Jumat, 9 Oktober 2026 HIP Biodiesel Okt Rp15.072/liter HR CPO Okt US$1.042,15/MT TBS Riau Rp3.733,74/kg Mandatori B50 wajib
Kebijakan

ESDM: Masih Butuh 4 Pabrik Biodiesel Baru untuk B50, Kapasitas Terpasang Kini 22 Juta KL

Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut Indonesia butuh sekitar empat pabrik biodiesel baru berskala 500 ribu, meski kapasitas terpasang 22 juta KL sudah melampaui kebutuhan FAME B50.

Lokasi pembangunan pabrik biodiesel dengan rangka baja, crane, dan tangki baru dekat kebun sawit
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto peristiwa.
Daftar isi (4 bagian)

Jakarta — Kementerian ESDM menyatakan Indonesia masih membutuhkan sekitar empat pabrik biodiesel baru, masing-masing berskala sekitar 500 ribu, untuk menopang mandatori B50. Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi, dalam podcast Kementerian ESDM yang dikutip media pada Senin, 13 Juli 2026, memperkirakan pembangunan satu pabrik memakan waktu sekitar 1,5 tahun, sementara kapasitas terpasang nasional saat ini sekitar 22 juta kiloliter (KL) per tahun dengan tingkat pemakaian sekitar 80%.

Pernyataan ini muncul empat hari setelah pemerintah meresmikan implementasi B50 pada Kamis, 9 Juli 2026, di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Karawang, Jawa Barat, seperti dilaporkan Katadata.

Satuan 500 ribu: ton atau kiloliter?

Dua media mencatat satuan yang berbeda untuk kapasitas per pabrik. KabarBursa mengutip Eniya menyebut empat pabrik dengan skala kapasitas masing-masing 500.000 ton, sedangkan Katadata menuliskannya 500 ribu kiloliter. Kedua laporan tidak merujuk dokumen resmi yang memperjelas satuan tersebut, sehingga angka ini sebaiknya dibaca sebagai indikasi skala.

Eniya mengaitkan kebutuhan pabrik baru dengan ketersediaan bahan baku. Menurutnya, berdasarkan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, terdapat stok tambahan sawit sekitar 4 juta ton yang siap dialokasikan untuk energi tanpa mengganggu kebutuhan pangan. Ia menilai sisi hulu sudah aman, dan yang dibutuhkan kini adalah pabrik di sisi hilir. Menurut KabarBursa, Eniya juga menyebut penambahan empat pabrik otomatis akan menambah potensi investasi yang masuk.

Kapasitas 22 juta KL, kebutuhan FAME 16,7–18 juta KL

Berdasarkan audit terbaru yang dikutip KabarBursa, total kapasitas terpasang pabrik biodiesel aktif mencapai sekitar 22 juta KL per tahun, melampaui estimasi kebutuhan FAME untuk B50 sebesar 16,7–18 juta KL per tahun. Utilisasi sekitar 80%, sedangkan sisa 20% disebut sebagai cadangan untuk perawatan rutin dan penyesuaian peralatan.

Atas dasar itu, pemerintah menyatakan kesiapan B50 tidak lagi bergantung pada pembangunan pabrik baru. Fokus kebijakan bergeser ke optimalisasi aset yang ada: 26 pabrik biodiesel eksisting akan menjalani retrofitting agar pencampuran FAME 50% lebih stabil dari sisi mutu dan karakteristik kimia. Selain itu, tiga pabrik sedang dibangun oleh perusahaan anggota APROBI dan satu BUMN di sentra sawit Sumatra dan Kalimantan, menurut KabarBursa. Pabrik baru diarahkan dekat sumber bahan baku untuk menekan biaya logistik.

IndikatorAngka
Kapasitas terpasang nasional± 22 juta KL/tahun
Utilisasi± 80%
Kebutuhan FAME B5016,7–18 juta KL/tahun
Pabrik baru yang dibutuhkan± 4 unit, skala 500 ribu (ton/KL)
Waktu bangun per pabrik± 1,5 tahun
Pabrik eksisting yang di-retrofit26
Stok tambahan sawit untuk energi± 4 juta ton

Bergeser dari skenario lima pabrik 1 juta KL

Angka empat pabrik ini lebih kecil dibanding pernyataan setahun lalu. Pada 17 Juli 2025, Eniya menyebut Indonesia membutuhkan lima pabrik baru berkapasitas sekitar 1 juta KL per unit, dengan tiga pabrik saat itu sedang dibangun, seperti dilaporkan detikFinance. KabarBursa menulis skenario lima pabrik tersebut merupakan simulasi awal untuk distribusi pasokan antarwilayah, bukan tambahan kebutuhan kapasitas nasional. Daftar produsen saat ini tersedia di direktori produsen biodiesel.

Metanol jadi tantangan lain

Selain pabrik biodiesel, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut ketersediaan metanol sebagai salah satu tantangan B50. Usai peluncuran B50 di Cikampek, ia mengatakan kebutuhan metanol naik menjadi sekitar 2,5 juta ton per tahun. Pemerintah berencana membangun dua pabrik metanol: di Bojonegoro, Jawa Timur, berbahan baku gas dengan peletakan batu pertama dijadwalkan bulan ini, dan di Kalimantan Timur melalui hilirisasi batu bara, menurut Katadata.

Sumber & Referensi