Senin, 2 November 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Kolom Pakar

Biodiesel dan SAF, Dua Jalan Memperkuat Ketahanan Energi Indonesia

Biodiesel telah digunakan dalam skala besar, sementara SAF mulai membuka pasar. Pasokan bahan baku, biaya, dan mutu menentukan kontribusinya bagi ketahanan energi.

Daftar isi (4 bagian)

Indonesia memperluas penggunaan bahan bakar nabati di darat sekaligus merintis pasokannya untuk penerbangan. Biodiesel mengurangi kebutuhan komponen solar fosil, sedangkan sustainable aviation fuel atau SAF membuka peluang pengolahan bahan baku menjadi bahan bakar pesawat.

Keduanya menawarkan tambahan sumber energi domestik. Namun, manfaatnya bergantung pada kemampuan industri menyediakan produk secara konsisten, menjaga harga, dan memenuhi kebutuhan pengguna. Besarnya produksi perlu diikuti distribusi yang andal serta pengurangan emisi yang dapat dibuktikan.

Biodiesel meluas, distribusi tetap menjadi ujian

Hingga pertengahan September 2026, Kementerian ESDM mencatat B50 telah disalurkan melalui 6.050 dari 6.412 SPBU dalam cakupan pelaporannya, atau sekitar 94 persen. B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel dengan 50 persen solar. Pada periode yang sama, 76 dari 104 terminal titik serah telah menyalurkannya, sementara 28 terminal masih menjalani transisi. Sumber: Kementerian ESDM.

Angka tersebut menunjukkan perluasan penggunaan, sekaligus pekerjaan yang belum selesai pada tanggal pelaporan. Cakupan SPBU tidak dapat langsung dianggap sebagai ukuran pengurangan impor maupun emisi. Penilaiannya membutuhkan data volume, konsumsi, dan kinerja bahan bakar.

Pada 19 Oktober 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Dalam keterangan yang sama, pemerintah melaporkan kendala distribusi BBM di sejumlah wilayah dan meminta penambahan armada pengangkut. Pernyataan mengenai impor itu perlu tetap diatribusikan kepada pemerintah sampai tersedia data perdagangan terperinci untuk menilai periode dan cakupannya. Sumber: Kementerian ESDM.

Bagi pengguna, ketahanan energi terasa ketika bahan bakar tersedia saat dibutuhkan. Karena itu, kesiapan kapal, terminal, tangki, dan angkutan darat sama pentingnya dengan kemampuan pabrik menghasilkan biodiesel.

SAF membuka peluang industri baru

Pengembangan SAF Indonesia telah memasuki penggunaan komersial awal. Pada Agustus 2025, Pelita Air menggunakan SAF berbahan baku minyak jelantah dalam penerbangan Jakarta-Bali. Bahan bakar tersebut dikembangkan di Kilang Cilacap. Sumber: Kementerian ESDM.

Peluang pertumbuhannya besar karena pasokan dunia masih terbatas. IATA memperkirakan produksi SAF global mencapai 2,4 juta ton pada 2026, setara sekitar 0,8 persen penggunaan bahan bakar penerbangan. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan realisasi setahun penuh. Sumber: IATA.

Estimasi produksi SAF global menurut IATA: 1 juta ton pada 2024, 1,9 juta ton pada 2025, dan proyeksi 2,4 juta ton pada 2026.


Grafik: estimasi produksi SAF global menurut IATA. Angka dibulatkan; 2026 merupakan proyeksi.

Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini melalui pengembangan pengumpulan jelantah, pengolahan, pengujian mutu, dan distribusi. Namun, limbah yang tersebar belum otomatis menjadi pasokan industri. Pengumpul harus menjamin volume, kebersihan, asal bahan, dan jadwal pengiriman.

SAF juga membutuhkan proses serta spesifikasi penerbangan tersendiri. Biodiesel FAME untuk campuran solar tidak dapat langsung dipakai sebagai bahan bakar jet. Jalur produksi dan batas pencampurannya mengikuti persetujuan teknis yang berlaku. Sumber: ICAO.

Biaya dan bahan baku menentukan daya saing

Perbedaan tahap pengembangan membuat kebutuhan kedua industri tidak sama.

Aspek

Biodiesel

SAF

Penggunaan

Campuran solar untuk mesin diesel

Bahan bakar penerbangan sesuai spesifikasi

Prioritas

Mutu, distribusi, dan pembiayaan

Pasokan bersertifikat, produksi, dan pembeli

Tantangan bersama

Biaya serta keberlanjutan bahan baku

Biaya serta keberlanjutan bahan baku

Untuk biodiesel, pemerintah menetapkan harga indeks pasar Oktober 2026 sebesar Rp15.072 per liter, ditambah ongkos angkut. Angka ini merupakan acuan biodiesel dalam program pencampuran, bukan harga eceran B50 di SPBU. Sumber: Ditjen EBTKE.

Program biodiesel didukung mekanisme pembayaran selisih kurang antara harga indeks pasar biodiesel dan solar melalui dana sawit. Dengan demikian, evaluasi manfaat ekonomi perlu memperhitungkan kebutuhan pendanaan bersama pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Sumber: BPDP.

Untuk SAF, kepastian pembeli menjadi bagian penting dari keputusan investasi. Kontrak yang menjelaskan volume, mutu, harga, dan pengiriman membantu produsen merencanakan operasi. IATA juga menekankan kebutuhan dukungan produksi, infrastruktur, dan kepastian investasi untuk memperluas pasar. Sumber: IATA.

Mengukur manfaat bagi ketahanan energi

Pengembangan kedua bahan bakar perlu memperhitungkan penggunaan bahan baku untuk pangan dan industri lain. Peningkatan produktivitas, pemanfaatan limbah, dan ketertelusuran pasokan dapat membantu memperluas produksi tanpa sekadar memindahkan tekanan ke sektor lain.

Klaim lingkungan juga memerlukan pengukuran. Metodologi ICAO memperhitungkan emisi sepanjang daur hidup bahan bakar, termasuk penyediaan bahan baku, pengolahan, transportasi, serta perubahan penggunaan lahan. Persentase campuran SAF tidak sama dengan persentase penurunan emisi. Sumber: ICAO.

Biodiesel memberi Indonesia pengalaman membangun pasar bahan bakar nabati dalam skala besar. SAF menawarkan perluasan kemampuan industri ke penerbangan. Langkah berikutnya adalah memastikan pertumbuhan keduanya menghasilkan pasokan yang lebih andal, biaya yang terkendali, dan manfaat lingkungan yang terukur. Data produksi, perdagangan, mutu, serta pembiayaan yang terbuka akan membantu menilai kemajuan tersebut.

Sumber & Referensi