Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Kebijakan

APROBI: B50 Butuh Tambahan Kapasitas Biodiesel 2 Juta KL, Kebutuhan Diproyeksikan 19,5 Juta KL

APROBI menghitung kapasitas biodiesel perlu naik dari sekitar 22 juta KL menjadi 24 juta KL untuk B50, sementara Pertamina Patra Niaga menyiapkan tangki FAME lebih besar di sejumlah terminal.

Pabrik biodiesel dengan reaktor, jaringan pipa, dan tangki penyimpanan di dekat kebun sawit
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menghitung industri biodiesel nasional membutuhkan tambahan kapasitas terpasang sekitar 2 juta kiloliter (KL) agar mandatori B50 dapat terpenuhi. Wakil Ketua Bidang Riset dan Teknologi APROBI Jummy Bismar Martua Sinaga menyebut kebutuhan biodiesel saat B50 diperkirakan mencapai 19,5 juta KL, sehingga kapasitas total idealnya dinaikkan menjadi 24 juta KL dari posisi saat ini sekitar 22 juta KL.

Paparan tersebut disampaikan dalam seminar nasional bertajuk "Implementasi Program Biodiesel B50, Peluang, Tantangan dan Strategi Nasional" yang digelar Investortrust di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis, 30 April 2026. Dalam forum yang sama, Pertamina Patra Niaga mengungkap kebutuhan tangki penyimpanan FAME yang lebih besar di sejumlah terminal.

Kapasitas terpasang 22 juta KL, efektif hanya sekitar 81%

Menurut Jummy, seperti dilaporkan Investortrust, kapasitas terpasang nasional memang sekitar 22 juta KL, tetapi kemampuan produksi efektifnya hanya sekitar 81% karena standar teknologi yang lebih ketat. Dari hitungan itu, ia menyimpulkan kapasitas total perlu dinaikkan hingga 24 juta KL, atau bertambah sekitar 2 juta KL.

APROBI juga memetakan kekurangan pasokan jangka pendek. Untuk sisa semester II 2026, setelah B50 dimulai pada Juli, masih ada selisih sekitar 940 ribu KL yang tengah dikaji bersama pemerintah. Jummy optimistis celah tahun ini dapat ditutup dengan memanfaatkan kelebihan kapasitas yang ada. Tantangan lebih besar diperkirakan muncul pada Januari 2027, ketika kebutuhan diproyeksikan bertambah hampir 4,2 juta KL, setara tambahan bahan baku CPO sekitar 3,1–3,2 juta ton.

Soal waktu, Jummy menjelaskan pembangunan pabrik baru yang berdiri sendiri (independen) membutuhkan lebih dari dua tahun, sementara perusahaan terintegrasi dapat memperluas kapasitas lebih cepat di lahan yang sudah tersedia.

Angka kapasitas APROBI sendiri pernah disampaikan berbeda. Pada April 2025, Sekretaris Jenderal APROBI Ernest Gunawan menyebut kapasitas terpasang anggota sekitar 24 juta KL dengan utilisasi 80–85% karena faktor downtime dan perawatan, sehingga kapasitas nyata sekitar 20 juta KL, seperti dikutip Fortune Indonesia. Perbedaan ini kemungkinan terkait waktu dan cakupan penghitungan. Daftar produsen dapat dilihat di direktori produsen biodiesel.

Pertamina siapkan tangki FAME lebih besar

Dari sisi hilir, VP Business Development & Subsidiary Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengatakan perusahaan sedang memetakan seluruh sarana dan prasarana untuk B50. Sebagian lokasi perlu tangki penyimpanan baru, dan tangki yang ada perlu diperbesar karena porsi FAME dalam campuran meningkat, menurut laporan Investortrust.

Kendala utamanya adalah lahan. Sejumlah terminal tidak memiliki ruang untuk ekspansi, sementara lahan di sekitarnya tidak selalu bisa dibeli. Sigit menyebut terminal Baubau di Sulawesi sebagai contoh lokasi dengan kapasitas sangat terbatas. Ia juga memaparkan bahwa baru sekitar 35 terminal utama Pertamina yang dapat menerima FAME langsung dari produsen biodiesel. Terminal di daerah terpencil menghadapi kendala akses distribusi sehingga biodiesel harus dikirim dalam kondisi sudah tercampur.

Dampak ekonomi versi pemerintah

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan, dalam forum yang sama, memaparkan klaim manfaat program biodiesel. Penghematan devisa dari berkurangnya impor BBM disebut Rp133,3 triliun pada 2025 dan diproyeksikan Rp139,8 triliun pada 2026. Efisiensi anggaran disebut minimal Rp48 triliun, sementara nilai tambah CPO diperkirakan naik dari Rp20,92 triliun pada 2025 menjadi Rp21,94 triliun pada 2026.

IndikatorAngkaSumber pernyataan
Kebutuhan biodiesel B5019,5 juta KLAPROBI (proyeksi)
Kapasitas terpasang saat ini± 22 juta KLAPROBI
Kapasitas efektif± 81%APROBI
Kapasitas total yang dibutuhkan24 juta KLAPROBI
Kekurangan semester II 2026± 940 ribu KLAPROBI
Tambahan kebutuhan Januari 2027± 4,2 juta KLAPROBI (proyeksi)

Sumber & Referensi