Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Edukasi

Mengenal Katalis Merah Putih: Dari Lab ITB ke Pabrik 800 Ton per Tahun untuk D100 dan Bioavtur

Katalis Merah Putih hasil riset ITB dan Pertamina dipakai untuk membuat diesel D100 dan bioavtur J2.4 dari sawit. Kini diproduksi PT KSI di Cikampek, 800 ton per tahun, 13 jenis produk.

Butiran katalis industri di atas meja laboratorium pabrik katalis
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Katalis Merah Putih adalah katalis hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Pertamina yang dipakai untuk mengolah minyak sawit dan minyak inti sawit menjadi bahan bakar hidrokarbon, seperti diesel nabati D100 dan bioavtur J2.4. Katalis ini kini diproduksi oleh PT Katalis Sinergi Indonesia (KSI) di Cikampek, Jawa Barat, dengan kapasitas 800 ton per tahun; per Februari 2025 ragam produknya mencapai 13 jenis. Berikut penjelasan ringkas tentang apa itu katalis, bagaimana Katalis Merah Putih berkembang, dan mengapa ia penting bagi bahan bakar nabati Indonesia.

Apa itu katalis dan mengapa penting

Katalis adalah zat yang mempercepat reaksi kimia tanpa ikut habis dalam reaksi tersebut. Dalam produksi bahan bakar nabati, katalis membantu mengubah minyak sawit atau minyak jarak menjadi biodiesel, bensin, maupun avtur, sebagaimana dijelaskan dalam pemberitaan Antara mengenai pabrik katalis Cikampek. Di kilang, katalis jenis hydrotreating dipakai antara lain untuk mengolah minyak sawit menjadi diesel D100.

Masalahnya, Indonesia lama bergantung pada katalis impor. Saat peletakan batu pertama pabrik Katalis Merah Putih pada Maret 2022, Kementerian ESDM mencatat kebutuhan katalis nasional sekitar US$500 juta per tahun yang sebagian besar dipenuhi impor, dengan rincian kebutuhan sekitar 18.000 ton per tahun untuk kilang, 1.500 ton untuk petrokimia, dan 800 ton untuk oleokimia. Ketika itu, Indonesia baru memiliki satu pabrik katalis yang beroperasi di bawah lisensi Jerman.

Dari laboratorium ITB ke kilang Pertamina

Menurut InfoSAWIT, pengembangan katalis oleh peneliti ITB dimulai sejak 1982. Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) ITB, dengan tim riset katalis yang dipimpin Prof. Subagjo, kemudian bekerja sama dengan unit riset Pertamina. Beberapa tonggak pentingnya:

  • Sejak 2012: riset Pertamina RTI dan Pusat Rekayasa Katalisis ITB menghasilkan Katalis Merah Putih untuk mengolah minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur (Kementerian ESDM).
  • Desember 2014: katalis tim ITB dan Pusat Riset Pertamina diuji di Kilang RU II Dumai untuk menghasilkan diesel dari campuran bahan baku fosil dan sawit melalui co-processing (InfoSAWIT).
  • 11 Oktober 2018: ITB meresmikan Teaching Industry katalis yang memproduksi katalis untuk mengolah sawit menjadi biodiesel, bioavtur, dan biobensin (InfoSAWIT).
  • 15 Juli 2020: Kilang RU II Dumai mengolah minyak sawit olahan (RBDPO) 100% menjadi diesel biohidrokarbon D100 dengan katalis buatan TRKK ITB dan Pertamina.
  • 2021: Kilang RU IV Cilacap mencampur minyak inti sawit olahan (RBDPKO) dengan kerosin dan memprosesnya dengan Katalis Merah Putih, menghasilkan bioavtur J2.4 yang lolos uji terbang pesawat CN235 rute Bandung–Jakarta (Kementerian ESDM).

Pada tahap itu, Kementerian ESDM mencatat katalis diproduksi oleh Clariant Kujang Catalyst di Cikampek dengan pengawasan tim Pertamina RTI. Langkah berikutnya adalah membangun pabrik sendiri.

Pabrik Katalis Merah Putih di Cikampek

PT Katalis Sinergi Indonesia didirikan pada 30 Desember 2020 untuk mengomersialkan Katalis Merah Putih. Pabriknya dibangun di Kawasan Industri Kujang Cikampek dengan nilai investasi sekitar Rp286 miliar dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional.

AspekKeterangan
Pemegang sahamPertamina Lubricants 38%, Pupuk Kujang 37%, Rekacipta Inovasi ITB 25%
LokasiKawasan Industri Kujang Cikampek, Karawang, lahan 2 hektare
Kapasitas800 ton per tahun
Ragam produk (Feb 2025)13 jenis: 9 katalis hydrotreating, 4 katalis oleokimia
Produk baru 2025Adsorben SGB (Sulphur Guard Bed) dan katalis ME-Kat 200

Menurut Antara, saat awal beroperasi pabrik ini membuat tujuh jenis katalis, lalu bertambah menjadi 13 jenis pada Februari 2025. Katalis hydrotreating berperan dalam mengolah minyak sawit menjadi diesel D100, sementara katalis oleokimia melayani berbagai industri. Produk SGB dipakai untuk membuang sulfur di Kilang Kasim, Papua, milik PT Kilang Pertamina Internasional, sedangkan ME-Kat 200 mengubah metil ester menjadi fatty alcohol yang dipakai untuk cat, pelapis, dan farmasi.

Mengapa ini relevan bagi biodiesel dan bahan bakar hijau

Biodiesel yang dicampur ke solar dalam program mandatori berupa FAME (metil ester asam lemak), sedangkan D100 dan J2.4 adalah bahan bakar biohidrokarbon yang diolah di kilang Pertamina. Katalis Merah Putih terutama relevan untuk jalur kedua ini, termasuk riset biobensin. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu, seperti dikutip Antara, menyebut kebutuhan katalis selama ini dipenuhi dari impor dan pabrik ini diharapkan membuat Indonesia mandiri. Ia juga menyebut bahan baku katalis seperti kobalt, nikel, zeolit, molibdenum, dan seng tersedia di dalam negeri. Penjelasan istilah FAME dan biohidrokarbon dapat dibaca di kamus istilah.

Sumber & Referensi