Minggu, 11 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Kebijakan

Pertamina Proyeksi B50 Pangkas Impor Solar 18 Juta KL, Hemat Rp170 Triliun

Pertamina memperkirakan B50 dapat mengurangi impor solar 18 juta kiloliter dan menghemat devisa Rp170 triliun pada 2026.

Ilustrasi terminal bahan bakar dan sampel biodiesel untuk program B50 Indonesia
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — PT Pertamina (Persero) memperkirakan penerapan biodiesel B50 dapat memangkas kebutuhan impor solar hingga 18 juta kiloliter dan menghemat devisa sekitar Rp170 triliun pada 2026. Proyeksi itu disampaikan Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta pada 7 Oktober.

B50 adalah bahan bakar diesel dengan porsi biodiesel 50 persen. Menurut Ary, peningkatan campuran biodiesel merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi yang memanfaatkan sumber daya domestik, terutama kelapa sawit, untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor.

Proyeksi dampak ekonomi dan emisi B50

Selain pengurangan impor dan penghematan devisa, Pertamina memproyeksikan B50 dapat menekan emisi sekitar 44 juta ton CO₂e. Program tersebut juga diperkirakan mendukung penyerapan sekitar 2,1 juta tenaga kerja serta menambah nilai ekonomi minyak sawit mentah atau CPO sebesar Rp20,9 triliun.

Angka-angka itu merupakan proyeksi Pertamina, bukan realisasi akhir. Hasil aktual akan bergantung pada volume penyaluran, kesiapan pasokan biodiesel, kelancaran distribusi, harga energi, dan konsistensi kebijakan pemerintah. Data penyaluran dan perkembangan mandatori dapat dipantau melalui halaman regulasi biodiesel dan HIP biodiesel Media Biodiesel.

Ary mengatakan Indonesia perlu mengoptimalkan sumber daya minyak dan gas sekaligus komoditas perkebunan. Dalam kerangka itu, sawit tidak hanya diposisikan sebagai komoditas pangan dan ekspor, tetapi juga sebagai bahan baku energi untuk sektor transportasi.

Pertamina perluas portofolio biofuel

Pertamina tidak hanya menyiapkan biodiesel. Perusahaan juga mengembangkan biogasoline berbasis sawit yang direncanakan diuji di dua kilang, bioetanol berbahan baku molase, serta sustainable aviation fuel atau bioavtur dari minyak jelantah.

Pengembangan beberapa jalur bahan bakar nabati tersebut menunjukkan strategi yang berbeda untuk tiap moda transportasi. Biodiesel ditujukan untuk mesin diesel, bioetanol untuk campuran bensin, sedangkan SAF dikembangkan untuk penerbangan. Masing-masing membutuhkan standar mutu, fasilitas produksi, rantai pasok bahan baku, dan kebijakan pencampuran yang berbeda.

Menurut Ary, dukungan regulasi dan mandat pemanfaatan bahan bakar nabati tetap diperlukan agar potensi sumber daya domestik dapat diubah menjadi pasokan energi yang konsisten. Kepastian kebijakan juga penting bagi produsen dan perusahaan distribusi untuk merencanakan kapasitas, penyimpanan, pencampuran, serta pengiriman.

Penghematan masih harus dibuktikan lewat pelaksanaan

Target pengurangan impor 18 juta kiloliter memberi ukuran atas besarnya peran yang diharapkan dari B50. Namun, manfaat fiskal dan penghematan devisa perlu dinilai bersama biaya insentif, perubahan harga CPO, kebutuhan logistik, dan performa program sepanjang tahun.

Karena itu, indikator utama yang perlu dipantau bukan hanya besarnya campuran, tetapi juga volume biodiesel yang benar-benar tersalur, kestabilan mutu bahan bakar, biaya program, serta perubahan impor solar. Data aktual tersebut akan menentukan seberapa dekat realisasi B50 dengan proyeksi Pertamina.

Sumber & Referensi