama-sama berangkat dari data yang benar, tetapi memakai batas perhitungan berbeda. Istilah teknis terkait dapat ditelusuri di kamus istilah.
Sumber & Referensi
- InvestorTrust, "Mandatori B40 Bikin Indonesia Tekan Impor Solar, Hemat Devisa Rp 130,21 Triliun" (9 Januari 2026) — https://investortrust.id/business/90818/mandatori-b40-bikin-indonesia-tekan-impor-solar-hemat-devisa-rp-130-21-triliun
- Project Multatuli/Dialogue Earth, "Will Indonesia's biodiesel push put its climate goals at risk?" (19 November 2024) — https://projectmultatuli.org/en/will-indonesias-biodiesel-push-put-its-climate-goals-at-risk/
- RSPO, "RSPO-RED Requirements for compliance with the EU Renewable Energy Directive requirements, Version 4" (10 Februari 2012) — https://rspo.org/wp-content/uploads/rspo-red-requirements-english.pdf
- Kementerian ESDM, "Limbah Sawit di Indonesia Berpotensi Hasilkan Listrik 12.654 MW" (24 Januari 2018) — https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/limbah-sawit-di-indonesia-berpotensi-hasilkan-listrik-12654-mw
- Council of the European Union, "Biofuels supply from palm oil derivatives and fraud prevention – Information from Ireland" 14325/24 (9 Oktober 2024) — https://data.consilium.europa.eu/doc/document/ST-14325-2024-INIT/en/pdf