Bahan Baku Biodiesel Selain Sawit: Potensi Jelantah 3 Juta KL dan Kemiri Sunan 6–8 Ton/Ha
Minyak jelantah dan kemiri sunan kerap disebut alternatif nonpangan untuk biodiesel. Ini potensi, angka resmi, dan kendala yang membuat keduanya belum menggantikan sawit.
Daftar isi (3 bagian)
Biodiesel Indonesia hampir sepenuhnya dibuat dari minyak sawit. Menurut GAPKI, sepanjang 2025 sektor biodiesel menyerap 12,704 juta ton minyak sawit, lebih banyak dari konsumsi sawit untuk pangan. Karena kebutuhan terus naik menjelang rencana B50, muncul pertanyaan apakah ada bahan baku lain yang tidak berebut dengan kebutuhan pangan. Dua kandidat yang paling sering dibahas adalah minyak jelantah dan kemiri sunan. Keduanya punya potensi, tetapi hambatannya juga nyata.
Minyak jelantah: potensinya besar, pengumpulannya sulit
Minyak jelantah (used cooking oil/UCO) adalah sisa minyak goreng dari rumah tangga, restoran, dan industri makanan. Pada April 2021, Kementerian ESDM memperkirakan potensi jelantah nasional sekitar 3 juta kiloliter per tahun. Menurut Subkoordinator Keteknikan Bioenergi ESDM saat itu, Hudha Wijayanto, volume tersebut bisa memenuhi sekitar 32% kebutuhan biodiesel nasional. Ada dua syaratnya: mutu biodiesel dari jelantah harus memenuhi standar spesifikasi, dan usahanya harus layak secara ekonomi serta bisa diterapkan.
Masalahnya ada pada ke mana jelantah itu pergi selama ini. Data yang dipaparkan dalam rilis ESDM menyebut konsumsi minyak goreng sawit sekitar 16,2 juta kiloliter. Dari jumlah itu, jelantah yang terkumpul pada 2019 hanya sekitar 3 juta kiloliter, dan 2,43 juta kiloliter di antaranya diolah kembali menjadi minyak goreng daur ulang untuk dikonsumsi. ESDM juga mencatat beberapa kendala lain:
- Sumber jelantah tersebar, tidak terpusat, sehingga sulit mencapai skala ekonomi pengolahan.
- Membangun jaringan pengumpulan seperti "bank minyak" butuh biaya besar. Pelaku usaha mencari kemitraan, misalnya lewat program CSR perusahaan besar.
- Karakter bawaan jelantah membuatnya sulit memenuhi standar mutu biodiesel yang tinggi.
- Sebagian calon pengguna, misalnya nelayan, ragu memakai biodiesel jelantah karena warnanya berbeda dari solar dan khawatir mesin rusak.
Analisis ESDM yang dikutip CNN Indonesia menyebut biodiesel menurunkan emisi karbon hingga 91,7% dibanding solar. Kementerian juga melihat penjualan langsung dalam skema tertutup ke pengguna akhir, di luar skema mandatori nasional, sebagai jalur yang lebih realistis untuk jelantah. Sejak 8 Januari 2025, pemerintah juga memperketat ekspor jelantah lewat Permendag 2/2025. Ekspor UCO kini harus mendapat alokasi dari rapat koordinasi antarkementerian. Aturan ini dibuat dengan alasan mengamankan bahan baku dalam negeri, termasuk untuk program biodiesel.
Kemiri sunan: nonpangan dan produktif, tetapi lahannya masih kecil
Kemiri sunan (Reutealis trisperma) adalah pohon yang buahnya beracun. Karena tidak bisa dimakan, minyaknya tidak bersaing dengan pangan. Dalam rilis tahun 2013, Kementerian ESDM menjelaskan bahwa tanaman ini mulai berbuah sekitar umur 4 tahun dan mencapai puncak produksi pada umur 8 tahun. Rendemen minyak kasarnya sekitar 52% dari inti biji, dan sekitar 88% minyak kasar itu bisa menjadi biodiesel. Sisanya berupa gliserol. Menurut ESDM, satu hektare berisi 100–150 pohon dapat menghasilkan 6–8 ton biodiesel per tahun. Akarnya dalam dan tajuknya rapat, sehingga tanaman ini juga cocok untuk konservasi lahan, termasuk lahan bekas tambang.
Pada April 2026, Kepala Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar Kementan, Evi Savitri Iriani, kembali menyebut kemiri sunan sebagai kandidat biodiesel nonpangan. "Jadi untuk produksi biodiesel, dia akan aman, karena peruntukannya hanya untuk biodiesel," ujarnya, seperti dikutip Katadata. Katadata juga memuat estimasi jurnal yang menyebut produktivitas minyak sawit sekitar 4–5 ton per hektare per tahun. Selain itu, biodiesel kemiri sunan disebut sudah lolos pengujian standar mutu nasional, meski rincian parameter ujinya tidak dipaparkan.
