Selasa, 13 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Internasional

Danantara Jajaki Refinery Sawit di Mesir, Bidik Pintu Masuk Pasar Afrika

Danantara dan mitra Mesir menjajaki refinery sawit untuk mendekatkan produk hilir Indonesia ke pasar Afrika dan Timur Tengah. Investasi belum final.

Konsep refinery dan terminal penyimpanan minyak sawit di kawasan pelabuhan Mesir
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Jakarta — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara sedang menjajaki kerja sama hilirisasi minyak sawit di Mesir, termasuk kemungkinan pembangunan refinery untuk mengolah CPO dan produk turunannya. Proyek tersebut masih berada pada tahap pembahasan awal; nilai investasi, kapasitas, lokasi final, dan jadwal konstruksi belum diumumkan.

Pembahasan mengemuka setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Jakarta pada 11 Oktober 2026. CEO BPI Danantara Rosan P. Roeslani mengatakan kerja sama di sektor palm oil menjadi salah satu peluang yang dibicarakan bersama pihak investasi Mesir.

Mesir dipandang sebagai pintu masuk ke Afrika

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai Mesir memiliki posisi strategis sebagai pasar besar sekaligus penghubung menuju negara-negara Afrika. Selain berpenduduk sekitar 100 juta jiwa, Mesir memiliki akses perdagangan ke Afrika, Timur Tengah, dan kawasan Mediterania.

Dengan membangun fasilitas pengolahan lebih dekat ke pasar tujuan, Indonesia berpotensi mengekspor produk sawit bernilai tambah, bukan hanya bahan baku. Refinery dapat menghasilkan berbagai fraksi minyak sawit untuk kebutuhan pangan, industri, dan energi, tergantung konfigurasi fasilitas dan permintaan pasar.

Namun, belum ada keputusan investasi final. Rosan menyatakan nilai proyek masih perlu dibahas lebih lanjut. Laporan VOI menyebut pemerintah Mesir telah menyiapkan lahan untuk rencana fasilitas tersebut, tetapi rincian lokasi dan status kesiapan lahan belum diumumkan secara resmi.

Kerja sama tercantum dalam pernyataan resmi

Pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri RI dan Mesir menyebut adanya kemajuan kerja sama strategis antara Danantara Indonesia dan Future of Egypt Authority for Sustainable Development. Peluang yang dibahas mencakup produksi dan distribusi CPO serta produk turunannya, pupuk fosfat, dan bahan baku terkait.

Pernyataan tersebut memperkuat bahwa pembicaraan tidak hanya berada pada tingkat wacana media. Meski demikian, pencantuman dalam pernyataan bersama belum sama dengan keputusan investasi, penutupan pendanaan, atau dimulainya pembangunan.

Presiden Prabowo dan Presiden El-Sisi juga mendorong pembentukan Joint Investment Fund oleh lembaga investasi kedua negara untuk mendukung proyek strategis. Struktur dana, nilai komitmen, dan proyek yang akan dibiayai belum dirinci.

Perdagangan sawit sudah menjadi fondasi

Hubungan dagang Indonesia dan Mesir telah memiliki basis pada komoditas sawit. KabarBursa, dengan mengutip data Kementerian Perdagangan, melaporkan ekspor minyak sawit dan fraksinya dari Indonesia ke Mesir mencapai sekitar US$732 juta pada 2024, setara sekitar 37,8% dari ekspor Indonesia ke negara tersebut.

Pada Januari–Juni 2026, total perdagangan kedua negara dilaporkan mencapai US$1,74 miliar. Ekspor Indonesia ke Mesir sekitar US$1,09 miliar, sedangkan impor dari Mesir US$647,70 juta. Angka ini menunjukkan adanya pasar yang sudah berjalan, tetapi keekonomian refinery tetap akan bergantung pada pasokan, biaya logistik, tarif, permintaan lokal, dan akses ekspor ulang.

Hal yang masih perlu dipastikan

Perkembangan berikutnya yang perlu dipantau adalah identitas mitra dan badan usaha pelaksana, kepastian lahan, kapasitas pengolahan, produk yang akan dihasilkan, nilai investasi, porsi pembiayaan, serta jadwal konstruksi. Tanpa rincian tersebut, proyek sebaiknya disebut sebagai penjajakan strategis.

Jika terealisasi, fasilitas di Mesir dapat memperluas hilirisasi sawit Indonesia dan mendekatkan produk turunannya ke konsumen Afrika dan Timur Tengah. Namun, manfaat bagi industri nasional akan ditentukan oleh struktur kepemilikan, penggunaan bahan baku Indonesia, transfer teknologi, dan nilai tambah yang tetap tercipta di dalam negeri.

Sumber & Referensi