Cek Fakta: Benarkah B40 dan B50 Telah Hemat Devisa Rp170 Triliun? — Menyesatkan
Angka Rp170 triliun adalah proyeksi penghematan B50, bukan bukti realisasi gabungan B40 dan B50. Komunikasi resmi ESDM juga tidak konsisten.
Daftar isi (3 bagian)
Jakarta — Klaim bahwa program B40 dan B50 telah menghemat devisa Rp170 triliun beredar dalam laporan seminar Politeknik LPP Yogyakarta yang terbit 15 Oktober 2026. Vonis: Menyesatkan. Angka Rp170 triliun tercantum dalam siaran pers Kementerian ESDM sebagai perkiraan manfaat B50, bukan laporan realisasi kumulatif B40 dan B50. Namun, komunikasi ESDM sendiri tidak konsisten: artikel kementerian pada 12 Oktober menulis angka yang sama seolah sudah terjadi. Karena itu, yang perlu diluruskan ialah status angkanya, bukan menuduh program biodiesel tidak menghasilkan penghematan.
Klaim yang diperiksa
Laman LLDIKTI Wilayah V memuat laporan seminar yang mengutip Direktur Eksekutif APROBI Fajar Wahyudi. Dalam laporan itu ia disebut menyatakan program B40 dan B50 telah menghemat devisa Rp170 triliun serta menurunkan emisi setara 44,46 juta ton CO2. Pemeriksaan ini hanya menilai klaim penghematan devisa Rp170 triliun. Kami memakai tanggal penerbitan laporan, 15 Oktober 2026, sebagai tanggal beredarnya klaim; artikel tersebut tidak menetapkan periode akuntansi untuk angka gabungan B40 dan B50.
Apa yang dinyatakan data resmi?
Siaran pers Kementerian ESDM tertanggal 9 Juli 2026 membandingkan manfaat B40 dan B50 dengan kata-kata yang mengacu pada masa depan: penghematan devisa diperkirakan meningkat dari Rp133,3 triliun pada B40 menjadi Rp170 triliun pada B50. Dokumen itu juga menyebut kebutuhan biodiesel B50 diproyeksikan 16,7–18 juta kiloliter. Jadi, Rp170 triliun dalam dokumen tersebut adalah perkiraan untuk B50, bukan total penghematan yang telah diverifikasi setelah B50 berjalan dan bukan hasil penjumlahan realisasi dua program.
Perbedaan antara realisasi dan proyeksi tampak pula dalam laporan ANTARA pada 19 Oktober 2026. ANTARA menulis bahwa B40 sepanjang 2025 menghemat devisa Rp130,21 triliun, lalu secara terpisah menyebut B50 yang diluncurkan Juli 2026 diproyeksikan menghemat hingga Rp170 triliun. Angka realisasi B40 dalam laporan tersebut juga tidak sama dengan angka Rp133,3 triliun yang dipakai ESDM sebagai pembanding dalam siaran pers Juli. Kedua angka memiliki konteks pelaporan berbeda; tidak tepat menjumlahkannya atau mempertukarkannya tanpa metodologi dan periode yang sama.
Mengapa vonisnya menyesatkan?
Masalah utamanya ada pada kata telah. Laporan seminar menyajikan angka Rp170 triliun sebagai hasil yang sudah dicapai B40 dan B50, sedangkan rujukan ESDM yang menjelaskan asal angka tersebut menyebutnya perkiraan untuk B50. Pernyataan itu mengaburkan perbedaan penting antara manfaat yang diproyeksikan dan manfaat yang benar-benar sudah dicatat. Pemeriksaan ini tidak membuktikan bahwa nilai akhir B50 mustahil mencapai angka itu; hanya saja bukti realisasi Rp170 triliun untuk gabungan B40 dan B50 tidak ditunjukkan oleh sumber-sumber yang diperiksa.
Perlu dicatat, pada 12 Oktober 2026 laman ESDM lain justru menulis bahwa B50 “menghemat devisa sekitar Rp170 triliun” tanpa penanda proyeksi. Ini menunjukkan inkonsistensi dalam komunikasi resmi, bukan dasar untuk menganggap proyeksi Juli sudah berubah menjadi realisasi. Artikel Oktober itu tidak menyajikan periode pengukuran atau perhitungan realisasi yang dapat menyelesaikan perbedaan tersebut. Pembaca sebaiknya meminta angka realisasi yang menyebut periode, volume biodiesel yang tersalurkan, asumsi impor solar pengganti, serta metode penghitungan devisa sebelum mengutip Rp170 triliun sebagai capaian yang telah terjadi.
Kesimpulannya, penghematan devisa B40 dan potensi penghematan B50 harus dipisahkan. Untuk B50, Rp170 triliun adalah angka proyeksi dalam penjelasan rinci ESDM dan dalam laporan ANTARA, sementara klaim gabungan bahwa jumlah itu telah dihemat tidak disertai dasar realisasi yang memadai. Lihat juga data mandatori biodiesel dan panduan B50 untuk memahami program campurannya.
Sumber & Referensi
- LLDIKTI Wilayah V, "Politeknik LPP Yogyakarta Gelar Chese 2026, Bahas Peran Perkebunan bagi Ketahanan Pangan dan Energi" (15 Oktober 2026) — https://lldikti5.kemdiktisaintek.go.id/home/detailpost/politeknik-lpp-yogyakarta-gelar-chese-2026-bahas-peran-perkebunan-bagi-ketahanan-pangan-dan-energi
- Kementerian ESDM, "Luncurkan Mandatori B50, ESDM Tegaskan Kesiapan Indonesia Perkuat Kedaulatan Energi" (9 Juli 2026) — https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/luncurkan-mandatori-b50-esdm-tegaskan-kesiapan-indonesia-perkuat-kedaulatan-energi
- Kementerian ESDM, "Dari Sumur Rakyat hingga Etanol, Bahlil Dorong Rakyat Jadi Pemain Energi" (12 Oktober 2026) — https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/dari-sumur-rakyat-hingga-etanol-bahlil-dorong-rakyat-jadi-pemain-energi
- ANTARA, "Dua tahun wujudkan program prioritas berdampak ke rakyat" (19 Oktober 2026) — https://www.antaranews.com/berita/5797121/dua-tahun-wujudkan-program-prioritas-berdampak-ke-rakyat?page=2
Jangan lewatkan kabar biodiesel
Newsletter mingguan: berita, harga, dan data terpenting sepekan dalam satu email tiap Jumat. Atau ikuti kanal kami untuk harga harian.