Senin, 2 November 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Berita

PalmCo: TBS Kebun Mitra Kini 34% Pasokan, Rekomendasi PSR 3.100 Hektare

PalmCo melaporkan kenaikan porsi TBS petani mitra dan rekomendasi PSR Regional III; target pembelian 2026 belum merupakan realisasi.

Ilustrasi TBS sawit yang dipanen di kebun Indonesia dengan kendaraan pengangkut dan pabrik di kejauhan
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — PTPN IV PalmCo menyatakan pada Minggu, 25 Oktober 2026, bahwa pasokan tandan buah segar (TBS) dari kebun mitra kini menyumbang 34% dari total pasokannya, dibandingkan sekitar 9% pada 2019. Di Regional III, sekitar 3.100 hektare kebun mitra telah memperoleh rekomendasi teknis Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) hingga Oktober. Perusahaan mengaitkan penguatan kemitraan dan produktivitas kebun rakyat dengan kebutuhan bahan baku sawit untuk industri, termasuk program biodiesel B50. Angka-angka tersebut merupakan keterangan perusahaan yang dilaporkan ANTARA, bukan hasil audit independen.

Rekomendasi PSR dan pasokan dari petani

Pelaksana Tugas Region Head PalmCo Regional III Sori P Ritonga mengatakan luas yang sudah mendapat rekomendasi teknis itu mendekati 70% dari target 4.500 hektare untuk tahun ini. Rekomendasi teknis bukan berarti seluruh lahan tersebut sudah ditanami ulang atau kembali menghasilkan buah. PalmCo juga memproyeksikan pengelolaan lahan plasma melalui peremajaan mencapai 22.000 hektare secara bertahap pada 2027–2028; ini masih berupa rencana, bukan capaian.

Dalam keterangan yang diterima ANTARA, PalmCo menyebut Regional III mengelola kemitraan kebun masyarakat seluas lebih dari 56.000 hektare, sedangkan kebun intinya sekitar 71.000 hektare. Penguatan kemitraan dibahas dalam Gathering Petani Mitra 2026 di Bandung pada pertengahan Oktober. Perusahaan menyebut pola manajemen tunggal mencakup pendampingan budidaya, penguatan koperasi, dan pemasaran hasil panen. Pengumuman terbaru ini perlu dibaca sebagai pembaruan strategi pasokan, bukan pengumuman volume produksi biodiesel baru.

Contoh yang disampaikan perusahaan adalah KUD Tunas Muda: produktivitas kebunnya disebut mencapai 21,3 ton TBS per hektare pada tahun menghasilkan kedua setelah PSR. Menurut perhitungan PalmCo, hasil itu sekitar 43% di atas standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk fase tanaman yang sama. Satu koperasi tidak mewakili seluruh kebun rakyat; hasil peremajaan akan bergantung pada usia tanaman, bibit, pemeliharaan, dan kondisi kebun masing-masing.

Target pembelian berbeda dari realisasi

Regional III menargetkan pembelian satu juta ton TBS dari kemitraan PSR pada 2026, dibandingkan rata-rata sekitar 900.000 ton pada tahun sebelumnya menurut Sori. Ia juga memproyeksikan produktivitas kebun Regional III mencapai 24,5 ton per hektare tahun ini. Kedua angka 2026 tersebut merupakan target dan proyeksi, bukan total pembelian atau hasil panen yang telah diverifikasi.

Sebagai pembanding dengan cakupan berbeda, laman resmi PalmCo melaporkan pembelian TBS dari petani mitra di seluruh perusahaan mencapai 2,095 juta ton hingga Juli 2026. Angka perusahaan keseluruhan sampai Juli tidak dapat langsung dibandingkan dengan target tahunan satu juta ton dari kemitraan PSR khusus Regional III: wilayah, kelompok pemasok, dan periode pengukurannya berbeda. Laman yang sama menyebut sekitar 30% pasokan bahan baku pengolahan PalmCo berasal langsung dari kebun petani rakyat; sementara angka 34% yang disampaikan Sori merujuk pada kontribusi TBS kebun mitra yang ia paparkan. Definisi dan cakupan kedua persentase itu jangan disamakan begitu saja.

Hubungan dengan B50, tanpa melompat ke kesimpulan harga

PalmCo menyatakan peningkatan kebutuhan sawit untuk energi perlu diimbangi produktivitas kebun rakyat agar pasokan CPO untuk pangan dan industri lain tetap diperhatikan. Pernyataan itu menjelaskan alasan perusahaan memperkuat PSR serta penyerapan panen; belum membuktikan bahwa tambahan TBS dari program ini sudah diolah menjadi biodiesel atau bahwa target pasokan B50 telah terpenuhi. Perjalanan dari TBS ke CPO, lalu ke bahan bakar, melibatkan tahap dan alokasi yang berbeda.

Sori mengatakan perusahaan berupaya menjaga harga pembelian TBS di tingkat petani tetap stabil dan bersaing di tengah fluktuasi CPO. Namun, sumber yang dibuka tidak memberikan angka harga pembelian khusus dari kemitraan ini. Karena itu, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa ekspansi kemitraan langsung menaikkan harga TBS bagi seluruh petani. Pembaca yang ingin membandingkan harga penetapan per provinsi dapat melihat halaman harga TBS; periode dan skema petaninya perlu diperiksa sebelum menyandingkan angka.

Sumber & Referensi