Titik Kabut dan CFPP: Mengapa Biodiesel Sawit (Titik Kabut 17 °C) Sensitif di Suhu Dingin
Biodiesel bisa mengabut dan menyumbat filter saat suhu turun. Kenali titik kabut, CFPP, dan titik tuang, mengapa sawit lebih sensitif, serta hasil uji nyala dingin B30 hingga B50.
Daftar isi (4 bagian)
Biodiesel bisa "mengabut" dan menyumbat filter bila suhu turun di bawah titik tertentu, karena sebagian molekulnya mulai membentuk kristal. Tiga angka dipakai untuk mengukur sifat ini: titik kabut (cloud point), titik sumbat filter dingin (cold filter plugging point/CFPP), dan titik tuang (pour point). Biodiesel sawit tercatat punya titik kabut sekitar 17 °C dalam data Farm Energy (Extension), lebih tinggi daripada biodiesel kedelai atau kanola. Karena itu, kemampuan mesin menyala di daerah dingin selalu diuji sebelum mandatori baru diterapkan di Indonesia.
Titik kabut, CFPP, dan titik tuang
Menurut panduan Farm Energy, jaringan penyuluhan Extension di Amerika Serikat, yang ditulis John Nowatzki dan rekan-rekannya, ketiga parameter itu didefinisikan sebagai berikut:
- Titik kabut (cloud point): suhu saat kristal padat kecil pertama kali muncul ketika bahan bakar didinginkan, sehingga bahan bakar tampak keruh.
- CFPP: suhu saat filter bahan bakar tersumbat oleh komponen yang mengkristal atau membentuk gel. Karena pengujiannya mahal dan lama, titik kabut dan titik tuang sering dipakai untuk memperkirakan rentang CFPP.
- Titik tuang (pour point): suhu terendah ketika bahan bakar masih bisa bergerak saat wadahnya dimiringkan.
Panduan yang sama mencatat jarak antara titik kabut dan titik tuang pada biodiesel hanya beberapa derajat, sementara pada solar fosil sekitar 20 derajat. Artinya, biodiesel bisa berubah dari cair menjadi gel dalam rentang penurunan suhu yang sempit.
Mengapa biodiesel sawit lebih sensitif
Sifat aliran dingin sangat ditentukan bahan baku. Farm Energy menyebut biodiesel dari bahan baku berbeda bisa selisih hingga 15 °C. Panduan itu mengaitkan masalah aliran dingin dengan metil ester jenuh yang titik lelehnya tinggi dan mudah mengkristal; dalam tabelnya, biodiesel sawit memiliki titik kabut dan titik tuang tertinggi.
| Bahan baku biodiesel | Titik kabut (°C) | Titik tuang (°C) |
|---|---|---|
| Sawit | 17 | 15 |
| Lemak hewan (tallow) | 12–17 | 6 |
| Jarak pagar | 8 | 6 |
| Kedelai | 1 | 0 |
| Kanola | 0 | -9 |
Sebagai pembanding, Alternative Fuels Data Center (AFDC) milik Departemen Energi AS mencantumkan titik kabut B100 secara umum pada kisaran -3 hingga 15 °C dan titik tuang -5 hingga 10 °C. Angka sawit dalam tabel Farm Energy berada di atas kisaran umum tersebut. Di Indonesia, spesifikasi biodiesel SNI 7182:2015 menetapkan titik kabut maksimal 18 °C, menurut presentasi spesifikasi biodiesel Indonesia yang dipublikasikan forum energi APEC (EGNRET).
Pengaruh rasio campuran
Yang dipakai kendaraan di Indonesia bukan B100, melainkan campuran dengan solar. Studi Lemigas (2020) terhadap campuran biodiesel sawit dengan Minyak Solar 48 dan Minyak Solar 51 menemukan rasio pencampuran berpengaruh signifikan terhadap titik kabut dan CFPP, dan menjelaskan lebih dari 96,7% variasi kedua parameter itu. Sifat aliran dingin campuran bahkan dapat diprediksi dari titik kabut atau CFPP solar murninya dan rasio campurannya.
AFDC menyatakan campuran dengan persentase biodiesel lebih kecil umumnya berperforma lebih baik di suhu dingin; B5 kira-kira setara solar biasa. Di negara bermusim dingin, pemasok menambahkan aditif cold flow improver. Namun Farm Energy mencatat aditif semacam itu terutama menurunkan titik tuang, bukan titik kabut. Cara lain yang disebut panduan tersebut antara lain pemanas jalur atau tangki bahan bakar, filter dan saluran berinsulasi, serta mencampur biodiesel dengan biodiesel lain yang titik kabutnya lebih rendah.
Uji suhu dingin di dataran tinggi Indonesia
Indonesia beriklim tropis, tetapi kawasan pegunungan tetap dipakai untuk menguji kemampuan mesin menyala pada pagi yang dingin (cold startability):
- B30 (2019): kendaraan berbahan bakar B0 dan B30 didiamkan 3, 7, 14, dan 21 hari, lalu semuanya menyala normal sekitar 1 detik, menurut Kementerian ESDM.
- B40 (Oktober 2022): uji di Perkebunan Tambi, Wonosobo, pada ketinggian 1.400 mdpl. Standarnya mesin harus menyala dalam 5 detik; formula B40 dan B30D10 lolos dengan catatan tercepat sekitar 1 detik.
- B50 (2026): Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi, seperti dikutip CNBC Indonesia pada 2 Juni 2026, menyebut mesin di Bromo menyala kurang dari satu detik, bahkan 0,8 detik. Suhu saat pengujian tidak disebutkan.
Uji tersebut mengukur kemampuan menyala, bukan CFPP secara langsung. Bagi pengguna, pegangan praktisnya adalah mengikuti rekomendasi bahan bakar pabrikan dan memperhatikan kondisi filter. Istilah teknis lain seputar biodiesel dapat dicek di kamus istilah.
Sumber & Referensi
- Farm Energy (Extension), "Biodiesel Cloud Point and Cold Weather Issues" (diperbarui 12 April 2019) — https://farm-energy.extension.org/biodiesel-cloud-point-and-cold-weather-issues
- U.S. Department of Energy, Alternative Fuels Data Center, "Biodiesel Basics" — https://afdc.energy.gov/fuels/biodiesel_basics.html
- Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), "Pengaruh Biodiesel Berbasis Minyak Kelapa Sawit terhadap Cold-Flow Properties Minyak Solar 48 dan Minyak Solar 51" (2 Agustus 2020) — https://journal.lemigas.esdm.go.id/index.php/LPMGB/article/view/500
- APEC EGNRET, "Biodiesel Specification in Indonesia" (2017) — https://www.egnret.ewg.apec.org/Upload/2025051211260903561f1.pdf
- Kementerian ESDM, "Uji Jalan Selesai, Kementerian ESDM Umumkan Rekomendasi Teknis Mandatori B30 di 2020" (28 November 2019) — https://esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/uji-jalan-selesai-kementerian-esdm-umumkan-rekomendasi-teknis-mandatori-b30-di-2020
- Kementerian ESDM, "Ini Hasil Uji Cold Startability B40 di Dataran Tinggi" (26 Oktober 2022) — https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/ini-hasil-uji-cold-startability-b40-di-dataran-tinggi
- CNBC Indonesia, "Siap-siap! RI Punya BBM Baru B50 Bulan Depan" (2 Juni 2026) — https://www.cnbcindonesia.com/news/20260602112625-4-739362/siap-siap-ri-punya-bbm-baru-b50-bulan-depan