Ringkasan Riset: Kertas Kerja BI — Di B50–B70, Devisa CPO yang Hilang Lampaui Hemat Impor Solar
Kertas kerja peneliti Bank Indonesia (WP/05/2025) menemukan B50–B70 memperlebar defisit transaksi berjalan dan menurunkan PDB riil 0,54%–0,78%, karena devisa CPO yang hilang melebihi penghematan impor solar.
Daftar isi (4 bagian)
Sebelas peneliti Bank Indonesia menyimpulkan bahwa pada bauran B50 hingga B70, devisa ekspor CPO yang hilang secara sistematis melampaui penghematan impor solar. Akibatnya, defisit transaksi berjalan melebar serta PDB riil dan konsumsi rumah tangga turun. Temuan itu dimuat dalam kertas kerja "Pushing Biodiesel Boundaries: B50 & Beyond – Promise or Premature?" (WP/05/2025) karya MHA Ridhwan dan kawan-kawan, yang diunggah ke situs Bank Indonesia pada Maret 2026. Para penulis menegaskan kertas kerja ini mewakili pendapat mereka, bukan posisi resmi Bank Indonesia.
Temuan utama
- Neraca eksternal. Dalam simulasi, tambahan defisit transaksi berjalan akibat program biodiesel naik dari 0,18% PDB pada 2025 menjadi 0,32% PDB pada 2030 jika bauran dipertahankan di B50. Angkanya menjadi 0,38% PDB bila bauran naik bertahap, dan 0,45% PDB pada jalur ambisius menuju B70.
- Pertumbuhan dan kesejahteraan. Model keseimbangan umum (CGE) menunjukkan PDB riil sisi pengeluaran turun 0,54% (B50), 0,71% (B60), dan 0,78% (B70) dibanding baseline. Konsumsi riil rumah tangga turun 0,19%, 0,45%, dan 0,47%, sementara volume impor naik 1,99%, 2,2%, dan 2,71%.
- Daerah sentra sawit. Pada skenario B50, PDRB seluruh 10 provinsi penghasil sawit utama turun dari baseline. Penurunan terdalam terjadi di Kalimantan Timur (−0,62%), Kalimantan Tengah (−0,53%), dan Sumatera Selatan (−0,44%).
- Beban insentif. Pada beberapa periode, insentif biodiesel melampaui Rp6.000 per liter, sedangkan subsidi solar hanya sekitar Rp500–1.500 per liter. Selama insentif per liter lebih besar daripada subsidi solar, setiap kenaikan bauran langsung menambah kebutuhan dana.
- Inflasi. Dampak kenaikan harga CPO terhadap inflasi pada skenario B50 dan B60 diperkirakan hanya sekitar 0,01–0,02 poin persentase.
- Emisi versus lahan. Simulasi mencatat B50 menurunkan intensitas emisi bahan bakar 32,20% (gCO₂e/MJ) dibanding solar murni. Namun, B50 membutuhkan 17,85 juta KL biodiesel, 21 juta ton CPO, dan 5.250.000 hektare lahan. Menurut penulis, jika bahan baku tambahan berasal dari konversi hutan dan gambut, penghematan emisi bisa tergerus, bahkan berbalik.
Metodologi
Penulis menyusun neraca material CPO dan biodiesel, lalu menghitung selisih antara penghematan impor solar dan potensi ekspor CPO yang hilang, ditambah kebutuhan subsidi per skenario. Hasilnya dimasukkan ke model CGE 207 sektor yang mencakup 34 provinsi, gabungan model ORANI dan WAYANG, yang dikalibrasi dengan tabel input-output nasional dan antarwilayah BPS. Besaran guncangan diturunkan dari proyeksi SARIMA atas data bulanan Januari 2021–Agustus 2025 dengan B30 sebagai baseline. Untuk B50, output solar turun 38% dan biodiesel naik 27%. Untuk B60 angkanya −46% dan +33%, sedangkan untuk B70 −55% dan +39%. Kajian ini dilengkapi diskusi kelompok terarah dengan Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, LPEM FEB UI, BRIN, BPDPKS, APROBI, dan INDEF, serta survei lapangan di Fuel Terminal Balongan.
