Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Bioavtur & SAF

Pelita Air Terbang Perdana Pakai SAF Jelantah Pertamina, Campuran UCO 2,5% dari Kilang Cilacap

Pelita Air menerbangkan rute Jakarta–Bali pada 20 Agustus 2025 dengan SAF co-processing Kilang Cilacap yang memakai minyak jelantah dan bersertifikat ISCC CORSIA.

Pesawat penumpang sedang diisi bahan bakar di apron bandara Indonesia
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Jakarta — Pelita Air, maskapai anak usaha Pertamina, menerbangkan pesawat komersial dengan bahan bakar pesawat berkelanjutan (SAF) berbahan minyak jelantah buatan Pertamina pada Rabu, 20 Agustus 2025. Penerbangan rute Jakarta–Bali itu berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, memakai SAF hasil co-processing di Kilang Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap yang, menurut CNBC Indonesia, mengandung campuran 2,5% minyak jelantah atau used cooking oil (UCO).

Pertamina menyebut produk ini sebagai SAF pertama yang dikembangkan di Indonesia yang memenuhi standar mutu bahan bakar pesawat internasional DefStan 91-091. Perusahaan juga mengklaim Pertamina SAF sebagai yang pertama di Asia Tenggara yang berbahan baku jelantah dan dipakai untuk penerbangan komersial.

Diproduksi lewat co-processing di Kilang Cilacap

Menurut Investor Trust, SAF Pertamina dibuat dengan teknologi co-processing, yaitu mengolah minyak tanah (kerosene) bersama minyak jelantah di unit kilang yang sama. Proses ini memakai katalis "Merah Putih" yang dikembangkan Pertamina bersama produsen katalis dalam negeri. Pendekatan co-processing membuat bahan baku nabati bisa diolah di fasilitas kilang yang sudah ada tanpa harus membangun kilang terpisah. Penjelasan istilah teknis seperti ini bisa dilihat di kamus istilah Media Biodiesel.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, seperti dikutip Warta Ekonomi, menyatakan SAF produksi Pertamina mampu menurunkan emisi karbon hingga 84% dibandingkan avtur konvensional berdasarkan pengujian perusahaan. Angka tersebut merupakan klaim Pertamina dan belum disertai rincian metodologi dalam pemberitaan.

Sertifikasi ISCC CORSIA dan RED EU

Aspek sertifikasi menjadi sorotan karena menentukan apakah SAF dapat dipakai dan diklaim untuk penerbangan internasional. Menurut Katadata, Pertamina SAF telah mengantongi sertifikat International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) sesuai skema CORSIA—skema pengurangan dan pengimbangan karbon penerbangan internasional milik Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Sertifikasi itu mencakup seluruh rantai, mulai dari pengumpulan minyak jelantah, fasilitas produksi di kilang, hingga transportasi dan distribusi SAF. Produk ini juga disebut tersertifikasi Renewable Energy Directive Uni Eropa (RED EU).

Simon menyebut sertifikasi tersebut menunjukkan Pertamina SAF siap digunakan untuk penerbangan internasional. Ia juga mengklaim Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan di ASEAN yang membangun ekosistem SAF lengkap dari hulu ke hilir.

Rencana perluasan: Dumai, Balongan, dan pengumpulan jelantah

Pertamina berencana mereplikasi produksi SAF berbasis jelantah di Kilang RU II Dumai dan RU VI Balongan, menurut Katadata dan Investor Trust. Untuk pasokan bahan baku, Pertamina Patra Niaga akan memperluas pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat, yang diharapkan menciptakan peluang ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Dari sisi pasar, penggunaan Pertamina SAF akan didorong terutama oleh Pelita Air, kemudian secara bertahap ke penerbangan internasional. Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan, seperti dikutip Warta Ekonomi, berharap SAF tidak hanya dipakai Pelita Air, tetapi juga maskapai lain hingga Indonesia dapat mengekspornya. Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menilai potensi minyak jelantah di Indonesia sangat besar dan menargetkan Indonesia menjadi pusat produsen SAF di kawasan ASEAN.

Acara penerbangan khusus tersebut dihadiri sejumlah pejabat, antara lain Kepala Staf Kepresidenan A.M. Putranto, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, serta Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa.

Penumpang tak merasakan perbedaan

CNBC Indonesia melaporkan sejumlah penumpang penerbangan perdana itu mengaku tidak merasakan perbedaan berarti dibanding penerbangan dengan avtur biasa. Direktur Transformasi Bisnis dan Keberlanjutan Pertamina Agung Wicaksono menyebut penerbangan ini sebagai tonggak sejarah yang harus terus berlanjut.

Hingga peluncuran ini, Pertamina belum mengungkap volume produksi maupun kapasitas kilang untuk SAF berbahan jelantah, termasuk berapa banyak minyak jelantah yang perlu dikumpulkan untuk memasok penerbangan secara rutin.

Sumber & Referensi