Selasa, 13 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Internasional

USDA Pangkas Proyeksi Produksi Sawit Indonesia 2,2 Juta Ton

USDA memangkas proyeksi produksi minyak sawit Indonesia 2026/27 menjadi 45 juta ton dan ekspor menjadi 21,6 juta ton.

Ilustrasi terminal ekspor minyak sawit Indonesia dengan tangki penyimpanan dan kapal tanker
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memangkas proyeksi produksi minyak sawit Indonesia untuk tahun pemasaran 2026/27 sebesar 2,2 juta ton, dari 47,2 juta ton menjadi 45 juta ton. Dalam laporan Oktober yang dirilis 9 Oktober 2026, USDA juga menurunkan proyeksi ekspor Indonesia sebesar 1,9 juta ton, dari 23,5 juta ton menjadi 21,6 juta ton.

Revisi itu menjadi perubahan terbesar dalam tabel minyak sawit USDA bulan ini. Karena Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar, koreksi tersebut ikut menekan proyeksi pasokan, perdagangan, dan stok minyak nabati dunia. Angka USDA merupakan proyeksi berbasis tahun pemasaran dan tidak sama dengan realisasi bulanan industri di Indonesia.

Produksi dan ekspor Indonesia menjadi pusat revisi

Laporan Oilseeds: World Markets and Trade USDA menunjukkan proyeksi produksi minyak sawit global 2026/27 turun dari 81,121 juta ton pada September menjadi 78,921 juta ton pada Oktober. Seluruh penurunan bersih 2,2 juta ton itu berasal dari koreksi produksi Indonesia, sementara proyeksi Malaysia dipertahankan 19,6 juta ton.

USDA menyebut ekspor minyak sawit Indonesia diturunkan karena produksi yang lebih rendah. Proyeksi ekspor global ikut dipangkas dari 45,261 juta ton menjadi 43,747 juta ton. Penurunan ekspor Indonesia sebesar 1,9 juta ton hanya sebagian diimbangi kenaikan proyeksi ekspor Malaysia sebesar 300 ribu ton dan Guatemala sebesar 125 ribu ton.

  • Produksi Indonesia: 47,2 juta ton menjadi 45 juta ton.
  • Ekspor Indonesia: 23,5 juta ton menjadi 21,6 juta ton.
  • Stok akhir Indonesia: 4,066 juta ton menjadi 3,766 juta ton.
  • Konsumsi domestik Indonesia: tetap 23,725 juta ton.

Di sisi negara pembeli, USDA menurunkan proyeksi impor India dari 8,7 juta ton menjadi 8,4 juta ton, China dari 3,9 juta ton menjadi 3,7 juta ton, Bangladesh dari 1,725 juta ton menjadi 1,4 juta ton, serta Vietnam dari 1,175 juta ton menjadi 940 ribu ton. Keterangan USDA mengaitkan sejumlah revisi impor tersebut dengan berkurangnya perdagangan bersama Indonesia.

Pasokan minyak nabati dunia ikut menyusut

Dalam laporan World Agricultural Supply and Demand Estimates atau WASDE Oktober, USDA menurunkan proyeksi produksi minyak nabati dunia 2026/27 dari 245,36 juta ton menjadi 243,16 juta ton. Perdagangan dipangkas dari 92,13 juta ton menjadi 90,76 juta ton, penggunaan total dari 238,58 juta ton menjadi 237,31 juta ton, dan stok akhir dari 30,80 juta ton menjadi 29,92 juta ton.

Khusus minyak sawit, stok akhir dunia diproyeksikan 13,697 juta ton, turun 775 ribu ton dibanding proyeksi September. USDA menjelaskan bahwa stok minyak nabati global yang lebih rendah terutama mencerminkan koreksi minyak sawit Indonesia dan India.

Namun, laporan yang sama mencatat harga ekspor minyak sawit Indonesia dan Malaysia turun tajam menjelang penerbitan WASDE. USDA mengaitkannya dengan stok yang melimpah, produksi bulanan Malaysia yang kuat, dan pelemahan harga minyak bumi. Dengan demikian, revisi neraca 2026/27 belum otomatis berarti harga segera naik; pasar juga merespons kondisi stok dan produksi jangka pendek.

Implikasi bagi Indonesia

Bagi Indonesia, kombinasi produksi yang dipangkas, ekspor yang lebih rendah, konsumsi domestik yang tetap, dan stok akhir yang menurun menunjukkan ruang pasokan yang lebih ketat dalam proyeksi USDA. Ini relevan ketika kebutuhan bahan baku domestik meningkat melalui mandatori biodiesel, tetapi USDA tidak menyatakan bahwa program B50 menjadi penyebab revisi produksinya.

Secara analitis, penurunan proyeksi ekspor dapat membatasi volume yang tersedia bagi pasar global apabila konsumsi domestik benar-benar bertahan pada 23,725 juta ton. Dampaknya terhadap harga CPO, harga tandan buah segar, dan pelaksanaan B50 tetap perlu dibaca bersama realisasi produksi Indonesia, stok bulanan GAPKI, permintaan negara importir, serta pergerakan harga energi.

USDA juga mengingatkan bahwa data stoknya menggabungkan tahun pemasaran lokal yang berbeda, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai posisi stok dunia pada satu tanggal yang sama. Proyeksi Oktober dapat kembali berubah pada laporan berikutnya ketika data panen, perdagangan, dan konsumsi baru tersedia.

Sumber & Referensi