Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Edukasi

Mengenal CORSIA dan ISCC: Syarat Bioavtur Diakui di Penerbangan Internasional Mulai 2027

Bioavtur harus memenuhi kriteria keberlanjutan CORSIA dan bersertifikat skema yang disetujui ICAO agar maskapai bisa mengklaim pengurangan emisi. Begini cara kerjanya.

Pesawat-pesawat terparkir di apron bandara internasional di Bali
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF) tidak cukup hanya lolos uji mesin agar diakui di penerbangan internasional. Bahan bakar itu juga harus memenuhi kriteria keberlanjutan CORSIA, skema pengimbangan dan pengurangan karbon penerbangan internasional milik Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), dan dibuktikan lewat sertifikasi dari skema yang disetujui ICAO, seperti ISCC. Tanpa itu, maskapai tidak bisa mengklaim pengurangan emisi dari SAF yang mereka beli.

Apa itu CORSIA?

CORSIA adalah singkatan dari Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation. Menurut IATA, skema ini disepakati pemerintah negara-negara pada 2016, dan standarnya diadopsi ICAO sebagai Annex 16 Volume IV Konvensi Chicago pada 27 Juni 2018. ICAO menyebutnya sebagai skema berbasis pasar global pertama yang berlaku untuk satu sektor.

Prinsipnya, maskapai wajib mengimbangi (offset) kenaikan emisi CO₂ penerbangan internasional di atas garis dasar. IATA mencatat garis dasar sejak 2024 hingga skema berakhir pada 2035 adalah 85% dari emisi 2019. Tahapannya sebagai berikut:

  • Sejak 1 Januari 2019: operator dengan emisi di atas 10.000 ton CO₂ per tahun wajib melaporkan emisinya.
  • Fase pilot (mulai 2021) dan fase pertama (2024–2026): kewajiban offset hanya berlaku untuk penerbangan antarnegara yang ikut secara sukarela.
  • Mulai 2027 (fase kedua): seluruh penerbangan internasional terkena kewajiban offset, kecuali rute dari dan ke negara kurang berkembang, negara kepulauan kecil, negara tanpa laut, dan negara dengan porsi lalu lintas internasional sangat kecil, kecuali mereka ikut sukarela.

IATA mencatat 130 negara berpartisipasi per 1 Januari 2026.

Di mana peran SAF?

Menurut ICAO, maskapai dapat mengurangi kewajiban offset dengan memakai CORSIA Eligible Fuel (CEF). Ada dua jenis CEF: CORSIA sustainable aviation fuel, yakni bahan bakar penerbangan terbarukan atau berbasis limbah, dan CORSIA lower carbon aviation fuel, bahan bakar berbasis fosil. Keduanya harus memenuhi Kriteria Keberlanjutan CORSIA, yang edisi keempatnya terbit Juni 2025.

ICAO mengelompokkan bahan baku SAF menjadi produk utama, produk samping (by-product), residu, dan limbah. Pengelompokan ini berpengaruh pada perhitungan emisi siklus hidup, yang mengacu pada dokumen nilai emisi siklus hidup bawaan (default life cycle emissions values) atau metodologi penghitungan nilai aktual yang diterbitkan ICAO.

Peran ISCC dan sertifikasi lain

ICAO mensyaratkan produsen bahan bakar disertifikasi oleh skema sertifikasi keberlanjutan (sustainability certification scheme) yang disetujui Dewan ICAO. Daftar skema itu dimuat dalam dokumen resmi ICAO dan terus diperbarui; ICAO mencatat Bonsucro disetujui sebagai skema baru pada 22 Juni 2026. Di Indonesia, sertifikasi yang dipakai Pertamina untuk SAF-nya adalah ISCC (International Sustainability and Carbon Certification) skema CORSIA.

Dalam praktiknya, Pertamina menyatakan SAF berbahan minyak jelantah buatannya telah mengantongi sertifikat ISCC sesuai standar CORSIA, mencakup pengumpulan jelantah, produksi di Kilang Cilacap, hingga distribusi. Pada September 2024, CNN Indonesia melaporkan Virgin Australia memakai SAF berbahan jelantah yang disalurkan Pertamina di Bandara Ngurah Rai, yang disebut sebagai CEF yang dapat diklaim ke ICAO. Pada Agustus 2025, Pelita Air terbang Jakarta–Bali dengan SAF jelantah hasil co-processing Kilang Cilacap.

Mengapa bahan baku menentukan

Tidak semua bioavtur otomatis memenuhi syarat CORSIA. SVP Business Development Pertamina Wisnu Medan Santoso, seperti dikutip iNews pada September 2024, menyatakan bioavtur dari sumber minyak sawit belum memenuhi ketentuan CORSIA, sehingga untuk penerbangan internasional jelantah menjadi bahan baku alternatif yang lebih ideal.

Aspek ini makin relevan karena Kementerian Perhubungan menargetkan campuran SAF 1% mulai 2027, tahap awal hanya untuk penerbangan internasional dari Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai, menurut Antara. Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Sokhib Al Rokhman menyebut waktu pelaksanaannya bergantung pada kesiapan pasokan Pertamina. Tahun 2027 juga bertepatan dengan dimulainya fase kedua CORSIA yang berlaku bagi lebih banyak penerbangan internasional.

Ringkasnya, bagi produsen bahan bakar nabati, sertifikat keberlanjutan yang diakui ICAO sama pentingnya dengan spesifikasi teknis. Istilah lain seputar biofuel dapat ditemukan di kamus istilah Media Biodiesel.

Sumber & Referensi