EPA Finalkan RFS 2026–2027: Biomass-Based Diesel 9,07 Miliar RIN, Bahan Baku Impor Dipangkas 2028
EPA memfinalkan kewajiban RFS 2026–2027 dengan biomass-based diesel 9,07 miliar RIN pada 2026 dan 9,20 miliar RIN pada 2027. Mulai 2028, bahan baku asing hanya bernilai separuh.
Daftar isi (3 bagian)
Washington — Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) pada Jumat, 27 Maret 2026, memfinalkan kewajiban volume Renewable Fuel Standard (RFS) untuk 2026 dan 2027. Untuk kategori biomass-based diesel (biodiesel dan diesel terbarukan), total kewajiban ditetapkan 9,07 miliar RIN pada 2026 dan 9,20 miliar RIN pada 2027, termasuk tambahan dari realokasi pengecualian kilang kecil. EPA juga menyatakan mulai 2028 bahan bakar dan bahan baku asal luar negeri hanya akan mendapat separuh nilai kepatuhan RFS dibanding produk Amerika.
Menurut EPA seperti dikutip DTN, volume biodiesel dan diesel terbarukan dalam aturan ini sekitar 60% di atas level 2025. Kewajiban total bahan bakar terbarukan mencapai 26,81 miliar RIN pada 2026 dan 27,02 miliar RIN pada 2027, sementara porsi biofuel konvensional (etanol jagung) tetap 15 miliar.
Rincian volume final
Satu RIN (renewable identification number) setara satu galon ekuivalen etanol. Berikut tabel volume menurut EPA (miliar RIN):
| Kategori | 2026 (dasar) | 2027 (dasar) | Total 2026 | Total 2027 |
|---|---|---|---|---|
| Biomass-based diesel | 8,86 | 8,95 | 9,07 | 9,20 |
| Advanced biofuel | 10,82 | 10,98 | 11,10 | 11,32 |
| Cellulosic biofuel | 1,36 | 1,43 | 1,36 | 1,43 |
| Total bahan bakar terbarukan | 25,82 | 25,98 | 26,81 | 27,02 |
Selisih antara volume dasar dan total berasal dari realokasi 70% volume yang dikecualikan bagi kilang kecil (small refinery exemptions/SRE) periode 2023–2025. DTN melaporkan EPA sempat menimbang opsi realokasi 0% hingga 100%, sementara kelompok biofuel dan pertanian mendesak realokasi penuh. Aturan ini juga menghapus listrik terbarukan (eRIN) dari daftar bahan bakar yang memenuhi syarat.
Ada perbedaan satuan dalam pemberitaan. DTN menuliskan angka biomass-based diesel dalam "galon", sedangkan EPA memakai satuan RIN. Karena satu RIN didefinisikan sebagai satu galon ekuivalen etanol, angka RIN tidak sama dengan volume fisik biodiesel dalam galon.
Reaksi industri dan pasar
Asosiasi Clean Fuels Alliance America menyambut aturan ini sebagai kepastian yang sangat dibutuhkan setelah produksi biodiesel AS anjlok sekitar sepertiga pada 2025 dibanding 2024. Sebelumnya asosiasi itu meminta volume 2026 minimal 5,25 miliar galon. Wakil Presiden Urusan Federal Clean Fuels, Kurt Kovarik, menyebut industri siap memacu sekitar 7 miliar galon kapasitas produksi yang sudah ada, dan menegaskan biodiesel serta diesel terbarukan menyumbang 10% nilai setiap bushel kedelai AS.
Presiden dan CEO Renewable Fuels Association Geoff Cooper, seperti dikutip DTN, menyebut aturan ini mengunci kewajiban volume tertinggi sepanjang sejarah program. Analis utama DTN Rhett Montgomery mencatat harga minyak kedelai naik merespons kabar ini, namun jadwal ketentuan bahan baku asing yang baru berlaku 2028 dapat membuat sebagian pelaku pasar waswas. EPA memperkirakan aturan ini menghasilkan lebih dari US$10 miliar bagi ekonomi perdesaan dan lebih dari 100.000 lapangan kerja.
Sinyal bagi sawit dan bahan baku impor
Bagi Indonesia, poin terpenting adalah arah kebijakan bahan baku. Aturan final tidak langsung menerapkan pemotongan nilai RIN untuk impor, tetapi EPA menyatakan mulai 2028 bahan bakar dan bahan baku asing hanya bernilai separuh dari produk dalam negeri dalam kepatuhan RFS. Menurut DTN, EPA beralasan jeda hingga 2028 memberi waktu bagi produsen domestik untuk bersiap sekaligus memastikan petani Amerika yang menikmati manfaatnya.
Dengan kata lain, permintaan biodiesel AS yang melonjak berpotensi diarahkan ke bahan baku domestik, terutama minyak kedelai, ketimbang minyak nabati atau limbah impor. Bersama pembatasan asal bahan baku pada kredit pajak 45Z, kebijakan ini mempersempit peluang bahan baku dari luar Amerika Utara di pasar biofuel AS, sekaligus berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan minyak nabati global yang juga menjadi acuan harga sawit.
Sumber & Referensi
- U.S. EPA, "Final Renewable Fuel Standards for 2026 and 2027" (27 Maret 2026) — https://www.epa.gov/renewable-fuel-standard/final-renewable-fuel-standards-2026-and-2027
- DTN/Progressive Farmer, "EPA Finalizes RFS, Reallocates 70%" (27 Maret 2026) — https://www.dtnpf.com/agriculture/web/ag/crops/article/2026/03/27/epa-finalizes-rfs-reallocates-70
- Clean Fuels Alliance America, "Clean Fuels Applauds EPA's Final 2026-2027 RFS Rules" (27 Maret 2026) — https://cleanfuels.org/clean-fuels-applauds-epas-final-2026-2027-rfs-rules/