Selasa, 13 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Internasional

TEI 2026 Hadirkan Sawit dan Biodiesel di Tengah Buyer dari 113 Negara

TEI 2026 menghadirkan APROBI, BPDP, APOLIN, dan produsen biodiesel dalam pameran yang diikuti buyer dari 113 negara.

Ilustrasi pertemuan bisnis produk sawit dan biodiesel dalam pameran perdagangan internasional
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober di ICE BSD City akan menghadirkan rantai nilai sawit Indonesia melalui kategori CPO, produk turunan CPO, dan minyak nabati. Direktori resmi pameran juga mencantumkan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), serta perusahaan yang mengoperasikan pabrik biodiesel.

Kehadiran tersebut membuat pameran dagang ekspor terbesar Indonesia itu relevan bagi industri sawit dan biodiesel, meskipun TEI bukan pameran khusus energi. TEI ke-41 mengusung tema The Ultimate Hub for Global Sourcing dan menargetkan potensi transaksi US$17,5 miliar.

APROBI dan industri biodiesel masuk direktori

Hasil pencarian “biofuel” dan “biodiesel” pada direktori resmi TEI menampilkan APROBI sebagai peserta di Hall 3A, Booth 3A-5. Profil tersebut menjelaskan APROBI sebagai asosiasi industri yang mewakili perusahaan produsen bahan bakar nabati terbarukan, khususnya biodiesel dan bioetanol.

Direktori juga menampilkan PT Jhonlin Agro Raya di Hall 5, Booth 5-3. Profil perusahaan pada situs TEI menyebut operasinya mencakup pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton per jam, pabrik biodiesel 1.500 ton per hari, dan pabrik minyak goreng 250 ton per hari.

BPDP tercatat di Hall 3A, Booth 3A-5 dengan kategori pertanian, CPO, produk turunan CPO, dan minyak nabati. APOLIN berada pada lokasi booth yang sama dengan kategori bahan kimia, turunan CPO, dan produk kimia organik. Susunan peserta tersebut menunjukkan bahwa bagian rantai nilai sawit hadir dari bahan baku, oleokimia, hingga biofuel.

Namun, biodiesel tidak ditampilkan sebagai zona utama tersendiri. Lima zona resmi TEI adalah makanan, minuman dan pertanian; produk manufaktur; kawasan industri; fesyen dan kerajinan; serta furnitur dan dekorasi rumah. Karena itu, kehadiran biodiesel sebaiknya dibaca sebagai bagian dari produk manufaktur dan hilirisasi sawit, bukan tema tunggal pameran.

Buyer 113 negara dan business matching

Kementerian Perdagangan menyatakan buyer dari 113 negara telah mendaftar hingga 29 September 2026. Sebanyak 1.533 pelaku usaha Indonesia juga terdaftar sebagai ekshibitor per 25 September. Buyer asing terbanyak berasal dari India, disusul Tiongkok, Nigeria, Malaysia, dan Mesir.

TEI menyediakan pertemuan satu lawan satu yang dikurasi antara pembeli internasional dan eksportir Indonesia. Penyelenggara mencocokkan peserta berdasarkan minat produk, kebutuhan pasokan, sektor industri, dan tujuan bisnis. Kemendag juga telah menjalankan 17 sesi presentasi bisnis dan persiapan business matching dengan perwakilan RI serta perwakilan perdagangan di luar negeri hingga 21 September.

Bagi pelaku sawit hilir, format ini membuka ruang untuk memperkenalkan CPO, bahan kimia berbasis sawit, dan biofuel kepada calon mitra. Namun, tercantumnya peserta dalam direktori belum membuktikan adanya kontrak atau transaksi. Hasil konkretnya baru dapat dinilai dari pengumuman resmi selama dan setelah pameran.

Sawit menjadi produk dengan permintaan tinggi pada TEI 2025

Kemendag mencatat TEI 2025 menghasilkan potensi transaksi US$22,83 miliar, dengan 1.619 ekshibitor, 8.045 buyer, dan 34.550 pengunjung. Minyak sawit dan produk turunannya termasuk kelompok produk yang memperoleh permintaan cukup tinggi pada penyelenggaraan tersebut.

Rekam jejak itu memberi dasar bagi pelaku sawit untuk kembali memanfaatkan TEI sebagai kanal ekspor. Untuk sektor biodiesel, peluangnya tidak hanya berupa perdagangan bahan bakar jadi. Pertemuan bisnis juga dapat berkaitan dengan bahan baku, teknologi pabrik, produk samping seperti gliserin, logistik, sertifikasi, dan kemitraan investasi—sepanjang kebutuhan tersebut benar-benar muncul dalam pertemuan peserta.

Analisis Media Biodiesel: TEI 2026 dapat memperluas jejaring internasional industri biofuel Indonesia, tetapi indikator keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah peserta. Hal yang perlu dipantau adalah adanya buyer yang teridentifikasi, kontrak ekspor, nota kesepahaman, atau investasi yang secara spesifik menyebut biodiesel dan produk hilir sawit. Media Biodiesel akan menilai kebutuhan artikel lanjutan setelah hasil transaksi dan kerja sama diumumkan.

Sumber & Referensi