Hambatan utamanya adalah skala. Pada 2019, Republika melaporkan bahwa kebun kemiri sunan baru sekitar 1.000 hektare, kebanyakan di Jawa Barat, menurut data Kementan. Biji baru bisa dipanen untuk minyak setelah 3–5 tahun. Angka produktivitas yang beredar juga belum seragam. Direktur Bioenergi ESDM saat itu menyebut setidaknya 15 ton sumber minyak per hektare per tahun, sedangkan peneliti Balittri menyebut 7 ton per hektare per tahun. Perbedaan ini kemungkinan karena keduanya mengukur hal yang berbeda. APROBI saat itu menyatakan belum memiliki data perbandingan biaya produksi kemiri sunan dengan sawit.
Kandidat lain dan pelajarannya
Kepala Pemasaran dan Promosi APROBI Togar Sitanggang, dikutip Republika pada 2019, menyebut beberapa biji lain yang pernah dibahas sebagai sumber biodiesel: jarak pagar, bintaro, nyamplung, kepuh, dan kapuk randu. Pola tantangannya mirip. Pasokan masih kecil dan tersebar, tanaman butuh waktu bertahun-tahun sebelum berproduksi, dan keekonomiannya belum terbukti pada skala industri.
| Bahan baku | Kelebihan | Kendala utama |
|---|---|---|
| Minyak jelantah | Limbah, tidak perlu lahan baru; potensi ±3 juta KL/tahun (ESDM) | Pengumpulan tersebar, mutu, bersaing dengan daur ulang dan ekspor |
| Kemiri sunan | Beracun sehingga nonpangan; 6–8 ton biodiesel/ha/tahun (ESDM) | Lahan masih ±1.000 ha (2019), panen setelah 3–5 tahun |
| Jarak pagar, nyamplung, dll. | Nonpangan, bisa di lahan marginal | Skala kecil, keekonomian belum teruji |
Kesimpulannya, bahan baku alternatif lebih tepat dilihat sebagai pelengkap sawit, setidaknya dalam waktu dekat, bukan pengganti. Agar perannya membesar, dibutuhkan rantai pasok pengumpulan yang andal, lahan tanam yang memadai, dan bukti bahwa biodieselnya konsisten memenuhi standar mutu. Istilah-istilah teknis biodiesel dijelaskan di kamus istilah.
Sumber & Referensi
- Kementerian ESDM, "Ini Kiat Sukses Bidik Peluang Bisnis Energi dari Minyak Jelantah" (17 April 2021) — https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/ini-kiat-sukses-bidik-peluang-bisnis-energi-dari-minyak-jelantah
- CNN Indonesia, "Minyak Jelantah Diklaim Penuhi 32 Persen Kebutuhan Biodiesel" (18 April 2021) — https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210418072218-85-631281/minyak-jelantah-diklaim-penuhi-32-persen-kebutuhan-biodiesel
- Kementerian ESDM, "Pengembangan Kemiri Sunan di Daerah Pertambangan" (14 Desember 2013) — https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pengembangan-kemiri-sunan-di-daerah-pertambangan
- Republika, "ESDM: Pemanfaatan Kemiri Sunan Terkendala Suplai" (18 Januari 2019) — https://ekonomi.republika.co.id/berita/plis7l423/esdm-pemanfaatan-kemiri-sunan-terkendala-suplai
- Katadata, "Kemiri Sunan Berpotensi Jadi Kandidat Kuat Biodiesel Non-Pangan, Saingi Sawit?" (15 April 2026) — https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/energi-baru/69df0d48e7276/kemiri-sunan-berpotensi-jadi-kandidat-kuat-biodiesel-non-pangan-saingi-sawit
- CNBC Indonesia, "Resmi! Ekspor Minyak Jelantah-Limbah Sawit Diperketat, Ini Aturannya" (10 Januari 2025) — https://www.cnbcindonesia.com/news/20250110115753-4-602225/resmi-ekspor-minyak-jelantah-limbah-sawit-diperketat-ini-aturannya
- InfoSAWIT, "Indonesia's Palm Oil Production Reaches 56.55 Million Tons in 2025, Export Value Jumps to US$35.87 Billion" (17 Maret 2026) — https://www.en.infosawit.com/news/17423/indonesia---s-palm-oil-production-reaches-56-55-million-tons-in-2025--export-value-jumps-to-us-35-87-billion