Keterbatasan
- Dinyatakan penulis: dokumen ini adalah riset yang masih berjalan (research in progress) dan bukan posisi Bank Indonesia.
- Dinyatakan penulis: elastisitas Armington, tenaga kerja, dan permintaan ekspor dibuat seragam antarsektor, sehingga respons khas tiap sektor tidak tertangkap.
- Dinyatakan penulis: asumsi produktivitas sawit konstan tergolong "kuat". Jika hasil panen lebih rendah, tekanan pada ekspor dan penggunaan nonenergi akan lebih berat. Penulis juga menyarankan riset lanjutan yang menautkan model energi dengan dinamika alih guna lahan dan emisi gambut.
- Catatan redaksi: data model berakhir pada Agustus 2025 dengan baseline B30, sebelum B50 benar-benar diterapkan pada Juli 2026. Tabel defisit transaksi berjalan tidak mencantumkan satuan nominal, sehingga kami hanya mengutip rasionya terhadap PDB. Selain itu, teks menyebut dampak inflasi 0,01–0,02 poin persentase, sedangkan total di tabel lampiran tercatat 0,0402 (B50) dan 0,0805 (B60) poin persentase.
Relevansi bagi kebijakan B50/B60
Penulis merekomendasikan agar setiap langkah melampaui B50 dijadikan target bersyarat. Syaratnya adalah peningkatan produktivitas CPO yang terbukti, diversifikasi bahan baku, arsitektur pembiayaan yang kuat, dan tata kelola lahan. Untuk jangka pendek, mereka mengusulkan kajian dampak menyeluruh sebelum bauran dinaikkan, serta mekanisme bauran fleksibel yang menyesuaikan diri dengan pergerakan harga solar, biodiesel, dan CPO. Skenario B60 dalam kertas kerja ini relevan karena pemerintah kini mulai mengkaji B60 untuk 2027.
Pandangan pemerintah berbeda penekanannya. Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi, seperti dikutip ANTARA, menyebut B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun pada 2026. Angka tersebut adalah penghematan impor, sedangkan kertas kerja BI berargumen bahwa penghematan itu perlu disandingkan dengan potensi ekspor CPO yang hilang. Arah serupa muncul dalam kajian Pranata UI yang dilaporkan InfoSAWIT: B50 disebut dapat menghemat devisa impor solar hingga Rp172,35 triliun, tetapi berisiko mengurangi ekspor CPO senilai Rp190,5 triliun.
Sumber & Referensi
- Bank Indonesia, "Pushing Biodiesel Boundaries: B50 & Beyond – Promise or Premature?" (WP/05/2025, diunggah Maret 2026) — https://www.bi.go.id/en/publikasi/kajian/Documents/WP-05-2025.pdf
- Bank Indonesia, halaman publikasi "Pushing Biodiesel Boundaries: B50 & Beyond – Promise or Premature?" — https://www.bi.go.id/en/publikasi/kajian/Pages/Pushing-Biodiesel-Boundaries-B50-Beyond-Promise-or-Premature.aspx
- ANTARA, "B50 biodiesel could save Indonesia US$9.18 billion in forex by 2026" (21 April 2026) — https://en.antaranews.com/news/413160/b50-biodiesel-could-save-indonesia-us918-billion-in-forex-by-2026
- InfoSAWIT, "Pranata UI Researchers Push for More Flexible and Scientifically Driven National Biodiesel Policy" (18 Oktober 2025) — https://en.infosawit.com/news/16605/pranata-ui-researchers-push-for-more-flexible-and-scientifically-driven-national-biodiesel-policy