Thailand Dorong B20: Lebih Murah 7 Baht per Liter, Dijual di 600 SPBU, Solar Standar Kembali B7
Thailand memperluas B20 berbasis sawit dengan subsidi harga dan lebih dari 600 SPBU, setelah menaikkan solar standar dari B5 ke B7 pada Maret 2026 untuk mengurangi impor minyak.
Daftar isi (3 bagian)
Bangkok — Thailand memperluas penggunaan biodiesel B20 berbasis sawit untuk menekan ketergantungan pada minyak impor. Per Kamis, 21 Mei 2026, B20 dijual sekitar 7 baht per liter lebih murah dari solar biasa di lebih dari 600 SPBU di jalur transportasi utama, dan asosiasi industri otomotif Thailand (TAIA) memastikan 1.135 model kendaraan dari 13 merek besar dapat memakai B20 tanpa kehilangan garansi, menurut laporan Bioenergy Times.
Langkah ini melengkapi kebijakan sebelumnya: pada Maret 2026 Kementerian Energi Thailand menaikkan spesifikasi solar standar dari B5 menjadi B7 di tengah tekanan pasar energi global, menurut laporan Pattaya Mail yang mengutip kantor berita pemerintah NNT.
Dari B5 kembali ke B7, lalu subsidi untuk B20
Kenaikan ke B7 membalik keputusan November 2024, ketika Kantor Kebijakan dan Perencanaan Energi Thailand menurunkan campuran dari B7 ke B5 karena harga minyak sawit yang melambung, seperti diberitakan Biofuels Digest. Kala itu Thailand juga sudah menghapus B10 dari SPBU sejak Mei 2024, sehingga hanya tersisa B7 dan B20.
Pada 11 Maret 2026, Pattaya Mail melaporkan Kementerian Energi menaikkan kadar biodiesel dalam solar dari 5% menjadi 7% untuk memperbesar pemakaian bahan bakar berbasis sawit dan mengurangi ketergantungan pada minyak mentah impor. Pemerintah juga memperlebar selisih harga antara bensin E20 dan E10 untuk mendorong konsumen beralih ke campuran biofuel yang lebih tinggi. Pejabat menyatakan tidak ada kelangkaan bahan bakar, meski aksi borong sempat meningkatkan permintaan di sejumlah SPBU.
Akhir Maret, pemerintah menambah insentif untuk B20. Asisten Menteri di Kantor Perdana Menteri, Rachada Dhnadirek, pada 30 Maret 2026 menyatakan Komite Eksekutif Dana Bahan Bakar memberikan subsidi harga sehingga B20 sekitar 5 baht per liter lebih murah dari solar standar B7. Sasaran utamanya sektor logistik dan industri yang menanggung biaya energi tinggi. Bangchak mulai menjual B20 di depo Phra Khanong, PTT Oil and Retail Business di depo Songkhla dan Saraburi, sementara Shell dijadwalkan menyusul awal April.
Catatan: selisih harga yang dilaporkan berbeda, yakni sekitar 5 baht per liter terhadap B7 pada akhir Maret dan sekitar 7 baht per liter terhadap solar konvensional dalam laporan 21 Mei. Sumber tidak menjelaskan penyebab perbedaan tersebut.
Pasokan sawit dinilai cukup
Bioenergy Times melaporkan delapan peritel bahan bakar besar berkomitmen memperluas ketersediaan B20, dengan target lebih dari 1.000 SPBU. Pemerintah menghitung pasokan bahan baku masih memadai:
- Perkiraan produksi buah sawit: 21,87 juta ton.
- Perkiraan produksi CPO: sekitar 3,94 juta ton.
- CPO yang tersisa untuk bioenergi setelah kebutuhan domestik, industri, dan ekspor: sekitar 1,49 juta ton.
- Kebutuhan CPO bila B20 mengambil 10% konsumsi solar nasional: sekitar 1,23 juta ton per tahun.
Wakil Dirjen Pengembangan Energi Alternatif dan Efisiensi (DEDE) Adisak Choosuk menyatakan Thailand memiliki cukup minyak sawit untuk memperluas produksi biodiesel tanpa mengganggu pasokan pangan. Ketua TAIA Yuphin Boonsirichan menegaskan pengguna kendaraan yang sudah disetujui dapat beralih ke B20 dengan tetap memperoleh garansi pabrikan. Laporan yang sama mengaitkan dorongan ini dengan gangguan pasokan akibat ketegangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Cermin bagi kebijakan Indonesia
Thailand sempat menurunkan campuran biodiesel ketika harga sawit tinggi, lalu menaikkannya lagi ketika harga minyak bumi tertekan geopolitik. Pola ini menunjukkan mandatori biodiesel di negara produsen sawit kerap dipakai sebagai instrumen penyeimbang antara harga pangan, harga energi, dan pendapatan petani. Pemerintah Thailand sendiri menyebut dorongan B20 diharapkan menaikkan permintaan sawit, menstabilkan harga, dan menambah pendapatan petani.
Berbeda dengan Thailand yang menjadikan B20 pilihan sukarela bersubsidi di samping B7, Indonesia menerapkan satu mandatori nasional untuk seluruh solar. Perbandingan level campuran di berbagai negara dapat dilihat di halaman regulasi biodiesel.
Sumber & Referensi
- Bioenergy Times, "Thailand ramps up bioenergy push through B20 biodiesel to reduce oil imports" (21 Mei 2026) — https://bioenergytimes.com/thailand-ramps-up-bioenergy-push-through-b20-biodiesel-to-reduce-oil-imports/
- Pattaya Mail/NNT, "Thailand pushes B20 diesel to cut transport costs and support palm oil farmers" (31 Maret 2026) — https://www.pattayamail.com/thailandnews/thailand-pushes-b20-diesel-to-cut-transport-costs-and-support-palm-oil-farmers-541412
- Pattaya Mail/NNT, "Thailand moves to stabilize fuel prices, promote biofuels as global energy pressure mounts" (11 Maret 2026) — https://www.pattayamail.com/thailandnews/thailand-moves-to-stabilize-fuel-prices-promote-biofuels-as-global-energy-pressure-mounts-538810
- Biofuels Digest, "Thailand cuts B7 to B5 as biodiesel prices soar" (13 November 2024) — https://biofuelsdigest.com/thailand-cuts-b7-to-b5-as-biodiesel-prices-soar/