Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Internasional

Senat Argentina Setujui RUU Biofuel: Biodiesel Naik dari 7,5% ke 10%, Etanol ke 15%

Senat Argentina menyetujui RUU biofuel baru dengan 41 suara: campuran biodiesel naik dari 7,5% ke 10% dan etanol dari 12% ke 15%. Produsen biodiesel kecil menolak karena kuota mereka dipangkas.

Pabrik biodiesel di dataran pampa Argentina dengan ladang kedelai di latar depan
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Buenos Aires — Senat Argentina pada Kamis, 17 September 2026, menyetujui rancangan undang-undang biofuel baru yang menaikkan campuran wajib biodiesel dalam solar dari 7,5% menjadi 10% dan etanol dalam bensin dari 12% menjadi 15%. RUU yang didukung 41 senator itu kini diteruskan ke Kamar Deputi (DPR) untuk dibahas sebelum dapat menjadi undang-undang. Kenaikan campuran baru berlaku satu tahun setelah undang-undang berlaku.

RUU tersebut akan mencabut Undang-Undang Biofuel No. 27.640 beserta aturan turunannya dan menetapkan rezim baru selama 15 tahun di bawah kewenangan Sekretariat Energi, menurut iProfesional. Bichos de Campo mencatat UU 27.640 semula menetapkan campuran biodiesel 5%, yang kemudian dinaikkan menjadi 7,5% melalui Dekret 438/2022.

Isi pokok RUU

  • Biodiesel: naik dari 7,5% ke 10%; Bichos de Campo melaporkan tambahan hingga 5% dimungkinkan melalui coprocessing, yaitu pengolahan bahan baku nabati langsung di kilang perusahaan minyak.
  • Etanol: naik dari 12% ke 15%. Porsi 12% awal dibagi rata untuk etanol tebu dan etanol jagung (masing-masing 6%), sedangkan tambahan 3% terbuka bagi semua bahan baku yang memenuhi syarat.
  • Pasar lelang elektronik: volume dan harga untuk campuran wajib akan ditetapkan melalui lelang berkala di platform elektronik yang dikelola operator independen.
  • Batas konsentrasi: satu produsen etanol maksimal 20% dari volume tahunan campuran wajib; untuk biodiesel, Bichos de Campo melaporkan batas 20% per perusahaan dan kelompok usaha.
  • Pajak dan impor: komponen terbarukan tetap dibebaskan dari pajak bahan bakar cair (ICL) dan pajak karbon dioksida; impor diizinkan saat terjadi kekurangan pasokan.
  • Teknologi baru: RUU juga mengatur biometana, kendaraan flex-fuel, dan bahan bakar aviasi berkelanjutan (SAF), yang dikecualikan dari kewajiban pencampuran.

Menurut Palabras del Derecho, pemerintah tidak memperluas campuran biodiesel di atas 10% dengan alasan selisih biaya dibandingkan solar impor.

Produsen biodiesel kecil menolak

Pasal paling sensitif menyangkut perusahaan biodiesel "non-terintegrasi", yakni pabrik yang membeli minyak kedelai untuk diolah menjadi biodiesel. Masa transisi berlaku hingga 1 Januari 2036. Kuota mereka, menurut Bichos de Campo, turun dari 6,5% (saat mandat 10%, hingga 2028) menjadi 5,5% pada 2029, 5% pada 2030, dan 4% pada 2031–2036. Lantai 4% untuk 2031–2036 merupakan perubahan menit terakhir, karena draf awal menghapus cadangan bagi produsen kecil pada 2031, lapor iProfesional.

Kamar usaha produsen biofuel skala kecil-menengah, Cepreb, yang dipimpin direktur Federico Martelli, menolak RUU tersebut dan menyatakan tidak menerima "jadwal kepunahan". Menurut iProfesional, Cepreb memperkirakan sebagian besar pabrik kecil di Buenos Aires, La Pampa, Entre Ríos, dan San Luis akan tutup bila aturan ini berlaku, dan para pelaku usaha kecil menyurati Presiden Javier Milei soal ancaman persaingan dengan pengolah besar berorientasi ekspor. Sebaliknya, asosiasi produsen gula Centro Azucarero Argentino dan Kamar Bioetanol Jagung menyebut RUU ini capaian penting untuk nilai tambah dan investasi.

Senator Flavia Royón, penyusun RUU, menyatakan tujuannya pasar yang lebih kompetitif dan transparan, sementara pemimpin blok pemerintah Patricia Bullrich menyebut UU ini memberi aturan main yang stabil bagi industri selama 15 tahun ke depan. Blok Justicialista menolak, dengan senator José Mayans menilai skema penghitungan campuran merugikan produsen kecil.

Catatan bagi Indonesia

Argentina menempuh jalur yang berbeda dari Indonesia: campuran biodiesel dinaikkan secara terbatas ke 10% dengan pertimbangan biaya terhadap solar impor, sembari membuka pasar melalui lelang dan mengurangi perlindungan bagi produsen kecil. Indonesia sebaliknya mendorong level campuran jauh lebih tinggi lewat mandatori B50 yang ditopang dana sawit. Kenaikan serapan minyak kedelai domestik Argentina akan menjadi salah satu faktor yang dipantau pasar minyak nabati global, termasuk para pelaku sawit. Perkembangan regulasi biodiesel dapat diikuti di halaman regulasi.

Sumber & Referensi