Oil World di IPOC 2025: B50 Butuh 2,2 Juta Ton Tambahan, Sawit Malaysia Bisa Sentuh RM5.000
Thomas Mielke (Oil World) menilai B50 butuh minimal 2,2 juta ton minyak nabati tambahan dan berisiko memicu lonjakan harga global; produksi sawit RI diproyeksi turun ke 49 juta ton.
Daftar isi (3 bagian)
Nusa Dua — Analis pasar minyak nabati Thomas Mielke dari Oil World memperingatkan bahwa mandatori biodiesel B50 yang direncanakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 2,2 juta ton tambahan minyak nabati, dan berisiko memicu lonjakan harga global bila dijalankan pada paruh kedua 2026. Dalam Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, ia juga memperkirakan harga acuan sawit Malaysia dapat menembus RM5.000 per ton dalam enam bulan ke depan, sementara produksi sawit Indonesia diproyeksikan turun menjadi 49 juta ton pada 2026.
IPOC 2025 diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada 12–14 November 2025 dengan tema "Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy, and Global Trade", menurut detikFinance. Mielke menyampaikan pandangannya dalam konferensi pers di sela acara tersebut, seperti dilaporkan InfoSAWIT.
"Baik secara prinsip", tapi pasokan belum siap
Menurut InfoSAWIT, Mielke, yang menjabat Editor dan CEO Oil World, menilai B50 baik secara prinsip tetapi belum selaras dengan kapasitas produksi minyak nabati Indonesia saat ini. Ia memperkirakan Indonesia memerlukan tambahan minimal 2,2 juta ton minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan B50, "dan kemungkinan lebih". Laporan Reuters yang dimuat ulang dalam rangkuman berita Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menyebut angka yang sama, tetapi merumuskannya sebagai 2,2 juta ton minyak sawit tambahan untuk produksi biodiesel.
Mielke berpendapat Indonesia semestinya memperluas penanaman dan menaikkan produksi lebih awal untuk menopang campuran setinggi itu. Tanpa kenaikan produksi, ia menilai penerapan B50 hampir mustahil dilakukan tanpa lonjakan harga yang signifikan. Harga, katanya, akan melonjak lebih dulu di pasar global lalu merembet ke pasar domestik. Ia menyebut situasi ini sebagai benturan antara kebutuhan energi dan stabilitas harga pangan.
Proyeksi harga dan produksi
Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip MPOB, berikut proyeksi utama Mielke:
- Harga: kontrak acuan sawit Malaysia dapat naik ke RM5.000 per ton dalam enam bulan, dari posisi penutupan RM4.125 pada Jumat, 14 November 2025.
- Produksi Indonesia: turun menjadi 49 juta ton pada 2026 dari 49,4 juta ton pada 2025, dan penurunan berlanjut pada 2027.
- Waktu dampak: produksi mulai terpengaruh sejak pertengahan 2026.
Mielke mengaitkan proyeksi penurunan produksi dengan sejumlah faktor. InfoSAWIT mencatat ia menyebut intervensi pemerintah di sektor hulu, penyitaan lahan atau peralihan kepemilikan, perubahan skema bagi hasil, serta berkurangnya pemakaian pupuk dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Reuters menambahkan faktor tanaman yang menua dan lambatnya peremajaan.
Ia juga menyebut posisi Indonesia sebagai eksportir minyak nabati terbesar dunia sebagai pencapaian besar, namun mengingatkan bahwa pergeseran volume ekspor dalam skala besar dapat mengguncang pasar internasional. Kesimpulannya, menjalankan B50 di tengah produksi yang stagnan berisiko menimbulkan ayunan harga ekstrem yang merugikan negara importir maupun konsumen di Indonesia.
Pandangan GAPKI lebih optimistis soal pasokan
Pandangan Mielke berbeda dengan nada GAPKI menjelang konferensi. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, dalam konferensi pers di Jakarta pada 28 Oktober 2025 yang dilaporkan detikFinance, memang sepakat harga akan naik jika B50 diterapkan pada semester II tahun depan. Namun, industri memperkirakan produksi tahun depan meningkat, salah satunya didukung impor serangga penyerbuk dari Tanzania yang dampaknya diharapkan mulai terasa pada 2026 dan lebih jelas pada 2027.
Perbedaan proyeksi pasokan ini menjadi kunci arah harga CPO pada 2026, ketika pemerintah menargetkan B50 mulai berjalan. Pergerakan harga sawit dan biodiesel dapat dipantau di halaman harga.
Sumber & Referensi
- InfoSAWIT, "IPOC 2025: Global Palm Oil Expert Warns B50 Could Backfire on Indonesia" (17 November 2025) — https://www.en.infosawit.com/news/16797/ipoc-2025--global-palm-oil-expert-warns-b50-could-backfire-on-indonesia
- MPOB Palm News (Reuters via Bio Energy Times), rangkuman berita prakiraan Thomas Mielke (15 November 2025) — https://prestasisawit.mpob.gov.my/en/palmnews/news/38699
- detikFinance, "Harga CPO Diramal Naik, Ini Pemicunya" (28 Oktober 2025) — https://finance.detik.com/industri/d-8182734/harga-cpo-diramal-naik-ini-pemicunya