ITB Paparkan BENSA, Bensin dari Sawit lewat Katalis Merah Putih; Dana Riset BPDP Rp917,58 Miliar
Peneliti ITB memaparkan BENSA (Bensin Sawit) di kantor BPDP, 15 Juli 2026. Teknologinya diusulkan lewat kilang mini terdistribusi, tetapi keekonomian masih jadi tantangan utama.
Daftar isi (4 bagian)
Jakarta — Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) memaparkan perkembangan BENSA atau Bensin Sawit, teknologi yang mengolah minyak nabati menjadi bahan bakar setara bensin melalui perengkahan katalitik dengan Katalis Merah Putih buatan dalam negeri. Paparan disampaikan dalam media briefing "Road to Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026" di kantor Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Jakarta, Rabu (15/7/2026). ITB mengusulkan BENSA diproduksi di kilang-kilang kecil yang tersebar, bukan kilang raksasa, namun mengakui tantangan terbesarnya adalah keekonomian.
Cara kerja BENSA
BENSA dipresentasikan oleh akademisi ITB di bidang rekayasa katalis dan sistem pemrosesan, Dr. Ir. C.B. Rasrendra. Menurut Fortune Indonesia, prosesnya memecah minyak sawit dengan bantuan Katalis Merah Putih menjadi fraksi hidrokarbon yang karakternya menyerupai bensin. KabarBursa mencatat BENSA berbasis Mixed Industrial Vegetable Oil (MIVO), yakni campuran minyak nabati industri, dan merupakan salah satu riset yang didukung BPDP.
Riset bahan bakar dari sawit di ITB punya sejarah panjang. Fortune Indonesia menulis penelitian ini dirintis sejak 1982; pada 1982–1985 para peneliti mencari sistem katalis yang tepat untuk mengubah sawit menjadi bensin dengan peralatan yang sangat terbatas.
Menurut KabarBursa, Rasrendra menjelaskan minyak nabati dipilih karena struktur kimianya mirip dengan bahan bakar minyak, sehingga konversinya relatif lebih cepat dibanding bahan baku alternatif lain. Konsep BENSA juga tidak terpaku pada sawit; minyak nabati lain dengan struktur kimia serupa dapat dipakai, mengingat tidak semua daerah bisa menanam kelapa sawit.
Kilang mini terdistribusi dan pemisahan pangan-energi
Alih-alih membangun kilang konvensional berskala besar, ITB mengusulkan model kilang mini yang tersebar di berbagai daerah. Rasrendra, seperti dikutip KabarBursa, menyebut kapasitas kilang BENSA yang direncanakan "bukan dalam ukuran yang besar tapi kecil terdistribusi". Tujuannya mendekatkan produksi ke lokasi konsumsi dan menekan biaya distribusi ke wilayah terpencil yang sulit dijangkau pasokan BBM.
Konsep ini juga memisahkan fraksi minyak untuk energi dari fraksi untuk pangan, seperti minyak goreng, bahan baku kakao, dan margarin, agar kebutuhan energi tidak bersaing langsung dengan pangan. Minyak jelantah juga dapat diolah kembali menjadi bahan baku energi dalam skema ekonomi sirkular.
Tantangan keekonomian dan "lembah kematian" riset
Rasrendra terus terang menyebut hambatan utama BENSA ada pada biaya. Menurut dia, harga bensin masih murah, sedangkan minyak nabati sebagai bahan baku relatif mahal. Karena itu, ia berpendapat kilang semacam ini perlu juga menghasilkan produk turunan bernilai tambah, seperti produk petrokimia, agar layak secara finansial.
Ia juga menyinggung "lembah kematian" (valley of death), istilah untuk riset kampus yang terhenti sebelum dikomersialkan karena tidak menemukan mitra industri.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP Mochmad Alfansyah mengatakan lembaganya ingin menunjukkan bahwa sawit tidak hanya menghasilkan minyak nabati atau biodiesel. Ia menyebut BPDP telah membiayai ratusan riset bersama perguruan tinggi dan lembaga penelitian, dan ingin hasilnya menjadi teknologi serta produk komersial, bukan sekadar publikasi ilmiah. Menurut KabarBursa, dana riset yang disalurkan BPDP selama 2015–2026 mencapai Rp917,58 miliar.
PERISAI 2026
Paparan BENSA merupakan bagian dari rangkaian menuju PERISAI 2026, yang digelar BPDP pada 20–21 Juli 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, dengan tema "Shaping The Palm Oil Industry Ecosystem For A Sustainable Future". Acara ini menghadirkan 44 perguruan tinggi dan lembaga riset, mencakup enam bidang riset mulai dari bioenergi hingga pangan dan kesehatan, serta agenda seminar, pameran riset, dan temu bisnis.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Pengembang | Peneliti ITB, dipaparkan Dr. Ir. C.B. Rasrendra |
| Proses | Perengkahan katalitik dengan Katalis Merah Putih |
| Bahan baku | Minyak sawit / campuran minyak nabati industri (MIVO); jelantah dapat dimanfaatkan |
| Model produksi | Kilang mini terdistribusi |
| Tantangan utama | Keekonomian: bahan baku nabati lebih mahal dari bensin fosil |
Sumber & Referensi
- Fortune Indonesia, "Bukan Cuma Biodiesel, Sawit Kini Bisa Diolah Jadi Bensin" (15 Juli 2026) — https://www.fortuneidn.com/news/bukan-cuma-biodiesel-sawit-kini-bisa-diolah-jadi-bensin-00-my5jv-205666
- KabarBursa, "Konsep BENSA ITB Tawarkan Solusi Energi Bersih dan Berkelanjutan, Seperti Apa?" (15 Juli 2026) — https://www.kabarbursa.com/ekonomi-hijau/konsep-bensa-itb-tawarkan-solusi-energi-bersih-dan-berkelanjutan-seperti-apa
- KabarBursa, "BPDP Siap Gelar PERISAI 2026, Pamerkan Inovasi Sawit Sektor Pangan hingga Energi" (15 Juli 2026) — https://www.kabarbursa.com/makro/bpdp-siap-gelar-perisai-2026-pamerkan-inovasi-sawit-sektor-pangan-hingga-energi