Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Berita

Agrinas Palma Hidupkan Lagi Pabrik Biodiesel Rengat 600 Ribu Ton, Biaya di Bawah Rp300 Miliar

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara akan mereaktivasi pabrik biodiesel rusak di Rengat, Riau, berkapasitas 600 ribu ton per tahun dan menargetkan produksi paling lambat akhir 2027.

Pabrik pengolahan biodiesel tua dengan pipa berkarat dan tangki di tengah kebun sawit
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (3 bagian)

Jakarta — PT Agrinas Palma Nusantara akan mengaktifkan kembali pabrik biodiesel di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, yang berkapasitas 600 ribu ton per tahun, dengan biaya kurang dari Rp300 miliar. Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani menyatakan pabrik yang kini rusak itu ditargetkan kembali berproduksi paling lambat akhir 2027 untuk mendukung mandatori biodiesel B50.

Ghani menyampaikan rencana tersebut di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 6 Juli 2026. Menurut GEBRAK.ID, pernyataan itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI.

Perbaikan, bukan pabrik baru

Ghani menegaskan proyek ini bukan pembangunan pabrik dari nol. "Sebenarnya ini perbaikan saja, karena sudah rusak," katanya, seperti dikutip Katadata. Ia menyebut biayanya relatif murah, tidak sampai Rp300 miliar. Indonesia Business Post mengonversi angka itu menjadi sekitar US$18,5 juta.

Studi kelayakan (feasibility study) proyek telah rampung, dan proyek diperkirakan segera masuk tahap tender. Karena memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, perusahaan menargetkan pabrik beroperasi paling lambat pada akhir 2027.

Agrinas Palma, perusahaan perkebunan milik negara, memposisikan reaktivasi ini sebagai bagian dari penguatan hilirisasi sawit sekaligus penyerapan bahan baku sawit domestik yang lebih besar.

AspekKeterangan
LokasiRengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau
Kapasitas600 ribu ton per tahun
BiayaKurang dari Rp300 miliar (± US$18,5 juta)
StatusStudi kelayakan selesai, menuju tender
Target produksiPaling lambat akhir 2027

Menambah pasokan saat B50 berjalan

Rencana Agrinas muncul tepat ketika B50 mulai diterapkan. Mandatori yang menaikkan campuran dari B40 itu mulai berlaku 1 Juli 2026, menurut GEBRAK.ID. Juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia, pada 30 Juni, mengatakan fasilitas dari hulu hingga hilir, termasuk SPBU, lokasi pencampuran, dan distribusi, sudah siap, sementara peluncuran resminya menunggu jadwal Presiden, seperti dilaporkan Katadata.

Dalam skema B50, FAME berbasis minyak sawit mengisi 50% campuran dan sisanya solar fosil. Menurut GEBRAK.ID, tujuan kebijakan ini adalah mengurangi ketergantungan pada impor solar, meningkatkan pemanfaatan minyak sawit dalam negeri, memberi nilai tambah pada komoditas sawit, memperkuat ketahanan energi, serta menghemat devisa. Bagi Agrinas Palma, tambahan pabrik pengolahan berarti peluang menyerap lebih banyak bahan baku sawit domestik.

Dengan target operasi akhir 2027, pabrik Rengat belum akan berkontribusi pada pasokan B50 tahun ini. Proyek ini lebih relevan untuk kebutuhan pasokan tahun-tahun berikutnya. Daftar badan usaha produsen biodiesel saat ini dapat dilihat di direktori produsen biodiesel.

Bioetanol singkong ditargetkan 2030

Selain biodiesel, Agrinas Palma juga menyiapkan pabrik pengolahan singkong menjadi bioetanol yang ditargetkan rampung pada 2030. Menurut Indonesia Business Post, proyek ini bagian dari rencana perusahaan memperluas portofolio energi terbarukannya di luar biodiesel. Corporate Secretary Agrinas Palma Nusantara Bambang Agustian mengatakan perusahaan masih menyiapkan lahan dan mencari mitra investor strategis. Menurutnya, memproduksi singkong tanpa memiliki pabrik pengolahan tidak akan ada artinya, seperti dikutip Indonesia Business Post dan Katadata.

Katadata mencatat pemerintah tidak meluncurkan mandatori etanol 5% (E5) bersamaan dengan B50 karena pasokan etanol masih disiapkan. Menurut Anggia, Menteri ESDM ingin etanol dipasok dari produksi dalam negeri, bukan impor.

Sumber & Referensi