Selasa, 20 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Harga & Pasar

HR CPO Desember 2024 Naik 11,40%, B40 Siapkan Permintaan Sawit Domestik

HR CPO Desember mencapai US$1.071,67 per ton, sementara B40 diperkirakan membutuhkan 15,6 juta kL biodiesel setahun. Keduanya bukan hubungan sebab-akibat yang terbukti.

Ilustrasi terminal minyak sawit dan sampel CPO di Indonesia menjelang akhir 2024
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Menjelang penutupan 2024, harga referensi (HR) minyak sawit mentah atau CPO untuk Desember ditetapkan Kementerian Perdagangan sebesar US$1.071,67 per ton, naik 11,40% dari November. Pada saat yang sama, Kementerian ESDM menyiapkan campuran biodiesel B40 mulai 1 Januari 2025 dengan kebutuhan biodiesel yang diperkirakan mencapai 15,6 juta kiloliter per tahun. Kenaikan HR dan rencana penambahan serapan biodiesel itu merupakan dua perkembangan yang beriringan, bukan bukti bahwa B40 menyebabkan lonjakan harga CPO Desember.

Harga referensi bukan harga transaksi CPO harian

Dalam siaran pers 3 Desember, Kemendag menyebut HR CPO Desember naik US$109,70 per ton dari US$961,97 per ton pada November. Angka tersebut dipakai sebagai dasar penetapan bea keluar dan pungutan ekspor, bukan harga tunai yang diterima setiap pabrik kelapa sawit atau petani. Pembaca yang mengikuti harga CPO harian perlu membedakan indikator administratif bulanan ini dari harga tender atau perdagangan pada hari tertentu.

Kemendag menjelaskan penghitungan HR menggunakan rata-rata harga selama 25 Oktober–24 November 2024. Rata-rata di bursa CPO Indonesia sebesar US$1.019,97 per ton, bursa Malaysia US$1.123,37 per ton, dan pasar lelang Rotterdam US$1.279,33 per ton. Karena selisih antar-sumber melewati ambang yang diatur, pemerintah memakai dua harga yang menjadi median dan paling dekat dengannya, yakni Indonesia dan Malaysia. Hasilnya menjadi HR Desember US$1.071,67 per ton.

Untuk periode yang sama, Kemendag menyebut bea keluar CPO US$178 per ton dan pungutan ekspor 7,5% dari HR, atau US$80,3752 per ton. Kedua instrumen itu berbeda: HR merupakan acuan, sedangkan bea keluar dan pungutan adalah kewajiban yang dihitung menurut aturan masing-masing. Besarannya tidak boleh disamakan dengan perubahan harga jual di tingkat kebun.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Isy Karim mengaitkan kenaikan HR dengan meningkatnya permintaan, terutama dari India, Eropa, dan Amerika Utara, sementara produksi global tidak bertambah sepadan. Ia juga menyebut penurunan produksi, penghentian sementara ekspor CPO Thailand, kenaikan konsumsi domestik Malaysia, dan pelemahan ringgit sebagai faktor yang ikut mendorong indikator harga.

Penjelasan resmi itu tidak menempatkan keputusan B40 Indonesia sebagai penyebab tunggal kenaikan HR Desember. Bahkan, rentang observasi harga yang digunakan untuk menetapkan HR berakhir pada 24 November. Karena itu, hubungan antara rencana penggunaan lebih banyak biodiesel dan pergerakan harga CPO tidak bisa disimpulkan hanya dengan menyandingkan kedua angka tersebut.

B40 menambah perhatian pada kebutuhan sawit dalam negeri

Dalam keterangan 28 Desember, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan keputusan terkait implementasi B40 telah ditetapkan dan kementerian memeriksa kesiapan industri fatty acid methyl ester (FAME) di Dumai. Pemerintah memperkirakan kebutuhan biodiesel untuk B40 sekitar 15,6 juta kiloliter per tahun, dengan penyaluran ke berbagai wilayah Indonesia. Angka itu adalah perkiraan kebutuhan untuk program berikutnya, bukan realisasi konsumsi CPO sepanjang 2024.

B40 berarti porsi biodiesel berbasis sawit dalam campuran solar naik menjadi 40%. Menurut ESDM, perhatian tidak berhenti pada ketersediaan bahan baku: perbedaan kondisi geografis, kesiapan fasilitas, dan distribusi juga perlu ditangani. Pertamina menyatakan fasilitas produksi serta pencampuran tengah disiapkan untuk penerapan yang direncanakan mulai 1 Januari.

Bagi pasar sawit pada akhir 2024, dua indikator tersebut memberi gambaran yang berbeda. HR Desember menunjukkan acuan ekspor yang sudah berlaku, sementara kebutuhan B40 menggambarkan potensi permintaan domestik tahun berikutnya. Perkembangan berikutnya perlu dinilai dari penyaluran aktual dan pasokan CPO, bukan dari proyeksi kebutuhan semata. Rincian kebijakan campuran tersedia di data mandatori biodiesel.

Sumber & Referensi

Baca Selanjutnya