Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Berita

Wilmar: B60 Butuh Kapasitas Biodiesel Baru, Utilisasi Pabrik Sudah Sangat Tinggi di B50

Group Head of Biofuels Wilmar Rahul Kale menilai kenaikan mandatori di atas B50 memerlukan pabrik baru, sementara pemerintah membidik B60 pada 2027.

Kompleks kilang minyak sawit dan biodiesel di pelabuhan dengan deretan tangki dan kapal tanker
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Jakarta — Wilmar menilai setiap kenaikan mandatori biodiesel Indonesia di atas B50 akan membutuhkan kapasitas produksi baru, karena utilisasi pabrik yang ada sudah sangat tinggi bahkan di level B50. Pandangan itu disampaikan Group Head of Biofuels Wilmar Rahul Kale dalam konferensi APPEC 2026 di Singapura, seperti dilaporkan S&P Global dan dimuat ulang UkrAgroConsult pada 14 September 2026, di tengah rencana pemerintah menerapkan B60 pada 2027.

Tantangan B60 ada di kapasitas

Menurut Kale, peningkatan campuran di atas B50 tidak bisa dipenuhi hanya dengan pabrik yang beroperasi saat ini. Ia menyebut pabrik biodiesel Indonesia sudah berjalan pada tingkat utilisasi yang sangat tinggi pada mandatori B50. Karena itu, langkah ke B60 akan memerlukan investasi tambahan.

S&P Global Energy Horizons memperkirakan permintaan biodiesel domestik dapat mencapai 13,85 juta ton pada 2026. Pada saat yang sama, kuota produksi 2026 yang disetujui disebut relatif tidak berubah di 15,646 juta kiloliter, atau sekitar 13,77 juta ton. Dengan kuota yang nyaris datar, ruang pertumbuhan permintaan dinilai sempit tanpa ekspansi produksi.

Angka kuota versi S&P tersebut berbeda dengan rentang kebutuhan FAME B50 yang disebut Kementerian ESDM pada Juli 2026, yakni 16,7–18 juta KL per tahun, seperti dilaporkan KabarBursa. Pembaca perlu mencermati perbedaan dasar penghitungan kedua angka ini.

Utilisasi: "sangat tinggi" versus 80%

Penilaian Wilmar soal utilisasi juga berbeda nuansa dengan data pemerintah. Pada Juli 2026, Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut kapasitas terpasang pabrik biodiesel aktif sekitar 22 juta KL per tahun dengan utilisasi sekitar 80%, sementara sisa 20% merupakan cadangan untuk perawatan rutin dan penyesuaian peralatan, menurut KabarBursa. Data produsen dapat dilihat di direktori produsen biodiesel.

IndikatorAngkaSumber
Permintaan biodiesel domestik 202613,85 juta ton (estimasi)S&P Global
Kuota produksi 2026 yang disetujui15,646 juta KL (± 13,77 juta ton)S&P Global
Kapasitas terpasang nasional± 22 juta KL/tahunKementerian ESDM
Utilisasi± 80%Kementerian ESDM
Kebutuhan FAME B5016,7–18 juta KL/tahunKementerian ESDM

Ekonomi program dinilai masih mendukung

Meski menyoroti keterbatasan kapasitas, Wilmar memandang keekonomian program biodiesel masih mendukung. Menurut laporan tersebut, harga solar saat ini lebih mahal daripada biodiesel, dan pungutan serta bea ekspor sawit turut membiayai program. Konsumsi biodiesel domestik yang lebih tinggi akan menambah permintaan minyak sawit di dalam negeri dan berpotensi mengurangi volume yang tersedia untuk ekspor.

Laporan S&P juga menyebut B50 diluncurkan pada 1 Juli untuk segmen PSO, sementara segmen non-PSO masih B40. Pemerintah sendiri menetapkan masa transisi tiga bulan, dengan target seluruh titik penyaluran penuh B50 mulai 1 Oktober 2026, seperti disampaikan Eniya kepada detikcom pada awal Juli.

Di luar biodiesel, Wilmar tengah mengevaluasi sektor etanol Indonesia yang mulai berkembang, termasuk bahan baku dari biomassa dan produk samping pengolahan gula. Perusahaan sudah terlibat dalam program mandatori etanol di India dan Australia dan melihat Indonesia sebagai pasar ekspansi potensial.

Pemerintah tetap bidik B60 pada 2027

Pernyataan Wilmar muncul ketika pemerintah menegaskan arah ke B60. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, di IndoEBTKE ConEx 2026 pada 2 September 2026, mengatakan setelah B50 diterapkan tahun ini, B60 akan mulai diterapkan tahun depan sesuai pernyataan Presiden Prabowo Subianto, seperti dilaporkan Kamar Dagang dan Industri Jerman-Indonesia (AHK Indonesia/EKONID).

Menurut laporan yang sama, B60 memerlukan pasokan CPO yang cukup serta kapasitas produksi FAME yang memadai karena diharapkan mencakup solar bersubsidi dan nonsubsidi. Eniya menyebut pemerintah masih menimbang apakah komponen nabati B60 sepenuhnya berupa FAME atau sebagian berupa hydrotreated vegetable oil (HVO). Kajian B60 oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan dijadwalkan selesai pada Desember 2026. Hingga akhir Agustus, penyaluran B50 melalui Pertamina dan badan usaha swasta disebut mencapai sekitar 80%, dengan Pertamina sendiri mendekati 90%.

Sumber & Referensi