Selasa, 20 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Kebijakan

Realisasi B40 2025 Capai 14,2 Juta KL, Lampaui Target Pemanfaatan

ESDM melaporkan pemanfaatan B40 sebanyak 14,2 juta kL pada 2025, melampaui target kinerja 13,5 juta kL; angka alokasi awal tahun berbeda.

Ilustrasi instalasi tangki dan pipa penyaluran biodiesel di Indonesia
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Realisasi pemanfaatan biodiesel B40 sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter (kL), menurut paparan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 8 Januari 2026. Angka itu melampaui target pemanfaatan 13,5 juta kL yang dipakai dalam paparan kinerja kementerian. Pemerintah juga mengaitkan program tersebut dengan berkurangnya impor solar, tetapi besaran manfaat ekonomi yang disebutkan adalah klaim dalam perhitungan pemerintah.

Realisasi melampaui target yang dipaparkan

Bloomberg Technoz melaporkan bahwa 14,2 juta kL setara 105,2% dari target 13,5 juta kL. CNBC Indonesia juga mencatat kedua angka tersebut dari konferensi pers kinerja sektor ESDM. Satuan kL di sini merujuk pada volume pemanfaatan biodiesel dalam program mandatori, bukan jumlah keseluruhan bahan bakar solar campuran yang dibeli konsumen. B40 berarti kandungan biodiesel dalam campuran solar ditetapkan sebesar 40%.

Perbandingan target harus dibaca hati-hati. Pada awal 2025 kementerian menetapkan alokasi biodiesel B40 sebesar 15,6 juta kL, dengan pembagian untuk segmen pelayanan publik dan non-pelayanan publik. Sementara itu, angka 13,5 juta kL dalam konferensi pers Januari 2026 disebut sebagai target pemanfaatan. Kedua istilah dan angkanya tidak sama. Laporan konferensi pers yang dibuka tidak merinci sebab perubahan pembanding ini; karena itu, capaian 105,2% tidak boleh disebut sebagai persentase dari alokasi 15,6 juta kL.

Pengurangan impor dan manfaat yang diklaim

Menurut Bloomberg Technoz, Bahlil mengatakan impor solar turun dari sekitar 8,3 juta pada 2024 menjadi sekitar 5 juta pada 2025; dalam laporan itu kedua angka memakai satuan kL. Ia mengaitkan penurunan sekitar 3,3 juta kL dengan mandatori B40. CNBC Indonesia juga menuliskan penurunan 3,3 juta kL, tetapi transkripsi kutipan menteri dalam laporannya memakai kata “ton” untuk angka 8,3 juta dan 5 juta. Karena ada perbedaan satuan antarlaporan, artikel ini memakai angka penurunan 3,3 juta kL sesuai narasi data yang dilaporkan keduanya, tanpa mengonversi angka kutipan berbasis ton.

Kementerian, menurut dua laporan tersebut, memperkirakan penghematan devisa Rp130,21 triliun dari implementasi B40 pada 2025. Pemerintah juga menghitung kenaikan nilai tambah dari pengolahan minyak sawit mentah atau CPO menjadi biodiesel sebesar Rp20,43 triliun serta penurunan emisi sekitar 38,88 juta ton setara CO₂. Angka-angka itu dipaparkan sebagai hasil perhitungan pemerintah, bukan audit independen yang metodologinya diuji dalam kedua berita. Hubungan antara turunnya impor dan program B40 juga merupakan atribusi pemerintah, bukan pembuktian bahwa tidak ada faktor lain.

Langkah berikut masih berupa rencana

Dalam konferensi pers yang sama, Bahlil mengatakan pemerintah menyiapkan uji B50 pada semester pertama 2026 dan akan mempertimbangkan pemberlakuannya pada semester kedua bila hasilnya berhasil. Ia juga mengaitkan rencana itu dengan operasi kilang baru untuk menekan impor solar. Pada 8 Januari, baik implementasi B50 maupun penghentian impor solar belum menjadi hasil yang telah terjadi. Itu adalah sasaran bersyarat dan perlu dibedakan dari capaian volume B40 tahun 2025 yang sudah dilaporkan.

Data 2025 memberi titik ukur bagi penilaian program campuran biodiesel: berapa volume benar-benar dimanfaatkan, pembanding target mana yang digunakan, dan bagaimana manfaatnya dihitung. Perubahan kebijakan berikutnya perlu diuji dengan data operasional serta perhitungan biaya yang terbuka. Pembaca dapat melihat urutan kebijakan pada data mandatori biodiesel dan penjelasan perbedaan kadar campuran di panduan B50.

Sumber & Referensi

Baca Selanjutnya